Yuk Jaga Kesehatan Gigi Susu Sejak Dini! Supaya Bisa Terus Senyum Sampai Tua

2:46 AM

Gigi susu, kelihatannya memang sepele. Tapi, entah kenapa kebanyakan orang yang saya kenal selalu punya cerita seru dengan gigi susunya. Seperti halnya kenangan dengan mantan terindah yang rasanya terlalu sayang untuk dilupakan.

Pengalaman dengan gigi susu adalah pengalaman tak terlupakan. Salah satu yang mungkin masih kerap teringat mungkin moment-moment saat gigi susu tanggal. Selalu ada nilai nostalgia saat mengingat tanggalnya gigi susu. Ceritanya bisa sangat beragam. Ada yang lepas sendiri, ada yang diikat dengan benang lalu ditarik kuat, yang copot waktu lagi makan juga ada.

Sampai setua ini pun, saya masih kerap mengingat detik-detik saat saya kehilangan gigi susu seri saya. Gigi susu saya dulu sebenarnya lumayan sehat, tapi kemudian lantas patah dan menghitam karena saya terjatuh saat bermain kubangan. Saya terjatuh dengan gigi depan terantuk lantai, dan patahlah dia.

Selama beberapa tahun kemudian, saya harus berdamai dengan tampilan wajah yang nggak banget karena gigi seri yang patah itu. Foto-foto masa kecil saya, sayangnya masih menyimpan kenangan itu. Tiap kali saya melihat foto-foto nostalgia itu, teringatlah saya soal gigi susu itu.

Toh, nyatanya gigi susu hadir bukan sekedar sebagai bahan nostalgia saat dewasa. Gigi susu ini kecil tapi penting. Ini lah gigi yang menemani kita saat belajar makan, membantu kita belajar bicara. Iya kan?

Saya sebelumnya juga nggak terlalu sadar soal peran gigi susu dalam proses tumbuh kembang anak manusia. Sampai beberapa bulan lalu, saya mengikuti mini talkshow kesehatan di RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Temanya, "Gigi Sehat Pendukung Tumbuh Kembang Anak" dengan narasumber drg Lasmi Dewi Nurnaini N, Sp.KGA. 

“Pada prinsipnya, ada tiga fungsi utama gigi susu, yaitu sebagai alat pencernaan pertama, lalu fungsi estetika (penampilan) dan selanjutnya fungsi bicara. Ada beberapa huruf yang dilafalkan dengan bantuan gigi seri. Nah kalau gigi seri rusak, tentu proses bicaranya juga terganggu,” kata dia. 

Jadi, kata Lasmi, merawat gigi susu harus dilakukan sedini mungkin bahkan kalau perlu sebelum si gigi tumbuh. Perawatan yang dimulai sedini mungkin memberi peluang bagi anak untuk memiliki mulut sehat dan gigi kuat sampai dewasa.

Gigi Susu, harus dijaga. Buat apa? 

Gigi susu itu, waktu tumbuh bikin anak rewel dan ibu senewen. Waktu gigi susu tanggal juga penuh drama. Jadi mikir kan ya? Kenapa sih manusia harus punya gigi susu segala. Langsung aja gigi dewasa gitu kenapa? Kan enak, nggak perlu drama ganti gigi.

Ternyata kan memang nggak ada yang tercipta sia-sia. Bahkan gigi susu, yang ukurannya mungil itu pun punya peranan penting. Sayangnya, masih banyak orang tua yang nggak terlalu peduli dengan kesehatan gigi susu. Dianggapnya gigi anak kalau grigis itu wajar. “Nanti juga ganti gigi dewasa!”

Padahal sebenarnya nggak sesederhana itu lho. Kesehatan gigi dewasa juga ditentukan dengan sehat tidaknya gigi susu. Lebih dari itu, profil wajah saat dewasa nanti juga ternyata dipengaruhi oleh kesehatan gigi susu. Itu sebabnya menjaga kesehatan gigi susu harus dilakukan sedini mungkin. Jadi sebenarnya gigi susu sehat buat apa sih?

1. Anak-anak memiliki ukuran rahang yang kecil. Berbeda dengan bagian tubuh lain yang bisa tumbuh dan berkembang, ukuran gigi tidak pernah berubah. Sejak pertama kali tumbuh sampai tanggal nanti ukuran gigi anak tetap sama. Nah, ukuran gigi susu memang sesuai dengan ukuran rahang anak yang kecil itu. “Bayangkan kalau yang tumbuh langsung seukuran gigi dewasa, rahang anak nggak mungkin cukup,” sebut Lasmi.

2. Gigi susu memberi panduan tumbuhnya gigi dewasa. Jadi, kalau gigi susu tanggal sebelum waktunya, saat gigi dewasa tumbuh, dia bingung tuh. Makanya ada gigi dewasa yang miring-miring kan? Tanpa panduan gigi susu, gigi dewasa tumbuh dengan memanfaatkan ruang yang tersedia. Kadang jadinya malah tumpang tindih dengan gigi dewasa lain.

3. Gigi susu juga penting buat membantu pertumbuhan rahang anak. Infeksi gigi susu berpengaruh pada perkembangan tulang rahang. Rahang yang berkembang tidak semestinya bakal berpengaruh pada pertumbuhan gigi dewasa dan profile wajah. Contoh sederhana ya, kasus gigi geraham dewasa yang tumbuh miring dan sering membuat rasa tidak nyaman karena gigi geraham menusuk bagian dalam pipi. Hal ini terjadi karena pertumbuhan rahang yang tidak optimal.

4. Infeksi gigi susu berpengaruh pada benih gigi dewasa. “Benih gigi susu terbentuk saat anak masih dalam kandungan ibu. Sementara benih gigi dewasa terbentuk saat gigi susu tumbuh. Nah kalau gigi susunya terinfeksi, benih gigi dewasa juga kena imbas infeksinya,” sebut Lasmi.
Efek yang terlihat pada gigi dewasa yang benihnya terkena imbas infeksi bisa bermacam-macam, mulai dari bercak putih, gigi berwarna kekuningan, hingga garis-garis coklat. Kerusakan yang umum terjadi pada gigi susu adalah early childhood caries. Bentuknya biasanya berupa bercak putih di pinggiran gigi yang dekat gusi. Bercak putih itu tidak bisa dihilangkan dengan menggosok gigi saja. Kalau dibiarkan tanpa penanganan, bercak putih itu akan mulai berwarna kekuningan, atau kecoklatan. Dan pada tahap lanjutan, karies itu menggerus gigi susu, sehingga ukuran gigi semakin kecil.

(Baca juga : Belajar Sikat Gigi)

Karies gigi paling sering terjadi pada gigi depan bagian atas. Sementara gigi bawah cenderung lebih tahan terhadap karies. Kok bisa? Ya karena gigi depan bawah memang lebih sering terendam susu ketimbang gigi bawah.

Coba deh perhatikan cara anak menyusu, untuk memudahkan menelan susu sekaligus menjaga supaya tidak tersedak, lidah anak biasanya maju ujtuk mengunci posisi dot atau payudara ibunya. Dengan begitu hanya bagian gigi atas saja yang terpapar langsung oleh susu. Kebiasaan anak menyusu saat mau tidur, membuat sisa susu melekat terus di gigi selama anak tidur. Meski ada air liur yang bisa membasuh, namun sisa susu yang mengandung gula seperti susu formula tetap tidak bisa dibersihkan seluruhnya.

Selain itu, beberapa kebiasaan (habit) juga bisa menyebabkan gigi anak mengalami early chilhood caries, yaitu :

  • Konsumsi makanan yang memiliki kandungan gula tinggi. Makanan yang bertepung, mengandung gula sederhana atau diproses dengan kombinasi gula dan tepung meningkatkan resiko karies gigi dini. 
  • Kebiasaan makan yang buruk, seperti mengunyah terlalu lama, atau mengemut makanan. 
  • Jarang minum air putih. Air putih berfungsi membasuh sisa-sisa makanan yang melekat di gigi. Selain itu, air putih juga berperan untuk mengurangi derajat keasamaan rongga mulut. Rongga mulut yang tinggi keasamaannya sangat kondusif untuk perkembang biakan bakteri. 
  • Kebersihan gigi dan rongga mulut yang tidak terjaga. Anak-anak memang belum mampu membersihkan gigi dan mulutnya, itu sebabnya perlu campur tangan orang tua atau pengasuh untuk menanamkan kebiasaan menggosok gigi secara teratur dan benar sejak awal. 


Jadi, setelah tahu kebiasaan apa saja yang dapat menyebabkan karies gigi dini pada anak, sekarang kita juga bisa mulai melakukan kebiasaan baik bukan?

1. Memperbaiki pola makan anak. 

Beri menu makan yang lebih beragam kepad anak. Beberapa kelompok makanan yang dikenal sebagai kelompok makanan kariogenik adalah jenis-jenis makanan yang sebaiknya dihindari atau dibatasi konsumsinya karena meningkatkan resiko karies gigi dini, yaitu permen, coklat, kue, biscuit, roti manis, dan makanan ringan.
Sebaiknya ramaikan menu makan anak dengan jenis-jenis makanan antikariogenik seperti, susu, keju, kacang tanah dan teh.

2. Menjaga jeda makan. 

Ini berkaitan dengan kebiasaan kita nyamil saat senggang, atau malah waktu sibuk kerja. Lagi sibuk kerja, dikejar tenggat waktu, kita menyempatkan diri buat nyamil. Mungkin maksudnya sih biar nambah energy. Tapi waktu senggang, daripada bengong terus kesambet setan, kita lebih memilih buat kesambet coklat. Waktu nyamil pun nggak tentu. Kadang sejam sekali, kadang setengah jam sekali.
Nah, kebiasaan kayak begini nih yang menurut Lasmi nggak bagus buat kesehatan rongga mulut kita. Alasannya, setelah makan, sebut saja sarapan, rongga mulut berada dalam kondisi asam. Memang sengaja begitu karena enzim pencernaan yang dikeluarkan dipakai untuk membantu mengolah makanan. Untuk mengembalikan derajat keasamannya menjadi normal kembali, rongga mulut membutuhkan waktu sekitar setengah sampai satu jam.
Jadi bayangin deh, kalau belum sampai setengah jam, mulut sudah kemasukan makanan lagi. Secara otomatis, rongga mulut akan terus menerus berada dalam tingkat keasamaan yang tinggi. Hal ini yang tidak baik buat gigi, karena asam menggerus gigi, sehingga mudah rusak dan bolong. Pilihan camilannya pun sebaiknya pilih yang lebih sehat seperti buah-buahan, bukan coklat atau biscuit manis.

3. Tanamkan kebiasaan makan yang baik.

Seperti tidak mengemut makanan dan memperbanyak minum air putih.

4. Hindari kebiasaan minum susu manis lewat botol semalaman. 

Kalau memang terbiasa meminum susu sebelum tidur, upayakan menggosok gigi setelahnya atau berkumur dengan air putih.

5. Hindari kebiasaan menggigit pensil, mainan atau kuku, serta kebiasaan menghisap ibu jari. 

6. Lakukan rutinitas menggosok gigi dengan benar. 

7. Rutin berkunjung ke dokter gigi. Manfaatkan dong BPJS-nya. 


Lalu bagaimana kalau karies gigi sudah terlanjur terjadi? Langkah pertama tentu saja segera kunjungi dokter gigi untuk dilakukan penanganan sesuai dengan tingkat karies. Lalu, langkah kedua, tentu saja lakukan kebiasaan yang baik untuk melindugi gigi anak. Karena menurut Lasmi, proses karies bisa terhenti bila gigi dan rongga mulut terjaga kebersihannya.

Hal-hal yang cukup sederhana bukan? Jadi, jangan lagi menyepelekan kondisi gigi susu. Menjaga gigi sehat sejak dini, merupakan investasi kesehatan untuk masa depan lho.

Semoga jadi tambah tahu ya.

You Might Also Like

4 comments

  1. Syediiihh mak Rafa giginya udah gigis dan keropos

    BalasHapus
  2. Hal sederhana tapi penting banget. Pas kecil dulu banyak yang luput nih, makanya gigiku nggak terlalu sesuai harapan, huhuhu.

    BalasHapus
  3. Ini penting banget..gigi rusak sungguh tak enak.

    BalasHapus
  4. Ini penting banget..gigi rusak sungguh tak enak.

    BalasHapus