Candi Plaosan, Candi Kembar Perlambang Penyatuan Cinta

candi-plaosan-candi-kembar

Kalau di India ada Taj Mahal sebagai perlambang cinta sejati. Di Jawa, simbol penyatuan cinta itu ternyata bisa dilihat di Candi Plaosan, Klaten. 

Saya pun baru tahu. 

Jadi ceritanya, akhir Juni 2022 kami mulai plesiran lagi. Sambil refreshing mengendurkan otak dan otot yang penat, sekalian juga ngajak Narend belajar di luar untuk project vlognya. 

Pilihan lokasi plesirannya sengaja nggak jauh-jauh, biar hemat. Hehehe. 

Tadinya kami merencanakan untuk berkunjung ke beberapa museum di Solo. Tapi karena saya ada agenda dadakan ke Jogja, jadilah kita putuskan untuk sekalian saja main ke candi-candi yang ada di Jogja. 

Kemana? Prambanan? Tentu tidak. Karena candi di jalur Jogja-Solo itu sebenarnya ada banyak. Nggak cuma Prambanan doang. 

Kalau lihat di google sih, di kawasan yang sejalur atau sekitaran Prambanan, ada beberapa candi lain seperti Kalasan, Sambisari, Plaosan, dan lainnya. Ditengok di map, jarak antar candi kelihatan dekat, tapi aslinya ya jelas nggak sedekat itu. 

Maka kami memutuskan untuk mampir ke candi mana saja yang mudah dijangkau. 

Plang petunjuk lokasi Candi Plaosan kebetulan saja ada di jalur Jogja-Solo yang kami lewati. Atas komando Narend, kami pun memutuskan untuk berbelok ke sana. Melewati gapura sederhana dan jalan desa yang nggak terlalu besar. 

Untung saja, petunjuk dari Google Map kali ini nggak menyesatkan. Hanya sekitar 5 sampai 10 menit dari jalan besar, bangunan Candi Plaosan mulai terlihat. 

Lokasi Candi Plaosan ada di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Jaraknya hanya sekitar 1,5 km saja dari Candi Prambanan. 

Dilihat sekilas dari bentuk bangunannya, Candi Plaosan, yang ternyata juga dikenal sebagai Candi Kembar ini, sepertinya bercorak Budha dengan puncak stupa. 

Pun begitu, bangunan keseluruhannya juga ada sentuhan Hindu yang mirip dengan Prambanan. 

Nggak seperti Prambanan yang megah dan dikelilingi pagar kokoh. Candi Plaosan berpagar sederhana. Lalu ada papan kayu penanda “Situs Candi Plaosan”

candi-plaosan-candi-kembar

Candi Plaosan terbagi dua, ada Plaosan Lor (utara) dan Plaosan Kidul (selatan). Lokasi keduanya terpisahkan oleh tanah warga. 

Candi Plaosan yang kami datangi ini adalah Plaosan Lor, kompleks candinya lebih luas dengan dua candi besar. Bentuk keduanya serupa. Mungkin ini alasan mengapa Candi Plaosan juga dikenal sebagai candi kembar. 

Untuk memasuki kompleks candi, kita diwajibkan membayar tiket masuk Rp 10.000 per orang. Sekadar saran, sebaiknya sediakan uang pas supaya nggak lama menunggu petugas loket cari kembalian. 

Pasalnya, dari pengalaman kemarin, kami terpaksa menunggu lumayan lama di depan loket sambil menunggu petugas cari kembalian. Mau bayar pakai e-wallet juga nggak bisa. 

Ya udah terpaksa cari uang pecahan sambil belanja minum di warung sekitar kompleks candi. 

Untung saja, pengunjung candi ini nggak terlalu ramai. Jadi kesibukan petugas loket mencari kembalian nggak sampai membuat antrian pengunjung. 

Kelar urusan tiket masuk, kami pun mulai menelusuri kompleks candi. Ada juru potret yang stand by di jalan masuk sambil menawarkan jasanya. Biayanya murah juga, Rp 10.000 untuk dua cetak foto. Dia juga menawarkan diri untuk memotretkan kita menggunakan handphone. Tanpa biaya tambahan. 

candi-plaosan-candi-kembar

Kalau dilihat-lihat, nggak banyak tanaman rimbun di sekitar Candi. Tapi entah kenapa area ini rasanya lumayan adem walau sinar matahari bersinar cerah. Vibe candinya bikin nyaman pengunjung. 

Memasuki area Candi Plaosan Lor, kita bisa melihat reruntuhan candi-candi kecil. Sebagian besar sudah mulai tersusun, membentuk bangunan, tapi nggak sedikit juga yang hanya tersusun sebagian.

candi-plaosan-candi-kembar

candi-plaosan-candi-kembar

Di bagian tengah kompleks, terlihat candi utama yang ukurannya lumayan besar. Candi ini berpagar batu dan ada pahatan Batara Kala di gapura candi. 

Oh iya, kedua candi utama itu memiliki halaman terpisah dan dibatasi pagar batu. Tapi kita bisa memasuki area candi utama yang ada di sebelah melalui gerbang kecil di tengah. 

Masuk ke area candi utama, rasanya seperti masuk ke dimensi waktu yang berbeda. Entah ini karena saya yang sok sensitif atau memang begitulah kenyataannya. 

Yang jelas area candi ini bikin imajinasi saya melayang-layang membayangkan asri dan indahnya kompleks itu di masa lampau. Ada vibe yang bikin kita betah berada di sana. 

Halaman dua candi utama ini diselimuti rumput hijau yang cantik sekali. Areanya bersih dan eksotik. Instagramable banget. 

Dua candi utama, sebenarnya memiliki ruang yang cukup luas didalamnya. Sayang, ruangan dalam candi itu tertutup untuk wisatawan. Jadi memang nggak sembarangan dibuka. 

candi-plaosan-candi-kembar

Waktu main ke sana, kami mendapat penjelasan dari juru peliharan Candi Plaosan, Pak Gunawan, bahwa di dalam candi utama terdapat masing-masing 6 arca. 

candi-plaosan-candi-kembar

Candi utama bisa dimasuki dengan izin khusus seperti untuk kegiatan ibadah. Karena ini Candi Budha, banyak umat Budha yang rutin berdoa di sini. 

Candi Plaosan, Simbol Penyatuan Cinta 

Melihat bentuk Candi Plaosan yang setipe dengan Candi Prambanan, kita bisa berasumsi kalau masa pembangunan keduanya nggak jauh beda. 

Benar saja, dari keterangan Pak Gunawan, kompleks candi ini dibangun sekitar abad ke-9 di masa Rakai Pikatan menjadi raja di Medhang, atau yang lebih dikenal Kerajaan Mataram Kuno/ Mataram Hindu. 

Hal itu mengacu pada penafsiran ahli arkeolog Belanda bernama, Johannes Gijsbertus de Casparis terhadap Prasasti Cri Kahulunan (842 M)

Prasasti itu menyebutkan pembangunan Candi Plaosan oleh Ratu Sri Kahulunan Pramodhawardani. Dia adalah permaisuri Rakai Pikatan yang juga putri Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra. 

Pak Gunawan menjelaskan bahwa Candi Kembar adalah simbol penyatuan cinta antara Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu dengan Pramodhawardani dari Syailendra yang beragama Budha. 

Candi utama di bagian utara melambangkan candi pria. Sementara, candi utama di sebelahnya melambangkan candi wanita. 

Candi pria memiliki relief yang menggambarkan sosok-sosok laki-laki, dan candi wanita menampilkan banyak sosok perempuan. Selebihnya, kedua candi itu tampak serupa. Baik ukuran maupun bentuk utuhnya. 

Masih berdasarkan penuturan Pak Gunawan, kompleks candi seluas sekitar 3 hektare yang dibangun untuk merayakan penyatuan cinta antara dua wangsa besar itu juga dikeliling oleh ratusan candi kecil. Disebut candi perwara. 

candi-plaosan-candi-kembar

Candi perwara ini punya dua bentuk. Yaitu Candi Perwara Budha yang memiliki puncak stupa dan Candi Perwara bercorak Hindu. 

Konon candi-candi perwara ini melambangkan jumlah tamu undangan dari dua wangsa, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Tiap “tamu undangan” diwakili oleh satu candi. 

candi-plaosan-candi-kembar

Tamu dari Pramodhawardani diwakili dengan candi perwara budha, sementara tamu Rakai Pikatan diwakili oleh candi perwara hindu. 

Saat pertama kali ditemukan sekitar 70 tahun silam, hampir semua candi perwara roboh. 

Proses eskavasi dan pemugaran dilakukan bertahap, hingga sekarang ada sekitar 226 candi perwara. 58 merupakan candi perwara Hindu, 116 candi perwara Budha dan 52 sisanya sedang dalam proses pembangunan kembali. 

Selain dua candi utama dan ratusan candi perwara, di kompleks Candi Plaosan juga ditemukan parit kuno sedalam 3 hingga 4 meter. Sejak mulai digali tahun 2011 sudah ditemukan 12 parit di bagian barat dan timur candi. 

Saat kami berkunjung waktu itu, di sisi utara candi utama, terlihat beberapa pekerja sedang melakukan eskavasi batu-batu candi pewara. Setiap batu dikelompok-kelompokan berdasarkan kategori tertentu. 

candi-plaosan-candi-kembar

candi-plaosan-candi-kembar

Kalau kata Pak Gunawan sih, untuk memudahkan proses pemugaran, mereka harus memastikan dulu, batu yang ini merupakan sisa dari candi yang mana. Supaya bisa dibangun ulang. 

Di sebelah utara area pemugaran candi perwara, ada pula bangunan Mandapa. Kalau istilah sekarang mungkin disebut pendopo. Tempat para peziarah berkumpul dan berdoa. 

candi-plaosan-candi-kembar

candi-plaosan-candi-kembar

Bangunan Mandapa lumayan luas dengan atap terbuka. Di bagian sudut dan tengah terlihat batu berlubang yang diduga dulu merupakan tempat tiang sangga Mandapa. 

Ada undakan untuk naik yang lumayan tinggi dan kalau mau naik ke area Mandapa diwajibkan untuk melepas alas kaki ya, sebagai bentuk adab dan sopan santun. 

candi-plaosan-candi-kembar

Di sini juga tersusun 23 arca Budhis. Salah satunya adalah Arca Jambhala

Dalam tradisi Budhis, Jambhala diyakini sebagai sosok Bodhisatwa yang memiliki praktik dan mantra untuk menghapus kemiskinan dan memberi berkah kestabilan keuangan. Atau dalam istilah mudahnya seperti dewa kekayaan dan kemakmuran. 

Di tradisi Hindu, Jambhala juga dikenal sebagai Kubera/ Kuwera. Sosok dewa kekayaan yang arcanya sering digambarkan memakai banyak perhiasan dan membawa periuk koin. 

Sosok Kubera tertulis dalam epos Ramayana. Di kisah itu, sosok Kubera adalah saudara tiri Rahwana yang menguasai Alengka sebelum disingkirkan Rahwana. 

Dia dikenal sebagai raja yang sangat kaya dan berhasil memakmurkan Alengka. 

candi-plaosan-candi-kembar

Secara keseluruhan, Candi Plaosan sangat direkomendasikan untuk dikunjungi. Area kompleks candi ini nyaman, dengan hamparan rumput hijau yang rapi. 

Waktu kami ke sana, ternyata banya pasangan yang memakai tempat ini sebagai lokasi pemotretan pre wedding. Vibe tempatnya memang romantis. Mungkin juga masih memancarkan aura cinta pasangan Rakai Pikatan dan Pramodhawardani ya. 

Pun begitu, tentu saja kita nggak bisa mengharapkan fasilitas publik yang lengkap di sana. 

Saya nggak menemukan toilet di dalam kompleks candi. Kalau mau ke toilet, ada toilet umum yang dikelola warga di depan kompleks candi. 

Di bagian depan kompleks juga banyak warung makan, dan souvenir yang jumlahnya bisa dihitung pakai jari dan dibangun sederhana seadanya. 

Begitupun area parkir khusus pengunjung juga belum ada. Para pengunjung umumnya memarkir kendaraan di bagian depan kompleks candi. Tapi nggak masalah juga sih, karena pengunjung disana juga sepertinya belum terlalu banyak.

Semoga jadi tambah tahu ya.

Tidak ada komentar