Review & Sinopsis Film Srimulat : Hil Yang Mustahal

film-srimulat-hil-yang-mustahal

Nonton Film Srimulat : Hil Yang Mustahal, benar-benar bikin saya bernostalgia ke masa kecil, masa kejayaan Srimulat. 

Iya, saya emang sudah tua. Saya lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak saat Srimulat sedang moncer-moncernya. Dulu, siapa nggak kenal Gepeng, Asmuni, Tarsan, Basuki dan kawan-kawannya? 

Waktu itu, Srimulat bisa dibilang “Raja Komedi”. Sebuah fenomena di dunia hiburan. Candaannya sangat lokal dan sangat “jawa”, tapi bisa diterima dan dinikmati se-Indonesia. 

Siapa sih yang nggak ketawa ngakak kalau nonton Srimulat? Wong Presiden zaman itu aja kesengsem lihat Srimulat. Srimulat itu, sampai bolak balik diundang ke istana negara cuma buat bikin keluarga Cendana ketawa. Luar biasa Srimulat di masa itu. 

Tapi itu terjadi puluhan tahun lalu. Seingat saya, di tahun 90-an, pamor grup ini mulai pudar. Personelnya sibuk sendiri-sendiri. Beberapa kali sempat comeback tapi itu tak pernah berlangsung lama. Mungkin candaan mereka nggak relate dengan candaan generasi masa kini? 

Makanya, waktu saya dengar kabar soal film Srimulat beberapa waktu lalu, saya agak harap-harap cemas. Jujur, saya nggak yakin film ini akan berhasil. Karena memunculkan karya di bawah bayang-bayang nama besar Srimulat pasti bukan hal yang mudah. 

Asumsi saya, kalau mau mengembalikan nama dan kenangan Srimulat, film ini haruslah digarap sangat matang dan dibuat relate dengan trend masa kini. Jadi, awalnya saya nggak berani berekspektasi banyak dengan film ini. 

Lhaa pas trailer-nya muncul, dengan setting Solo masa lalu, kok keren. “Wuih, kayaknya bakal beda nih. Bagus nih. Logat jawa-nya juga kental banget. Nggak canggung. Menarik.” 

Mungkin jodoh, tahu-tahu saya dapat kesempatan dari Blogger Crony buat ikut hadir di acara Nobar film Srimulat di Solo yang dihadiri oleh para cast film Srimulat, sutradara Fajar Nugros dan keluarga mantan personel Srimulat yang ada di Solo. Rame banget. 

film-srimulat-hil-yang-mustahal

Tapi kali ini saya nggak pengin cerita soal keseruan nonton barengnya. Saya pengin cerita tentang film-nya aja, yang ternyata sangat jauh diluar ekspektasi. 

Jadi gimana sih film Srimulat : Hil Yang Mustahal? 

Menurut saya Film Srimulat: Babak Pertama, bertajuk Hil Yang Mustahal ini, hadir di saat yang tepat. Timing penayangan bioskop yang dilakukan persis saat pandemi mulai reda, bikin orang lebih antusias. Film ini seperti sengaja hadir buat menghibur orang-orang yang stress selama 2 tahun kemarin karena nggak bisa keluar rumah. 

Orang-orang, termasuk saya, memang lagi butuh tontonan yang bikin senyum dan semangat lagi. Dan film ini jawabannya. 

Lawakan Srimulat Belum Kadaluarsa 

Sungguh, saya nggak nyangka kalau candaan jadul Srimulat ternyata masih sukses bikin saya ngakak. Bukan sekadar ketawa lho ya, tapi beneran ngakak. 

film-srimulat-hil-yang-mustahal

FYI aja, penggambaran kisah Srimulat di film ini nggak 100% persis sama seperti kisah aslinya. Sutradara dan penulis skenario film, Fajar Nugros juga mengklaim kalau film ini merupakan adaptasi kisah perjalanan Srimulat yang di dramatisasi. Jadi nggak persis banget, ada banyak bumbu cerita yang ditambahkan. 

Sekarang kita cerita sinopsisnya dulu ya 

Sinopsis

Film Srimulat : Hil Yang Mustahal mengambil setting awal tahun 80-an, saat Srimulat masih manggung reguler di Balekambang Solo. Ketika itu, Aris yang dijuluki Gepeng (Bio One) karena badannya yang kerempeng, masih menjadi pemain gendang yang mengiringi lawakan Srimulat tiap kali manggung. 

film-srimulat-hil-yang-mustahal

Selain jadi pengendang, dia juga merangkap jadi tukang suruh-suruh. Yang rajin nempel poster promosi Srimulat. Walau begitu, Gepeng menyimpan hasrat untuk ikut bergabung dan manggung bareng Srimulat. 

Nah, supaya di-notice oleh pimpinan Srimulat dan penonton, Gepeng nekad nimbrung saat Srimulat manggung. Gepeng yang sebenarnya cuma punya job desc buat nabuh gendang pengisi musik latar, malah ikut menimpali candaan pemain yang lagi manggung. 

Celetukan Gepeng memang lucu, dan mengundang tawa penonton, tapi tindakan Gepeng itu juga dianggap lancang oleh personel Srimulat yang lain. Gepeng dinilai nggak sopan. 

Di saat bersamaan, pimpinan Srimulat, Pak Teguh (Rukman Rosadi) lagi kesal karena performa Srimulat di panggung mulai luntur. Beberapa lawakan yang ditampilkan anggota Srimulat nggak direspon bagus oleh penonton. 

Meski Pak Teguh juga menilai kelakuan Gepeng di panggung nggak sopan, tapi dia mengakui bahwa justru candaan Gepeng lah yang menyelamatkan pertunjukan Srimulat saat itu. Dia pun memutuskan untuk memberi kesempatan buat Gepeng. 

Bertepatan dengan itu, Srimulat dapat undangan untuk manggung di istana dan tampil di TVRI. Sebuah kesempatan besar yang istimewa dan langka. Srimulat pun mulai boyongan ke Ibukota. 

Karena masih penjajakan dan ada keterbatasan dana, nggak semua personel bisa langsung diberangkatkan. Pak Teguh memutuskan hanya mengirim beberapa dedengkot Srimulat ke Jakarta. 

film-srimulat-hil-yang-mustahal

Mereka adalah Asmuni (Teuku Rifnu Wikana), Basuki (Elang El Gibran), Timbul (Dimas Anggara), Tarzan (Ibnu Jamil), Kabul yang waktu itu namanya belum jadi Tessy (Erick Estrada), Nunung (Zulfa Maharani), Pak Teguh dan isterinya Djudjuk (Erika Carlina), serta Gepeng. Sementara itu Paul (Morgan Oey) dan Rohana (Naimma Aljufri) menyusul belakangan. 

Di Jakarta, Srimulat harus mulai semuanya dari nol. 

Di Solo, dan beberapa kota lain di Jawa, Srimulat mungkin sudah terkenal. Tapi di ibukota, mereka bukan siapa-siapa. Tidak ada yang mengenal apalagi mengelu-elukan mereka. Kalau istilah jawanya sih, Srimulat rombongan pertama ini lagi babat alas. Berusaha menaklukan Ibukota. 

Butuh perjuangan ekstra keras untuk bertahan di Jakarta, di dunia hiburan pula. Bukan hanya perkara budaya yang berbeda. Urusan kendala komunikasi juga jadi masalah penting yang harus mereka hadapi, karena ternyata tak satupun personel Srimulat ini fasih berbahasa Indonesia. 

Pelik sih, tapi kesalah pahaman akibat cara komunikasi ini juga sukses diramu jadi lawakan yang lucu. 

Oke lanjut… 

Di Jakarta, para personel Srimulat tinggal di kontrakan Babe Makmur (Rano Karno), seorang Betawi tulen yang beneran makmur karena punya banyak tanah dan rumah kontrakan. 

film-srimulat-hil-yang-mustahal

Babe Makmur tinggal berdua dengan anak semata wayangnya yang cantik, bernama Royani. Sudah bisa ditebak, kalau ada gadis cantik gini pasti ada bumbu romansa. 

Nah berhubung film ini meng-highlight sosok Gepeng, kisah romansanya pun melibatkan Si Gepeng. Bagian yang ini jelas rekaan ya. Kalau cerita aslinya sih, saat mulai merantau ke Jakarta Si Gepeng sudah menikah dan punya anak. 

Nah, salah satu konfliknya nanti akan bermula dari Gepeng yang lagi kesengsem berat dengan Royani ini. Bahkan gegara persoalan ini, Gepeng hampir saja didepak dari Srimulat. 

Kok bisa? Ntar nonton aja filmnya. 

Hil Yang Mustahal 

Mungkin sudah banyak yang tahu, celetukan Hil Yang Mustahal adalah ciri khas Asmuni saat manggung. 

Saya berasumsi, istilah ini dicuplik jadi judul karena menggambarkan mimpi dan perjuangan seniman daerah dalam menaklukan ibukota, hingga akhirnya tampil di stasiun TV nasional dan dikenal seantero negeri. Sebuah hal yang dianggap mustahil tapi ternyata benar-benar bisa jadi kenyataan. 

Nggak sekadar mengadaptasi mentah-mentah tentang kisah perjalanan Grup Lawak Srimulat, Fajar Nugros membuat kisah ini jadi lebih “hidup” dengan memadukan kisah biopik dengan unsur romansa, horror dan tentu saja komedi khas Srimulat. 

Kebanyakan film komedi Indonesia, menurut saya, sering terlalu bernafsu memasukan joke di setiap scene tanpa memperhatikan kesesuaiannya dengan jalan cerita. Istilah saya sih, ceritanya patah-patah. Hanya bisa dinikmati joke-nya tapi jangan berharap banyak dengan jalan ceritanya. 

Tapi Srimulat: Hil Yang Mustahal ini berbeda! 

Lawakan-lawakan lawas Srimulat, diselipkan dengan sangat mulus sepanjang film. Terasa natural dan realistis tapi tetap nyambung dengan alur ceritanya. Sebagai penonton, saya merasa terpuaskan dengan jalan cerita dan candaannya. 

Ya namanya juga film biopik grup lawak, sebagai penonton kita juga pasti mengharapkan banyak kelucuan di sini. Ekpektasi itu benar-benar terpuaskan sepanjang film. 

Candaan jadul khas Srimulat seperti mata yang nggak sengaja kecolok, atau melorot dari kursi saat mau duduk ternyata masih bikin ngakak. 

Uniknya, lawakan khas Srimulat itu malah nggak muncul dari karakter personel Srimulat. Tapi dilakukan oleh para cameo yang muncul sepanjang film. Buat saya, hal ini menengaskan kalau lawakan Srimulat memang canggih. Siapapun bisa ngelucu dengan banyolan Srimulat dan tetap lucu. 

Hal lain yang bikin saya salut dengan film ini adalah keberanian Fajar Nugros menggunakan dialog Jawa. Hampir 90% dialognya berbahasa Jawa khas Jawa Tengah-an, lho.

Untuk yang belum tahu, yang namanya bahasa jawa itu, walau sama-sama dipakai komunikasi oleh orang Jawa, punya banyak variasi logat dan kosakata. Jadi, bahasa jawa di Solo beda dengan bahasa jawa Surabaya. Bahkan bahasa jawa Yogya dengan Solo saja ada banyak perbedaan. 

Nah ini nih yang keren. Karena Srimulat berasal dari Solo dan setting film ini juga di Solo, para cast-nya pun berbicara dalam Bahasa Jawa Tengahan yang medok banget. Saya yang lama tinggal di Solo, nyaris nggak nyangka kalau sebagaian besar cast sebenarnya nggak bisa Bahasa Jawa. 

Bagaimana Akting Para Cast? 

Harus diakui, bagian ini juga patut diacungi jempol. Tokoh-tokoh di film ini menampilkan personel Srimulat bukan dalam karakter asli mereka, tapi karakter tokoh yang ditampilkan di panggung. Makanya saya sebagai penggemar Srimulat berasa relate banget pas nonton. Rasanya benar-benar terkenang dengan Srimulat. 

Transformasi para cast emang jempolan, khususnya untuk karakter Gepeng dan Basuki. Secara fisik, karakter mereka memang cuma dimirip-miripin, tapi gesture dan cara berbicaranya persis seperti tokoh asli. 

film-srimulat-hil-yang-mustahal


film-srimulat-hil-yang-mustahal

Elang sebagai Basuki pantas dinobatkan sebagai scene stealer karena penjiwaan karakternya yang bagus. Mulus aja tuh dia menampilkan sosok Basuki yang sengak, dan sok tahu. Berasa lihat Basuki hidup lagi. 

Selain itu Morgan yang berperan jadi Paul juga lumayan mencuri perhatian saya. Dialognya memang nggak banyak tapi penampilan dan gesture-nya mirip banget dengan Paul asli. Saya awalnya malah nggak tahu kalau yang jadi Paul itu sebenarnya Morgan. Soalnya beda banget dengan Morgan yang selama ini kita tahu. 

Lalu, mana scene yang paling memorable? 

Kalau ditanya begini, susah milihnya. Film ini bagus, hampir semua scene mengesankan. Seperti adegan ketika mata kecolok itu. Tapi yang matanya kecolok bukan anggota Srimulat lho, matanya Babe Makmur. Gitu kok masih lucu ya? 

Adalagi adegan saat para anggota Srimulat ketakutan karena kontrakan mereka dihantui. Lalu memanggil dukun buat melakukan ritual pengusiran hantu. Wah bagian itu jokenya bertubi-tubi deh. 

film-srimulat-hil-yang-mustahal

Lalu ada juga tuh, adegan saat para anggota mau dilukis untuk bikin poster di Pasar Senen. Astaga… scene yang itu khas Srimulat banget deh. Masalah sepele dibikin ribet dan lucunya pooolllll. 

film-srimulat-hil-yang-mustahal

Yang kayak gini nih yang pantas dibilang komedi cerdas. Cerita keseharian yang sederhana bisa diambil angle lucu dan eksplorasinya total. Candaannya diselipin dengan cerdas jadi nyambung, dan malah makin memperkuat jalan ceritanya. 

Saya juga suka dengan bagian ketika tiap tokoh melakukan pencarian karakter panggung yang bakal jadi ciri khas mereka. Dalam pencarian itu, kita bisa melihat sedikit konflik batin yang dialami para tokoh. 

Misalnya seperti Kabul yang insecure dengan penampilannya yang nggak istimewa. Dia sepertinya punya beban untuk tampil lucu, tapi merasa nggak punya ciri khas. Pergulatan batinnya membawa Kabul menemukan sosok “Tessy” yang melambai dengan aksesoris batu akik. 

Hal yang sama juga terjadi dengan Tarzan. Ada quote yang bagus di bagian itu, bahwa nggak semua pelawak harus kelihatan lucu. Ada juga pelawak yang harus berperan sebagai pemancing teman-temannya supaya bisa tampil lucu. 

film-srimulat-hil-yang-mustahal

Tapi……. 

Walau ini film komedi, ada juga scene yang bikin saya hampir nangis lho. Kayaknya film ini mau bilang, “Ya begitulah hidup. Kita nggak selalu bisa ketawa. Tapi bahkan setelah kesedihan itupun tetap ada hal yang akhirnya bisa disyuluri dan ditertawakan.” 

Buat saya, Film Srimulat : Hil Yang Mustahal ini komplit. Satu-satunya yang bikin garing hanya adegan saat Srimulat manggung. Berasa cuma kayak scene tempelan aja. Nggak ada greget dan lucunya. 

Pun begitu, film ini layak dapat nilai 9/10. Jadi nggak sabar buat nunggu Film Srimulat Babak Kedua yang konon katanya juga bakal tayang di tahun ini. 

Semoga jadi tambah tahu.

7 komentar

  1. Nontoh ah ntar. Jadi sangat penasaran. Kayaknya bakal bisa mengurai keruwetan otak biar segar kembali.

    BalasHapus
  2. Saya yang tinggal di Makassar sewaktu masih kecil, sering nonton Srimulat di TVRI, Mak ... soalnya kan hiburan waktu itu kurang banget. Candaan ala Srimulat ini jadi salah satu penghibur waktu itu. Meski gak ngerti semua istilahnya karena bahasa Jawa ... ada juga yang bisa dimengerti dan bikin ketawa.

    BalasHapus
  3. pemain film srimulat hil yang mustahal keren semua aktor dan aktrisnya, bener-bener totalitas

    BalasHapus
  4. Saya juga generasi srimulat. Ingat banget Gepeng dengan body dan tawanya yang khas yang saya tonton di TV. Waktu itu standing up comedy juga belum ada kayaknya. Group lawak juga gak banyak. Nah kalau Srimulat hadir di TV wajib nonton. Alhamdulillah group mereka kembali ya walau dengan persona yang beda. Setidaknya candaan mereka masih khas Srimulat, yang kalau gak salah namanya berasal dari Istri pertama Pak Teguh, sang nakhoda group

    BalasHapus
  5. Setelah membaca review ini langsung nyari deh di Youtube. Dulu jarang banget nonton Srimulat, tapi ya tahu sedikit tentang mereka.

    BalasHapus
  6. Saya masih njamani nonton Srimulat di tv nemenin kakek saya. Tontonan itu jadi favorit kakek rahimullah. Jadi pengen nonton ah. Kalau di bioskop sudah nggak tayang bisa ditonton di mana, ya?

    BalasHapus
  7. Srimulat tontonan molly pas masih sd nih. Lucu banget pasti filmnya. Mau nonton ahh biar sekalian nostalgia

    BalasHapus