-->

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar Arti Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Desember 31, 2019

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten
Khayangan geger! Semar mengamuk dan mengobrak-abrik negeri para dewata itu. Bahkan Bathara Guru dan Kresna pun tak sanggup menahan murka Semar. Senjata pusaka dan ajian terampuh seantero jagad serasa kehilangan kesaktian di hadapan Semar. 
 .......... 

Cuplikan lakon carangan bertajuk ”Semar Mbangun Khayangan” itu membuat kening saya berkerut saat pertama kali menyaksikan kisahnya. Sebuah kisah yang hampir dipastikan tidak akan kita temui di kisah Mahabharata versi India. Bagaimana mungkin kawula alit macam Semar bisa memporak porandakan Khayangan dan menundukan Bathara Guru, Sang Penguasa Khayangan dan Kresna, yang diyakini sebagai perwujudan Wisnu?

Tapi Semar dan anak-anaknya, Gareng, Petruk dan Bagong yang lazim disebut Punakawan memang bukan sembarang orang. Mereka adalah simbol “orang kecil” yang istimewa.

Negeri ini pun bukan negeri sembarang negeri. Meski menganut sistem kasta, leluhur kita juga mengajarkan bahwa kasta bukanlah cara untuk mendiskriminasi golongan. Bahkan para kawula alit pun dipercaya memiliki kekuatan dan peran yang istimewa. Para petinggi dari golongan ksatria, brahmana bahkan Dewa sekalipun ada kalanya tak berkutik menghadapi kekuatan kawula alit seperti Semar dan anak-anaknya. Itulah sebabnya, suara “orang kecil” harus selalu didengarkan. Demi kesejahteraan negeri.

Punakawan tak pernah dikenal dalam kisah Mahabharata dan Ramayana versi India, tapi mereka selalu muncul dalam setiap lakon wayang di Indonesia. Tidak pernah absen.

Para tokoh Punakawan ditengara pertama kali muncul dalam Kakawin Gatotkhacasraya yang ditulis Empu Panuluh di masa Kerajaan Kediri saat pemerintahan Raja Jayabaya. Sejak itu, kehadiran Punakawan menjadi begitu dekat dengan masyarakat Indonesia. Mereka seperti cerminan diri kita sendiri, rakyat jelata.

Semar, Gareng Petruk dan Bagong barangkali hanya muncul sekelebat dalam sebuah lakon. Tapi kehadirannya selalu ditunggu, candaan mereka selalu sukses memeriahkan suasana dan wejangannya selalu menancap di hati.

“Urip iku urup,” kata Semar.

Hidup yang baik adalah hidup yang memberi manfaat, begitu kira-kira terjemahan bebas dari wejangan Semar itu.

Para Punakawan yang mengejawantah di Dukuh Butuh 

Bagi sebagian orang, Punakawan dianggap sebagai tokoh rekaan. Oke, saya tidak akan berbantah dengan pendapat itu. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong mungkin saja memang tidak pernah benar-benar ada. Alih-alih sebagai sosok manusia, Punakawan lebih tepat diartikan sebagai simbol tokoh pembawa nilai-nilai moral, kebijakan dan kearifan asli Indonesia.

Kearifan yang akan terus lestari dalam diri orang Indonesia yang menjaga tradisi.

Dan tahukah kalian? Saya melihat sosok Punakawan di Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Klaten. Mereka ada di sana.

...........

Hujan di Bulan Desember adalah hal lumrah. Tapi pagi ini, mendung tipis yang menyejukan menyambut saya yang sedang bersiap berangkat menuju Padukuhan Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Klaten.

Secara administratif, kampung ini memang masuk wilayah Klaten. Namun secara geografis, jaraknya malah lebih dekat dengan Kabupaten Sukoharjo. Jadi saya hanya membutuhkan waktu tak kurang dari 15 menit perjalanan ke Kampung Berseri Astra (KBA) ke 76 ini. Padahal kalau berangkat dari pusat kota Klaten, waktu tempuh perjalanan bisa mencapai 45 menit.

Ini kali kedua saya berkunjung ke Dukuh Butuh. Tepat setahun lalu, saat pertama kali mendengar ada kampung perajin wayang di Klaten, saya pun menyambangi kampung ini. Sekadar untuk memuaskan rasa penasaran tentang cara pembuatan wayang.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Waktu itu, Kampung Butuh baru sekitar empat bulan ditetapkan menjadi Kampung Berseri Astra (KBA). Para perajin wayang di sana baru mulai menabur benih-benih harapan untuk memajukan kampung halaman mereka. Dan kini, setelah setahun berlalu, saya pun rindu menyambangi kampung ini.

Kampung Butuh terletak tepat di perbatasan Sukoharjo-Klaten. Perbatasan dua wilayah yang ditandai bentang alam khas, berupa genangan air yang oleh warga sekitar disebut bendungan mati. Dahulu, genangan air ini adalah aliran Bengawan Solo. Tapi karena airnya selalu meluap di musim penghujan dan membanjiri wilayah Kampung Butuh, maka aliran Bengawan Solo menuju perkampungan pun ditutup dan dialihkan ke wilayah lain. Membelok, menjauhi permukiman.

Kini bekas aliran Bengawan Solo itu jadi penanda batas wilayah Sukoharjo dan Klaten. Wilayah timur bendungan mati masuk wilayah Sukoharjo. Dan sebelah barat bendungan mati, jadi wilayah Klaten. Kedua tempat ini dihubungkan jembatan sepanjang kira-kira 20 meter.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Kecuali gapura bertulisan Kampung Berseri Astra, tak banyak yang berubah dari Dukuh Butuh. Beberapa pria terlihat sedang asyik memancing di pinggir jembatan. Musim hujan begini mungkin memang jadi waktu yang tepat untuk mengail. Setidaknya satu atau dua ikan mungkin bisa dibawa pulang untuk lauk makan malam nanti.

Menyusuri jalan desa Kampung Butuh, tak ubahnya seperti menilik kampung Simbah di masa 1980-an dulu. Pepohonan rindang menaungi kiri kanan jalan yang meski sempit tapi cukup dilalui dua mobil. Suasana tampak lengang di Kampung Butuh siang ini. Sesekali memang terlihat motor yang bersliweran di jalan kampung, tapi jumlahnya tak banyak.

Kampung Butuh sebenarnya tak jauh dari pusat keramaian dan pabrik. Tapi memasuki Kampung Butuh, suasana perkotaan yang riuh dan bising seolah lenyap tak berbekas. Sungguh suasana yang nyaman dan tenang. Saya jadi paham mengapa banyak warganya memilih menjadi perajin karya seni berkualitas tinggi.

Mobil yang saya tumpangi langsung menuju ke rumah Pendi Istakanudin, salah satu perajin wayang termuda di Kampung Butuh. Usia Pendi baru 30 tahun. Kebanyakan pemuda sepantarannya mungkin tengah mengejar karir sebagai pegawai kantoran. Tapi tidak demikian dengan Pendi, sejak beberapa tahun lalu ia sudah memilih bakal menjalani hidup sebagai seniman perajin wayang. Meneruskan usaha yang dirintis kedua orang tuanya.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Jalan hidup yang dipilih Pendi memang merupakan jalan yang sepi. Tidak banyak pemuda di kampungnya yang berminat meneruskan usaha sebagian besar penduduk Kampung Butuh, jadi perajin wayang kulit. Sebagian besar memilih merantau, mencari peruntungan di kota lain seperti Solo, Yogya atau Jakarta.

“Di area sini kan banyak pabrik. Teman-teman sepantaran saya banyak yang bekerja di sana. Dulu saya juga sempat bekerja sebagai pegawai di perusahaan tekstil dan finance, tapi belakangan saya malah makin yakin bahwa jalan hidup saya adalah sebagai perajin wayang,” kata Pendi.

Sejarah panjang Kampung Butuh sebagai kampung wayang dimulai sejak 64 tahun lalu, tepatnya sekitar 1955. Sejumlah pemuda Kampung Butuh saat itu pergi belajar membuat wayang dari para perajin wayang di Desa Sonorejo, Sukoharjo. Salah satunya adalah kakak kandung Saiman, ayah Pendi. “Pakdhe saya termasuk generasi pertama yang membuat wayang di kampung ini. Keahlian itu lantas dilanjutkan oleh Bapak sebagai generasi kedua, dan menular ke ibu. Saya sebagai generasi ketiga merasa wajib melanjutkan tradisi ini,” imbuh Pendi.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Saat ini di Kampung Butuh tercatat ada sekitar 80-an perajin wayang. Sebagian besar berusia sekitar 40-an. Mungkin hanya Pendi, perajin wayang yang berusia cukup muda. Masalah regenerasi perajin wayang penerus tradisi inilah yang menjadi perhatian dan kekhawatiran para perajin wayang di Kampung Butuh. “Belajar membuat wayang memang membutuhkan latihan yang panjang. Tidak bisa dikuasai hanya dalam waktu 2 atau 3 tahun. Jadi memang butuh ketekunan dan rasa pengabdian. Mungkin itu yang membuat banyak pemuda kampung yang enggan meneruskan tradisi jadi perajin wayang,” ungkap Saiman.

Betulkah demikian?

Saya memberanikan diri bertanya. Agak ragu dengan jawaban Pak Saiman soal alasan minimnya regenerasi perajin wayang di Kampung Butuh. Saya pikir, justru masalah ekonomi lah yang jadi faktor utama rendahnya minat pemuda meneruskan tradisi membuat wayang.

“Ah ya tidak,” Pendi menyangkal.

“Penghasilan saya sebagai perajin wayang malah lebih besar kok ketimbang saat jadi pegawai dulu.” 

Pesanan wayang ke Kampung Butuh memang membanjir, tak pernah putus. Pendi dan perajin lain bahkan kerap kali kewalahan melayani pesanan. Jadi, kata dia, kalau mau ditotal penghasilan per bulan hasilnya tidak kalah dengan gaji pegawai tataran manajer di perusahaan. Malah seringkali lebih besar.
Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Sebagai gambaran saja, harga jual satu tokoh wayang dibanderol antara Rp 400.000 hingga Rp 5 juta. Bergantung pada ukuran serta tingkat kesulitan pembuatan. Beberapa wayang pesanan dalang ternama dengan spesifikasi khusus bahkan bisa dihargai lebih dari Rp 5 juta. Wayang berlapis emas dengan detail tatahan dan warna rumit merupakan wayang yang dihargai paling mahal.

Proses yang rumit 

Wayang kulit adalah sebuah karya seni. Proses pembuatannya memang tidak bisa dibilang sederhana. Untuk menghasilkan wayang yang berkualitas tinggi, perajin tidak cukup hanya melengkapi diri dengan keahlian. Mereka butuh kesabaran, ketelatenan dan ketekunan untuk menghasilkan karya yang benar-benar berkualitas.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Proses pembuatan wayang kulit dimulai dari ngerok yaitu proses menghilangkan bulu di kulit kerbau yang akan dipakai membuat wayang. Proses ini dilanjutkan dengan menthang, yaitu merentangkan kulit kerbau di papan sambil dijemur. Setelah selesai menthang, tahapan pun dilanjutkan dengan memotong kulit sesuai ukuran tokoh wayang yang bakal dibuat, Baru setelah itu dilanjutkan dengan menjiplak pola di kulit mentah.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Dari sini, proses terpenting dalam pembuatan wayang pun dimulai yaitu proses tatah yaitu, memahat pola wayang pada kulit mentah. Dalam bahasa Jawa, alat pahat yang dipakai untuk memahat bentuk wayang ini disebut tatah. Itu sebabnya proses memahat ini disebut pula proses tatah.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Dari tatah, tahap pembuatan wayang pun dilanjutkan dengan sungging, yaitu proses pewarnaan wayang. Proses ini pun harus dikerjakan sangat detail. Karena proses inilah yang paling mempengaruhi bagaimana ekspresi tokoh wayang.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Tahap terakhir adalah nggapit, yaitu memasang pegangan wayang. Gapit berkualitas baik, umumnya terbuat dari tanduk kerbau. Tanduk ini harus dihaluskan dulu, lalu dipanaskan agar mudah dibentuk mengikuti bentuk tokoh wayang.

Sebagian besar proses pembuatan wayang dilakukan Pendi dan Pak Saiman di teras rumah mereka yang juga merangkap sebagai besalen alias bengkel pembuatan wayang.

Setahun perjalanan bersama Astra 

Sampai setahun lalu, para perajin wayang di Kampung Butuh berjuang sendiri menjalankan tradisi pembuatan wayang tanpa sokongan penuh dari pihak manapun. Tertatih mereka bertahan ditengah gempuran budaya pop yang kian merajalela.

Budaya pop dan modernisasi memang tidak serta merta menggerus sumber penghasilan mereka. Terbukti pesanan wayang yang masuk ke Kampung Butuh nyaris tak pernah surut. Dampak modernisasi dan budaya pop justru sangat terasa pada menyusutnya minat generasi muda Kampung Butuh untuk meneruskan tradisi leluhur ini.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Untungnya, para perajin tak patah arang menghadapi situasi ini. Dengan upaya maksimal, para perajin mencoba mengajak para pemuda dan anak-anak Kampung Butuh untuk lebih terlibat dalam proses pembuatan wayang.

Bintang, keponakan Pendi adalah salah satu calon perajin yang diharapkan mau meneruskan tradisi pembuatan wayang di Kampung Butuh. “Saya tidak tahu kemana minat dan bakatnya setelah dewasa nanti, yang jelas sekarang ia (Bintang) mulai dibiasakan untuk terlibat dalam proses pembuatan wayang dulu. Mudah-mudahan minat dan kecintaannya pada wayang bisa tumbuh alami,” harap Saiman.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Setahun berselang, sejak Astra melibatkan diri membina Kampung Butuh, kini geliat cinta pada wayang perlahan mulai tumbuh di kalangan pemuda Kampung Butuh. Setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Pendi.

“Sejak awal, kami dan Astra memang sepakat untuk fokus pada pembinaan mindset para pemuda di Kampung Butuh. Kini, usaha itu sudah mulai menampakan hasil,” katanya.

Anak-anak muda Kampung Butuh yang sebelumnya terkesan acuh dengan wayang, kini makin ekspresif menunjukan kecintaan pada wayang. Misalnya dengan menghias kamar mereka dan balai pertemuan dengan dekorasi wayang. “Semua dilakukan atas inisiatif mereka sendiri,” imbuh Pendi lagi.

Dengan dukungan Astra, banyak warga bisa turut berpartisipasi dalam berbagai pelatihan yang menopang perkembangan Kampung Butuh sebagai kampung wisata. Menurut Pendi, beberapa waktu lalu, sejumlah warga juga bertandang ke kampung wisata di Bantul, Yogyakarta untuk belajar lebih banyak mengenai konsep desa wisata. “Bentuk kegiatan penopang lainnya ada pelatihan pelestarian lingkungan seperti Bank Sampah dan Posyandu Lansia. Untuk kegiatan ini, lebih banyak diikuti oleh ibu-ibu.”

Tak hanya itu, warga pun kini mulai menggarap promosi Kampung Butuh melalui media sosial dengan lebih serius. Kampung Butuh sekarang lebih dikenal masyarakat luas. Bahkan pemerintah daerah pun tak mau ketinggalan mulai melirik potensi wisata yang ada di Kampung Butuh. “Sekarang kami makin sering dilibatkan dalam berbagai pameran potensi daerah dan wisata. Lalu kami juga diminat untuk mengisi pelatihan membuat wayang di sekolah. Yang jelas Pemkab kini jadi lebih perhatian kepada kami.”

Meningkatnya popularitas Kampung Butuh berbanding lurus dengan pesanan wayang yang masuk. Namun sedikit berbeda dengan sebelumnya, pesanan yang masuk kali ini lebih variatif dari sebelumnya. Kalau dulu pesanan wayang didominasi dengan pesanan wayang kulit yang bakal dipakai untuk pertunjukan wayang dan pajangan, kini pesanan wayang dalam bentuk souvenir juga meningkat tajam. “Astra juga memesan souvenir wayang dari kami,” imbuh Pendi lagi.

Ikon Kebanggan Indonesia : Belajar tentang Pengabdian dari Para Punakawan di Kampung Butuh, Sidowarno, Klaten

Semangat para perajin wayang di Kampung Butuh pun makin bergairah dengan perubahan ini. Benih-benih harapan kian bertumbuh di hati mereka.

Punakawan dari Kampung Butuh 

Bagi saya, para perajin wayang di Kampung Butuh ini tak ubahnya seperti Punakawan dalam lakon pewayangan. Sosok-sosok kawula alit yang sepintas keberadaan dan perjuangannya tidak pernah diperhitungkan oleh para "penguasa". Namun dengan cara dan kearifannya sendiri, para perajin wayang Kampung Butuh berjuang mempertahankan tradisi leluhur. Membuat wayang kulit yang indah untuk dimainkan Sang Dalang di pertunjukannya.

Di tangan lihai Sang Dalang, wayang kulit memang tampak gagah dan berwibawa. Namun kita juga tidak boleh lupa bahwa dibalik wayang kulit yang dibanggakan bangsa ini sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity, ada jejak-jejak pengabdian para perajin yang namanya nyaris tak pernah disebut. Bukankah kini sudah saat kita mulai mendengar dan memperhatikan suara-suara dari kawula alit yang istimewa ini? Suara para perajin wayang dari Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Klaten.

Semoga jadi tambah tahu ya....

#KitaSatuIndonesia
#IndonesiaBicaraBaik

Disclaimer: Tulisan ini saya persembahkan kepada para perajin wayang di Dukuh Butuh, Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Klaten. Para pelestari budaya leluhur yang dengan kesadaran penuh terus berjuang melestarikan wayang di tengah modernisasi dan serbuan budaya asing.

You Might Also Like

1 comments

  1. Menarik sekali cerita dan perjuangan warga di kampung butuh untuk memajukan desa mereka. Semoga semakin banyak generasi muda yang mau meneruskan pembuatan wayang. Dan desa butuh bisa segera dikenal sebagai desa wisata wayang.

    BalasHapus