Sebagai ibu-ibu milenial yang minimalis dan introvert, saya tuh masih suka nggak relate dengan kebiasaan orang sekarang yang suka berfoto di segala kesempatan, situasi dan kondisi. Saya nggak bilang kebiasaan itu salah atau jelek ya. Sama sekali bukan! Cuma..... saya nggak bisa begitu saja.
Saya tipikal orang, yang kalau lagi jalan ya jalan saja. Lagi ngobrol ya ngobrol saja. Pas makan ya makan saja. Nggak semua harus dipotret, apalagi kalau harus sampai ribet sendiri demi cari angle yang bagus. Jujur, energi saya nggak sebanyak itu.
Tapi zaman sekarang rasanya nggak afdal kalau ngumpul-ngumpul tanpa sesi foto bareng. Hal yang sama juga berlaku di kalangan ibu-ibu milenial.
Nggak sekali, dua kali. Hampir di setiap pertemuan ibu-ibu yang saya ikuti, tiap kali ngumpul pasti ada sesi fotonya. Masalahnya bukan di keinginan untuk mengabadikan momen ini, tapi.....kalian tahu kan ibu-ibu itu bagaimana?
Ibu-ibu itu nggak cukup sekali jepret. Ada yang kelihatan gendut dikit, foto ulang. Ada yang lagi merem, jepret lagi. Posenya juga bolak balik ganti. Sebentar pose saranghaeyo, terus ganti pose ’V’. Abis tu ganti pose pegang kacamata. Atau yang paling ikonik, pose sambut rezeki. Itu lho pose buka tangan lebar ke samping.
Sudah begitu...ini ibu-ibu lho. Kebayang kan, perkara blocking foto saja riweuhnya minta ampun. Ngumpul dua jam, sesi fotonya bisa 15-20 menit sendiri.
Karena energi sosial saya sering lowbat, biasanya saya cuma duduk di pinggiran sambil perhatiin teman-teman saya yang lagi ‘sibuk’ itu. Kadang suka mikir, “Ngapain sih?”
Pun begitu, saya selalu excited kalau lagi ngumpul sama sahabat-sahabat saya.
Momen Bahagia yang Selalu Dinantikan
Sejak masa sekolah, circle pertemanan saya nggak pernah besar. Sampai sekarang pun begitu. Teman dekat saya bisa dihitung dengan jari. Paling banyak 4 orang saja. Jadi, berlima termasuk saya.
Tapi saya justru nyaman dengan yang kayak begitu.
Nggak harus setiap minggu ketemu. Bahkan kadang bisa berbulan-bulan nggak ketemu karena masing-masing sibuk dengan kehidupan sendiri. Ada yang sibuk dengan anak, pekerjaan, keluarga, atau sekadar sibuk beres-beres hidup yang rasanya nggak pernah benar-benar selesai.
Tapi begitu akhirnya ketemu, suasana tetap cair. Candaan terus mengalir.
Nggak ada acara basa-basi panjang untuk mengejar ketertinggalan. Baru duduk, sudah bisa langsung nyambung. Cerita yang kemarin belum selesai, dilanjutkan. Gosip yang tertunda, dibuka lagi. Masalah baru, dibahas. Masalah lama, diketawain.
Dan yang paling saya suka, kami nggak punya kebiasaan untuk saling adu nasib. Nggak ada yang merasa harus membuktikan hidupnya paling sukses. Nggak perlu pura-pura semuanya baik-baik saja. Kalau ada yang sedang punya masalah, ya didengarkan. Kalau ada yang butuh pendapat, ya dikasih pendapat. Kalau menurut kami dia salah, ya... bilang saja salah. Besok-besoknya tetap teman. Nggak ada yang baper.
Mungkin karena itu kami nggak perlu terlalu sering bertemu untuk tetap merasa dekat.
Ada jenis pertemanan yang membutuhkan kehadiran setiap saat supaya tetap hidup. Tapi ada juga pertemanan yang sudah terasa seperti rumah. Lama nggak didatangi pun, begitu pintunya dibuka, rasanya tetap familiar.
Saat Gejala Mata Kering Mengganggu Momen Penting
Seperti sore itu....
Setelah sekian lama cuma menjadi wacana, akhirnya saya berhasil juga ngumpul dengan mereka. Sahabat saya, sesama emak-emak. Kami berteman, awalnya karena sama-sama suka ngeblog dan tergabung dalam komunitas blogger yang sama. Awalnya cuma sharing soal tulisan. Lama-lama makin akrab, lalu obrolannya melebar ke mana-mana. Ngomongin keluarga, anak, sistem pendidikan, masakan, sampai ngerumpiin pejabat yang baru ketangkep KPK.
Selama ini, kami lebih banyak ngobrol di grup chat. Jarang sekali punya kesempatan untuk ketemu langsung.
Bukan terpisahkan karena jarak. Rumah kami sebenarnya nggak terlalu berjauhan, tapi mencari waktu yang pas untuk kumpul berlima itu rasanya sudah kayak minta jadwal ketemuan sama artis ternama. Susaaaah banget.
Jadi ibu rumah tangga, nggak berarti kami punya banyak waktu luang. Kalapun ada, mencocokkan lima jadwal yang beda-beda itu dramanya luar biasa. Wacana mulu, realisasinya kapan tau. Persis kayak janji dia ke kamu. Hidiiih........
Hingga akhirnya, sore itu, kami berhasil janjian bertemu di sebuah pusat perbelanjaan yang kebetulan punya banyak tempat nongkrong. Saya sampai duluan. Sambil menunggu yang lain datang, saya memutuskan belanja tipis-tipis.
Niat awalnya sih tipis-tipis. Tapi realitanya, sudah hampir satu jam saya ngider di pusat belanja itu tapi teman-teman saya belum juga nongol.
Saya mulai curiga. Ini sebenarnya mau ngumpul beneran atau saya memang lagi dijebak buat menghabiskan uang belanja?
Saya tengok grup chat, kok pada adem-adem saja. Saya coba memastikan tanggal, scroll obrolan kami beberapa waktu lalu. Sekadar memastikan apakah saya yang salah tanggal, salah tempat atau salah paham. Saya cek lagi. Ah, sudah benar kok.
Jiwa Pisces saya mulai muncul, overthinking mengambil alih. Apa jangan-jangan saya lagi dikerjain?
Saya mulai mengetik di grup chat, “Kita jadi ketemu nggak sih? Aku sudah sampai dari tadi lho.”
Ada yang balas. Singkat. “Otw, Mak!”
Selang 10 menit, satu per satu teman saya akhirnya muncul. Tentu saja dengan berbagai alasan keterlambatan. Saya maklum, sudah biasa. Di lain waktu, kadang saya juga datang terlambat dan mereka memaklumi kok.
Kami berkumpul nyaris lengkap. Harusnya ada lima orang, tapi satu orang punya acara keluarga mendadak yang tidak bisa dinego dan akhirnya betul-betul nggak bisa ikut. Ya sudahlah, yang penting bisa tetap kumpul.
Dan seperti biasa, begitu semuanya duduk semeja, waktu yang tadinya susah sekali kami cari mendadak terasa kurang.
Kami ngobrol ngalor-ngidul. Tertawa. Saling cerita. Sesekali beda pendapat. Pokoknya, tidak ada satu pun topik yang berhasil bertahan terlalu lama di meja kami.
Jujur, saya sering kagum dengan kemampuan ibu-ibu ini dalam urusan melompat-lompat tema obrolan. Bisa banget serandom itu.
Baru lima menit lalu ngomongin anak dan sekolah, tiba-tiba pindah ke MBG. Belum selesai bahas MBG, ada yang nyeletuk soal berita pejabat yang baru ditangkap KPK. Dari situ bisa melebar ke politik. Lalu mendadak ada mas-mas ganteng lewat dan konsentrasi obrolan bubar seketika.
Tidak ada moderator. Tidak ada rundown. Tidak ada yang bertugas menjaga agar pembicaraan tetap pada topik.
Tapi anehnya, kok bisa nyambung ya?
Bareng mereka, tema obrolan seberat apapun bisa jadi bercandaan. Efektif buat release stres. Makanya saya senang banget kalau lagi ngumpul gini.
Rupanya beginilah persahabatan emak-emak.
Di usia 40-an, kami sudah tidak punya energi untuk terlalu banyak basa-basi. Nggak juga terlalu haus validasi. Nggak ada kompetisi siapa yang hidupnya paling berat.
Dan anehnya, setiap kali bersama mereka, saya sering lupa kalau usia sudah kepala empat.
Sampai tubuh mengingatkan. Salah satunya lewat mata.
Sore itu, di tengah serunya ngobrol, saya mulai merasa mata agak nggak nyaman. Awalnya cuma seperti sepet, sedikit perih dan seperti ada yang mengganjal. Saya pikir biasa saja. Mungkin kena debu, karena tadi berangkat naik motor.
Saya abaikan. Toh, lagi seru-serunya ngobrol.
Sampai akhirnya sesi potret yang sering saya hindari pun tiba.
"Eh, foto dulu yuk!"
Seperti biasa, saya manut dan mulai mengambil tempat. Satu teman sudah mulai mengatur posisi kami, dan satu lagi mulai mempersiapkan kamera ponselnya. Memasang timer, lalu memencet tombol.
Timer mulai menghitung mundur. Tiga.. dua.. satu... cekrek.
Teman saya maju mengecek hasil foto. Lalu.. “Eh, ulang! Mak Wid merem itu."
"Hah?"
Kami bersiap, mengulang pose yang sama. Cekrek.
“Eeeh..merem lagi!”
"Ya ampun, Mak. Matamu kenapa sih?"
Saya melihat hasil fotonya. Benar juga. Mata saya setengah terbuka. Persis kayak orang ngantuk. Bikin rusak momen foto dan tentu saja bikin sesi potret makin lama. Haduuh.
![]() |
| salah satu foto aib yang sebenarnya nggak mau saya publish. Ini hanya untuk ilustrasi ya |
Di moment itulah saya sadar. Mata saya sejak tadi memang terasa nggak nyaman. Bukan mengantuk ya. Rasanya sepet, agak perih, dan lelah.
Saya bercermin, mengucek mata. Nggak ada debu yang masuk kok.
Atau jangan-jangan ini gejala mata kering?
Untungnya saya ingat dengan satu barang andalan yang selalu tersedia di tas, #InstoDryEyes!
Langsung saja saya teteskan ke kedua mata. Masing-masing 2 tetes.
Aaah lumayan. Rasa perihnya berkurang, tidak ada lagi yang mengganjal. Saya langsung semangat. “Yuk, foto lagi,” seru saya.
Timer kembali menghitung. Tiga.. dua.. satu. Cekrek.
Kali ini saya sendiri yang maju mengecek hasil foto. “Yess, aman.”
Mata saya nggak merem lagi, terbuka lebar, tampak ceria.
Saya lega sekaligus geli sendiri. Kalau biasanya saya yang paling malas menghadapi keribetan teman-teman saat sesi foto. Sore ini, malah saya yang bikin sesi potret jadi lebih lama karena mata yang kering. Sampai harus re-take. Tapi ya sudahlah. Yang penting akhirnya dapat foto yang bisa masuk status WhatsApp. Hahahaha...
Kejadian sore itu sebenarnya bukan kali pertama mata saya terasa sepet, perih, dan lelah. Saat keluar rumah, gejala ini kadang muncul tanpa saya sadari sebelumnya. Nah, karena alasan itulah, saya jadi punya kebiasaan membawa tetes mata ke mana-mana.
Jujur, saya lupa persisnya sejak kapan mulai membiasakan diri. Pokoknya sekarang saya selalu sedia minimal dua tetes mata. Satu standby di tas, satu lagi ada di rumah. Biasanya di meja kerja atau tempat yang gampang dijangkau.
Bukan apa-apa, belakangan saya makin aware saja sama kondisi diri.
Saya mulai pakai kacamata plus. Menatap layar terlalu lama lebih cepat bikin mata nggak nyaman. Dan keluhan seperti mata sepet, perih, atau cepat lelah juga terasa makin sering muncul sejak saya masuk usia 40-an.
Ah rupanya kalau orang tambah umur bukan cuma pinggang dan lutut yang mulai banyak maunya. Mata juga ikut-ikutan
Kenapa Mata Kering Makin Sering Terasa di Usia 40-an?
Kalau dipikir ulang, selama ini saya terlalu asyik menyalahkan gadget, ruangan ber-AC sebagai penyebab utama mata kering. Nggak salah juga sih. Tapi...ternyata ada satu faktor lagi yang juga punya kontribusi besar, yaitu USIA.
Ya, sepertinya ungkapan lama yang bilang, “life begins in 40” itu bukan tanpa alasan.
Sejak saya masuk usia 40 tahun, ada banyak yang dalam hidup yang harus di-reset alias disetel ulang. Mulai dari tujuan hidup, cara berpikir dan yang paling penting kesehatan.
Di usia 40, kita nggak bisa lagi mempertahankan gaya hidup seenak udel ala anak muda usia 20-an. Di usia paruh baya begini, makanan harus dijaga, olahraga harus rutin, bangun massa otot, latih kelenturan tubuh dan juga jaga kesehatan mata.
Kenapa harus begitu? Ini bukan cuma perkara raga yang kian ringkih, tapi juga ada pengaruh dari perubahan hormon.
Jadi, apa hubungannya mata kering dengan hormon? Nah, berdasarkan beberapa literatur kesehatan yang saya baca, kondisi ini ternyata ada penjelasan medisnya lho.
1. Perubahan dan Fluktuasi Hormon
Memasuki usia 40-an tahun (perimenopause hingga menopause), produksi hormon estrogen, progesteron, dan androgen mulai menurun. Padahal hormon-hormon ini punya peran penting dalam menjaga kesehatan kelenjar meibom (penghasil lapisan minyak/lipid) dan kelenjar lakrimal (penghasil air mata).
Saat terjadi penurunan hormon tersebut, kelenjar minyak tersumbat atau kurang berfungsi optimal. Kondisi ini disebut Meibomian Gland Dysfunction (MGD). Akibatnya, air mata kekurangan lapisan minyak pendukung dan menguap jauh lebih cepat (evaporative dry eye).
2. Dampak Perubahan Fisik & Kualitas Tidur
Salah satu gejala menopause adalah hot flashes, berupa rasa panas mendadak dan keringat yang muncul di malam hari. Kondisi ini berkontribusi pada dehidrasi serta mengganggu kualitas tidur. Padahal, tidur yang cukup, penting untuk pemulihan alami permukaan mata.
Selain itu, penurunan kolagen dan elastisitas kulit seiring bertambahnya usia juga memengaruhi kodisi kelopak mata. Sehingga kelopak mata tidak menutup sempurna saat berkedip atau tidur. Hal ini membuat mata jadi lebih mudah kering.
3. Gaya Hidup & Faktor Lingkungan yang Memperburuk
Hidup di era digital, seringkali membuat kita berada dalam kondisi terkena paparan gadget dalam waktu yang cukup lama. Nah, kebiasaan menatap layar gadget terlalu lama ini mengurangi frekuensi berkedip.
Ditambah lagi, kalau kita sering mendekam di ruang ber-AC atau hidup di perkotaan dengan tingkat polusi yang tinggi, paparan AC, udara kering, atau angin kencang mempercepat penguapan air mata.
Memasuki usia 40-an, sebagian orang juga mulai rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu untuk menangani kondisi kesehatan yang mereka alami. Beberapa jenis obat, seperti antihistamin, obat tekanan darah, atau antidepresan, diketahui dapat memperburuk keluhan mata kering pada sebagian orang.
Nah, makin kompleks kan?
Tapi itu bukan berarti kita cuma bisa terima nasib dong. Jangan sampai terlintas di pikiran, “Ah, sudah tua, wajar lah kalau mata kering gini.”
Justru, karena sudah tahu bahwa kita sudah sampai di usia yang harus makin sayang sama tubuh sendiri, kita kudu mulai bangun kebiasaan baik untuk menjaga kesehatan mata agar tetap nyaman beraktivitas hingga lanjut usia.
Apa saja sih yang bisa kita lakukan?
Berdasarkan saran ahli dan pengalaman pribadi saya, berikut beberapa langkah sederhana dan praktis untuk merawat serta mencegah mata kering di usia 40-an:
1. Pertolongan Pertama dengan Tetes Mata Pelumas:
Saat gejala mata kering seperti sepet, perih, dan lelah mulai menyerang, jangan dikucek! Berdasarkan pengalaman pribadi, mengucek mata hanya bikin kondisinya tambah parah. Lebih baik teteskan Insto Dry Eyes. Formulasinya bekerja memberikan kelembapan pelumas ekstra seketika untuk menggantikan cairan mata alami yang menguap.
Itu sebabnya saya selalu sedia Insto di dalam tas dan di meja kerja. Insto Dry Eyes memberi efek pelumas seperti air mata, sehingga efektif mengatasi gejala kekeringan pada mata. Juga membantu meringankan iritasi mata yang disebabkan oleh kekurangan produksi air mata yang biasanya dialami penderita rheumatoid arthritis, keratoconjunctivitis dan xerophtalmia.
2. Terapkan Aturan 20-20-20:
Aturan ini masih dianggap kebiasaan yang paling baik untuk menjaga kesehatan mata. Beri hak mata untuk beristirahat. Saat bekerja di depan laptop atau binge-watch drama, luangkan waktu setiap 20 menit untuk mengistirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat benda berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter).
Kebiasaan ini membantu relaksasi otot mata dan memicu refleks mengedip. Biasanya saat fokus menatap layar, frekuensi mengedip turun, dari normalnya 15–20 kali per menit menjadi hanya 5–7 kali. Nah, jeda 20 detik bertujuan memberi kesempatan mata untuk berkedip penuh secara alami, sehingga air mata terdistribusi kembali untuk membasahi permukaan mata yang kering.
3. Rutin Kompres Hangat & Menjaga Kebersihan Kelopak Mata:
Yang ini jarang dibicarakan. Ternyata kebiasaan kompres mata dengan kain bersih yang direndam air hangat selama 5–10 menit sebelum tidur bisa membantu mencairkan sumbatan minyak yang mengental pada kelenjar meibom. Sehingga cairan minyak alami bisa mengalir lancar kembali untuk melapisi air mata.
Setelah dikompres, beri pijatan lembut pada kelopak mata ke arah tepi bulu mata untuk membantu melancarkan sumbatan. Jangan lupa jaga kebersihan tepi kelopak mata dari sisa makeup, debu, atau minyak berlebih agar muara kelenjar tidak gampang tersumbat atau meradang.
4. Sadar untuk Sering Mengedip:
Latih diri untuk berkedip secara penuh dan sengaja, terutama saat menatap layar gadget, agar lapisan air mata terbagi merata ke seluruh permukaan mata.
5. Jaga Hidrasi & Nutrisi dari Dalam:
Sepenting itu lho minum air putih. Jadi, pastikan cukup minum air putih, minimal 2 liter sehari. Lalu, jangan lupa untuk konsumsi makanan yang kaya akan Asam Lemak Omega-3,seperti ikan salmon, flaxseed, atau kacang-kacangan, untuk mendukung kualitas minyak alami mata.
6. Gunakan Humidifier & Pelindung Mata:
Buat yang beraktivitas di ruangan ber-AC, ketahuilah hal itu pada dasarnya menyerap kelembapan udara. Udara yang kering, mempercepat penguapan air mata. Karena itu, kalau memang ada budget, nyalakan humidifier di ruangan untuk menjaga kelembapan udara tetap ideal.
Sementara itu, buat yang sering beraktivitas di luar ruangan atau naik motor, biasakan memakai kacamata pelindung atau helm yang tertutup rapat. Penghalang fisik ini mencegah angin kencang yang mengenai mata secara langsung dan melindungi mata dari paparan debu yang memicu iritasi.
Simple kan? Mulai masuk usia 40-an, kita harus berhenti menyepelekan kesehatan mata.
Jangan tunggu sampai keluhan mata sepet, perih, dan lelah mengganggu momen berharga kita.
Ingat ya, #MataSePeLeJanganSepelein! Dengarkan sinyal dari tubuh, selalu siap sedia Insto Dry Eyes di tas, dan mulailah bangun kebiasaan baik agar kita bisa terus menikmati hidup dengan #BebasMataKering. Usia boleh 40-an, tapi seru-seruan sama teman jangan ikut berhenti. Yuk, lebih sayang sama mata kita mulai hari ini!
Semoga jadi tambah tahu...
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)

Tidak ada komentar