Tentang Perempuan, Usia 40, dan Keberanian untuk Mulai Lagi

bisnis-franchise
Ada satu fase dalam hidup perempuan yang jarang dibicarakan. 

Saat usia sudah kepala empat, anak mulai besar, suami sibuk bekerja atau terlalu tenggelam dengan ‘hobi-hobinya’ yang lain, dan kita tiba-tiba bingung melihat diri sendiri. 

Kita ini siapa, ya? Mau apa ya? 

Saat Perempuan Kehilangan Dirinya 

Selama ini, selama berpuluh tahun kita dikenal sebagai “ibunya si A”, “istrinya Pak B”, atau “mamanya si Anu”. Makin lama, kita pun makin terbiasa dengan sapaan yang bahkan tidak menyebut nama asli kita sendiri. Kita menormalisasi hal-hal sepele yang menghilangkan identitas kita sendiri. 

Sekarang, coba kita ingat lagi, kapan terakhir kali kita berdiri sebagai diri sendiri? 

Mungkin karena terlalu lama hidup untuk orang lain, banyak perempuan, seperti saya, akhirnya merasa terlambat untuk mulai lagi. Hidup nggak pernah jauh-jauh dari urusan domestik. Terus saja berkutat pada urusan yang itu-itu lagi. 

Sampai di satu titik, saat scroll media sosial, kita melihat perempuan-perempuan lain memamerkan pencapaian mereka yang keren. Traveling keliling dunia, bergaul dengan orang terkenal, memenangkan penghargaan, dan lainnya. Sementara kita hanya bisa mengagumi dari balik gadget, sambil mengenakan daster lusuh kebanggaan. 

Jujur! Saya iri dengan pencapaian itu. Ada penyesalan di hati, kenapa bukan saya yang mendapatkan pencapaian itu. Tapi, bukan salah mereka. Toh, saya sendiri yang memilih untuk menghabiskan energi saya di sini, mengurus keluarga. 

Akhirnya, saya cuma bisa menghibur diri. “Ah, ya sudahlah. Umur sudah kepala empat, mau berharap apa. Saya tetap bakal kalah dengan mereka yang muda, yang lebih cepat, lebih kreatif, lebih berani tampil." 

Apakah kalian, ibu-ibu 40an, ada yang merasa senasib? 

Mungkin ini yang bikin kita nggak kemana-mana. Karena kita akhirnya memilih mundur sebelum mencoba. 
“Ya udahlah fokus jadi pendukung keluarga aja…” 
“Aku mah udah kalah sama yang muda. Mau mulai dari nol, sudah nggak pede” 

Perasaan-perasaan inilah yang terus muncul di pikiran saya. Penghiburan yang sebenarnya sama sekali nggak menghibur. Malah bikin ganjalan di hati makin besar. Tapi harus bagaimana dong? 

nilam-sari-founder-kebab-baba-rafi

Hingga Kamis, 21 Mei 2026 lalu, saya mengikuti webinar #ISBWorkshop bersama Mbak Nilamsari, founder Kebab Baba Rafi. Temanya menarik: tentang keberanian memulai dan kekuatan untuk konsisten. 

Sebenarnya saya maju mundur mau ikut. Rasanya kok nggak relate sama kehidupan saya. Toh saya bukan pebisnis dan sama sekali nggak ada bakat buat bisnis. 

Tapi karena nggak ada hal berguna lain yang bisa saya lakukan, saya putuskan buat ikut. Lumayan lah buat mengisi waktu. Siapa tahu seru. 

Awalnya saya pikir ini hanya akan jadi acara tentang bisnis dan UMKM seperti biasanya. Tapi ternyata, yang saya dapat bukan cuma insight bisnis. Ada banyak hal yang diam-diam terasa menampar sekaligus menguatkan. 

Bukan cuma soal membangun usaha. Tapi tentang keberanian perempuan untuk tetap bertumbuh. 

Siapa Nilam Sari? 

Nilam Sari, womenpreneur yang juga founder Kebab Baba Rafi. Jujur saja, saya baru mendengar namanya, saat konflik bisnis dan perceraiannya dengan mantan suami ramai diberitakan beberapa tahun lalu. 

nilam-sari-founder-kebab-baba-rafi
sumber foto :https://www.australiaawardsindonesia.org

Sebelum itu, saya hanya mengenal nama mantan suaminya sebagai sosok di balik kesuksesan Kebab Baba Rafi. Ya mungkin karena bapak itu yang lebih sering muncul di media dan wawancara televisi. 

Tapi dari obrolan di webinar #ISBWorkshop Kickstart Your Business: Temukan Keberanian untuk Memulai dan Kekuatan untuk Konsisten, kemarin, saya baru sadar kalau peran Mbak Nilam dalam membangun brand Kebab Turki Baba Rafi ternyata sangat penting. Hingga brand itu berkembang sebesar sekarang. 

Dan semua dimulai saat usianya baru 19 tahun. 

Saat itu Mbak Nilam dan suaminya masih menjadi pasangan muda yang ingin punya usaha sendiri. Ide jualan kebab muncul ketika mereka mengunjungi mertua yang bekerja di Qatar. Di sana, Mbak Nilam melihat konsep jualan kebab yang praktis: pesan lalu dibawa pulang. 

Konsep yang masih asing di Indonesia pada masa itu. 

Berawal dari Modal Nekat 

Menariknya, Mbak Nilam mengaku dirinya bahkan tidak bisa memasak. Tapi namanya arek suroboyo, keberaniannya memang nggak ada lawan. Ia ajak tetangganya untuk membantu mengembangkan resep kebab yang disesuaikan dengan lidah dan selera orang Indonesia. 

Makanya kebab yang dijual bukan benar-benar kebab autentik Timur Tengah, melainkan versi yang sudah dimodifikasi untuk pasar Indonesia. 

Modal awalnya sekitar empat juta rupiah, berasal dari angpau pernikahan. Dipakai untuk membeli gerobak, bahan baku, dan operasional awal. 

Tidak ada background bisnis. Tidak ada pengalaman jualan. Modalnya benar-benar nekat dan mau belajar. Kalau pakai istilah orang jawa, ‘bondo nekat’. 

Dari satu gerobak, keuntungan terus diputar sampai dalam setahun mereka berhasil memiliki lima gerobak. Mbak Nilam yang saat itu kuliah di Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga akhirnya memilih meninggalkan kuliahnya demi fokus membangun usaha. 

Dan ternyata keputusan itu berbuah manis. Orang-orang mulai tertarik membuka gerai kebab serupa di daerah lain. Di awal tahun 2000-an, konsep franchise gerobakan bisa dibilang masih sangat asing. Franchise identik dengan brand luar negeri dan modal miliaran rupiah. 

Tapi Mbak Nilam melihat peluang. Ia membuat konsep kemitraan dengan modal sekitar tujuh juta rupiah agar lebih terjangkau untuk masyarakat. Strategi ini bikin bisnisnya melaju. Tahun berikutnya, jumlah gerobak Kebab Baba Rafi meningkat menjadi sekitar 30 outlet. 

Merasa ilmunya masih kurang, Mbak Nilam mulai mengikuti berbagai short course bisnis. Ia membenahi sistem kerja, manajemen karyawan, operasional, dan membangun fondasi bisnis yang lebih rapi. 

Hingga tahun 2008, bisnis Kebab Baba Rafi dipindahkan ke Jakarta dan berkembang jauh lebih pesat. Dari sekitar 350 outlet menjadi lebih dari 800 outlet di seluruh Indonesia. 

Tapi perjalanan bisnis ternyata tidak selalu mulus. 

Mulai Berantakan 

Sekitar tahun 2009, Mbak Nilam mencoba berbagai bisnis lain, mulai dari kos-kosan hingga investasi tambang. Sayangnya, tidak semuanya berhasil. Bahkan salah satu investasi membuatnya tertipu hingga harus berurusan dengan pengadilan. 

Di tengah krisis ekonomi saat itu, ia harus menanggung utang hingga 14 miliar rupiah. Nggak banyak pilihan buat Mbak Nilam. Tapi alih-alih terpuruk, menangisi nasib, dia justru memilih mencari peluang lain. 

Ia pun mengikuti sebuah kompetisi dan berhasil menjadi juara pertama dengan hadiah beasiswa S2. Ironisnya, saat itu ia bahkan belum lulus S1. Setelah melalui berbagai negosiasi, akhirnya ia tetap diizinkan mengikuti program tersebut meski tanpa gelar dan ijazah resmi. 

nilam-sari-founder-kebab-baba-rafi
sumber foto : dream.co.id

Dan di situ saya merasa satu hal tentang Mbak Nilam sangat menonjol: rasa haus belajar. 

Ia tidak gengsi belajar dari nol. Tidak malu merasa kurang ilmu. Dan dari sini peluang baru terbuka. Ia mulai bertemu pebisnis senior, memperluas koneksi, dan mendapatkan banyak insight baru tentang bisnis dan kepemimpinan. 

Pelan-pelan bisnisnya dibenahi lagi. Sistem diperkuat. Karyawan di-grooming. Orang-orang yang lebih ahli mulai dilibatkan untuk membantu mengelola perusahaan. 

Hasilnya luar biasa. Dalam setahun kondisi keuangan kembali stabil, rasio utang perusahaan kembali normal. Kebab Baba Rafi bahkan berkembang hingga memiliki sekitar 1300 outlet di 10 negara. 

Tapi ternyata ujian hidup belum selesai. 

Tahun 2015, rumah tangganya runtuh. Perceraian yang ramai diberitakan media itu berdampak besar pada bisnis karena mereka bukan hanya pasangan suami istri, tetapi juga partner usaha. Kepemilikan bisnis sempat terbagi dua. Mbak Nilam bahkan sempat tidak diperbolehkan menggunakan nama Baba Rafi. 

Konflik hukum, laporan polisi, demo karyawan, penjualan aset… semuanya datang bertubi-tubi. Di saat yang sama, ibunya didiagnosis leukemia.

Seperti jatuh lalu tertimpa tangga, masih ketiban durian. Pokoknya ampun deh. 

Kenyataan Tak Seperti Drama China 

Mbak Nilam bercerita bahwa di masa itu ia bahkan sempat dua kali mencoba mengakhiri hidupnya. Dan jujur, bagian ini membuat saya langsung teringat cerita-cerita drama China yang sering saya tonton. 

Tokohnya biasanya hidup dengan mengorbankan diri untuk orang lain sampai kehilangan dirinya sendiri. Setelah hidupnya hancur, dan ia meninggal, dia kembali ke masa lalu. Memutuskan hidup dengan cara berbeda. Lalu bertekad untuk memilih dirinya sendiri. Mulai berani mengambil peluang, membangun hidup, dan berdiri di atas kakinya sendiri. 

Tapi itu di drama, kalau di dunia nyata kita tidak bisa mengulang hidup. Yang mungkin terjadi di dunia nyata, bisa jadi seperti yang dialami Mbak Nilam. Percobaannya mengakhiri hidup gagal karena Tuhan memberinya kesempatan baru. 

Dan kali ini, seperti tokoh-tokoh di drama yang saya tonton, Mbak Nilam memilih bangkit. Ia tinggalkan peseteruan dengan mantan partner bisnisnya dan fokus pada kehidupannya sendiri. 

Ia mendirikan PT Sari Kreasi Boga, perusahaan yang bergerak di bidang makanan dan minuman berbasis kemitraan. Perusahaan ini kemudian berkembang pesat hingga akhirnya melantai di bursa saham pada tahun 2022 dan berhasil menghimpun dana masyarakat hingga sekitar 130 miliar rupiah. 

nilam-sari-founder-kebab-baba-rafi
sumber foto: hypeabis.id

Secara finansial, sebenarnya Mbak Nilam jelas sudah bisa hidup nyaman tanpa harus memulai lagi. Tinggal duduk manis dan menerima transferan tiap bulan. Tapi rupanya semangatnya tidak berhenti di sana. 

Tahun 2024, ia kembali membangun Nava Sari Kreasi, sebuah platform yang membantu mengkurasi UMKM dan menjembatani bisnis kecil menengah dengan investor melalui platform BukaOutlet.com. 

bukaoutlet

Sungguh drama kehidupan yang berakhir indah bukan? 

Keberanian Memulai Lagi 

Dari cerita itu, saya menyadari satu hal. 

Usia bukan musuh terbesar perempuan. Usia, bukan penghalang untuk mulai berkarya lagi. Yang sering jadi penghalang justru rasa takut, rasa minder, dan kebiasaan mengecilkan diri sendiri. Bahkan setelah jatuh bangun yang kita lewati di masa muda, selalu ada cara untuk bangkit lagi. Tergantung kita mau pilih jalan yang mana. 

Kita mungkin terbiasa terlalu lama hidup untuk orang lain sampai lupa membangun diri sendiri. Kita terlalu sering merasa peran kita “cuma” ibu rumah tangga. 

Padahal menjadi ibu rumah tangga bukan berarti hidup kita selesai. 

perempuan-usia-40

Selama ini kita mungkin terbiasa menjadi support system untuk semua orang. Memastikan anak makan, suami nyaman bekerja, rumah berjalan baik, semuanya terurus. Kita sibuk menopang kehidupan orang lain sampai lupa membangun diri sendiri. 

Dan lucunya, budaya kita sering memuji perempuan yang melakukan itu. 

Perempuan yang 'baik' dianggap yang selalu mendahulukan keluarga. Semua dilayani. Semua dipikirkan. Semua ditanggung sendiri. Lama-lama kita terbiasa merasa bahwa kebutuhan diri sendiri memang tidak penting. 

Padahal melayani keluarga bukan berarti mengorbankan seluruh hidup kita. Anak dan suami juga perlu belajar mandiri. Rumah tangga seharusnya dijalankan bersama, bukan menjadikan perempuan sebagai pusat seluruh beban domestik sambil perannya sendiri dianggap kecil. 

Kadang tanpa sadar, pola seperti ini ikut melanggengkan budaya patriarki. Perempuan terus memberi, tapi kehilangan ruang untuk berkembang. 

Yang paling menyentuh buat saya, adalah ketika Mbak Nilam menyadarkan bahwa kita harus menjadi support system untuk diri kita sendiri. Karena kenyataannya, dunia terus berubah. Anak akan tumbuh besar. Suami sibuk dengan dunianya sendiri. Dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. 

Lalu kalau suatu hari semua peran itu berubah, apakah kita masih mengenal diri kita sendiri? 

Saya bersyukur, lewat webinar bersama komunitas ISB kemarin, semangat dan kesadaran saya muncul. Saya belum terlambat untuk mulai lagi. 

Mungkin pelan dulu, Mungkin dari hal yang kecil dulu. Mungkin tidak langsung berhasil. Yang jelas saya tahu, bergerak sekarang lebih baik daripada meratapi nasib terus. 

Usia 40 bukan akhir dari kemungkinan. Justru mungkin ini fase saat kita mulai benar-benar mengenal dirinya, lebih berani, dan lebih sadar bahwa kita masih layak punya mimpi. 

Semoga perempuan Indonesia selalu bahagia, dan semoga tambah tahu...

Tidak ada komentar