Ini Rahasiaku Bahagia Jalani Hidup Apa Adanya Tanpa Syarat Ketentuan

Jalani hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan

Mungkin kah kita bisa bahagia dengan menjalani hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan? Bukankah hidup tak pernah sesederhana itu?

Sepanjang hidup saya kerap dibuat gusar dengan kutipan;

“Bahagia itu sederhana. Mulailah dengan mencintai dirimu dan jalani hidup apa adanya!” 

Duh, saya lupa dimana persisnya mendengar kutipan nasihat seperti ini. Mungkin karena terlalu banyak yang mengutip dan mengatakannya, sampai jadi lupa. Hahaha.

Sebenarnya nggak ada yang salah sih dengan kutipan itu. Toh, sah-sah saja kalau ada yang mau menjalani hidup sederhana apa adanya. Tapi apa iya bisa bahagia? Bukankah rasanya terlalu naif?

Naif dan sok puitis! Ya, sampai 10 tahun yang lalu saya masih berpikir hal itu terlalu naif. “Bahagia menjalani hidup apa adanya”, boleh jadi terlihat indah kalau tertulis di buku motivasi. Tapi tidak begitu dengan kenyataannya. Ya nggak?

Toh begitu, waktu memberi saya banyak pelajaran. Kutipan yang sebelumnya terdengar naif, harus saya akui ternyata memang benar adanya. Perjalanan waktu membuat saya mengalami beraneka benturan hidup yang membuat saya sampai pada kesimpulan, bahwa bahagia itu memang sederhana. Cukup dengan menjalani hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan.

Ah, sebelum berceloteh terlalu banyak, saya mungkin harus cerita dulu, siapa saya. 


Jalani hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan

Saya anak perempuan sulung dari 3 bersaudara. Keluarga kecil kami hidup cukup harmonis dan berkecukupan. Harus diakui, sejak kecil hingga remaja, saya hidup bagaikan puteri di dalam keluarga. Diberi kamar tidur yang nyaman, makan yang enak dan bergizi, pakaian yang cantik, sekolah berkualitas, dan tidak dibebani dengan tugas domestik yang berlebihan.

Di masa sekolah, saya juga nggak banyak mengalami kesulitan bergaul. Saya punya teman-teman akrab yang selalu melindungi, juga punya banyak sepupu jagoan yang siap maju kalau ada yang berani menganggu. Di sekolah juga nilai-nilai saya lumayan bagus dan kerap diminta untuk berpartisipasi di lomba ini itu oleh sekolah.

Terdengar sempurna ya? 

Namun tidak begitu buat saya yang menjalaninya. Sebagai anak sulung, sejak kecil saya sudah terdoktrin untuk selalu jadi panutan dan contoh buat adik. Itu sebabnya, segala tindak tanduk dan perkataan saya harus serba sempurna. Nilai sekolah harus bagus, hidup saya harus tertib, tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar, apalagi kalau sampai nakal atau bolos sekolah.

Jangankan bolos sekolah, mencontek saja nggak pernah.

Eh, ini bukannya sok suci ya. Memang begitu kenyataannya. Saya nggak punya nyali dan keberanian besar buat mencontek. Bukan semata karena saya tahu itu salah, tapi yang lebih saya khawatirkan adalah bagaimana pendapat guru dan orang-orang disekeliling saya. Sekali ketahuan mencontek, bisa habis reputasi. Jangan-jangan nanti dikira nilai saya selama ini hasil mencontek. Saya takut orang tua saya kecewa.

Yup, hidup saya memang kelihatan sempurna, tapi saya sebenarnya tidak sesempurna itu. Saya yang sebenarnya tidak punya otak cerdas. Makanya setiap hari saya harus mengulang pelajaran siang malam agar bisa mendapat nilai yang bagus.

Tak jarang saya juga harus memendam kekesalan saat ada yang bersikap nggak sopan. Saya takut, kalau saya memaki atau memarahi orang sembarangan, saya bakal dicap sebagai orang yang kasar, tidak punya sopan santun.

Image anak manis dan anak pintar lebih terasa seperti belenggu ketimbang pujian.

Jujur saja, saya sering capek menjalani hidup. Kapan ya saya bisa jalani hidup dengan santai, tanpa kepura-puraan, tanpa basa basi?

Sempat terlintas juga pikiran, “Apa jadinya kalau saya mati ya?” Toh dunia nggak bakal berhenti berputar, kalau saya nggak ada kan?” Tapi lagi-lagi, saya takut mengecewakan.

Harus sempurna 

Image anak manis dan anak pintar membuat saya selalu menetapkan standar tinggi dalam hidup. Saya harus jadi nomor satu! Dan tidak akan berhenti berjuang sebelum menjadi nomor satu!

Masalahnya adalah, standar yang saya buat ini selalu dibuat berdasarkan standar orang lain. Saya nggak punya waktu untuk memikirkan apa sebenarnya yang saya inginkan. Saya bahkan nggak tahu mau jadi apa nanti. Saya lihat orang jadi juara, saya pun berjuang untuk jadi juara. Dan karena kuliah di universitas negeri kelihatan bergengsi, saya pun mengejar mimpi untuk bisa kuliah di universitas negeri.

Masih terekam jelas dalam ingatan, betapa kerasnya saya berusaha untuk bisa lulus UMPTN. Saya nggak pernah absen ikut kelas bimbingan belajar, mencoba soal ini itu, dan tekun beribadah. Tapi gimana hasilnya? Gagal.

Ya, saya gagal masuk universitas negeri karena alasan yang menyebalkan. Saya terkena demam berdarah di hari pertama pelaksanaan UMPTN. Alhasil, saya hanya bisa mengerjakan soal sekenanya dan langsung pingsan. Sungguh menyebalkan!

Tapi, mana orang lain mau tahu kan kalau saya gagal karena DBD. Yang mereka tahu, saya nggak lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri. Itu saja!

Lalu seperti yang bisa ditebak, penilaian mereka kepada saya pun berubah. Malah ada teman yang dengan terang-terangan bilang, “Kamu ternyata nggak sepintar itu ya. Masa tes di UGM saja nggak lolos.”

Detik itu juga, rasanya pengin saya hajar tuh orang.

Kurang bagaimana lagi sih? Rasanya saya sudah berjuang mati-matian tapi karena satu kegagalan, usaha saya selama ini rasanya jadi sia-sia.

Tapi waktu itu saya cuma bisa senyum simpul dan bersikap seolah-olah omongannya bukan masalah. 

Tak lulus UMPTN, mungkin ada baiknya. Setidaknya setelah itu orang-orang nggak menilai saya dengan standar yang terlalu tinggi. Jadi kesempatan ini saya pakai untuk mulai mencoba hal baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Lalu saya sadar, selama ini saya merasa nggak punya banyak pilihan hidup karena saya nggak pernah mencoba hal baru. Saya hanya melakukan apa yang didikte oleh lingkungan. Itu tentu saja tidak membahagiakan dan jadi butuh usaha yang sangat keras karena passion saya memang bukan disana. 

Waktu memberi pelajaran dengan caranya sendiri. Makin saya dewasa makin banyak pula waktu yang saya habiskan buat merenungi hidup. Selama itu, saya terus merenungi apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup. Hingga suatu hari sampailah pada kesimpulan, ya saya ingin bahagia!

Tapi bahagia yang seperti apa? Dan bagaimana cara bahagia?

Butuh waktu 10 tahun sampai akhirnya menemukan bagaimana caranya hidup bahagia. Caranya sederhana, persis seperti kutipan diatas tadi, “Bahagia itu sederhana. Mulailah dengan mencintai dirimu dan jalani hidup apa adanya!”

Saya tahu, di dunia serba material dan kompetitif begini memang sulit hidup bahagia tanpa kepura-puraan, tanpa modus dan tanpa tipu-tipu. Dunia yang kita tempati saat ini memang seperti rimba, yang kuat memangsa yang lemah. Orang-orang saling sikut, saling rebut dan berlomba-lomba. Tapi mau sampai kapan begitu?



Pada akhirnya kegilaan orang untuk berkompetisi dan saling mangsa justru akan membuat dunia semakin bertambah “sakit”. Kita sudah melihat sendiri dampaknya kan? Masa masih mau terhanyut dalam hidup yang tidak menyenangkan seperti itu? 

Kita bisa kok memilih jalan hidup lain yang lebih nyaman dan membahagiakan. Alih-alih saling berkompetisi mengapa kita tidak coba untuk kolaborasi? Daripada saling sikut, mengapa kita nggak saling dukung? 

Bukankan dunia yang seperti itu akan jadi dunia yang indah? Berdasarkan perjalanan hidup itu, kali ini saya mau sharing sedikit, apa saja yang bisa kita lakukan untuk menjadi bahagia menjalani hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan

1. Nggak perlu memaksakan diri ikut tren 

Jalani hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan

Bagi saya, selalu mengikuti tren bukanlah sebuah prestasi. Nggak semua yang lagi hits diluar sana cocok dan layak diikuti. Lakukan saja hal yang sesuai dengan passion dan pribadi kita, dibilang ketinggalan jaman nggak masalah, toh kita hidup nggak berdasarkan standar orang lain kan? 
Lagian apa enaknya sih hidup cuma jadi follower? 

2. Nggak perlu jadi orang yang selalu update dengan berita terkini 

Jalani hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan

Kadang kita perlu menarik diri sedikit dari riuhnya kehidupan media sosial. Yup, kita nggak perlu memaksakan diri untuk selalu pantengin smartphone buat tahu apa kabar terkini. Yuk coba hidup lagi di dunia nyata, ngobrol lagi dengan tetangga, becanda lagi dengan saudara atau orang tua, atau curhat lagi sama sahabat. Ketinggalan berita sesekali nggak apa kok, malah berkurang stresnya. 

3. Nggak perlu takut mengubah pendapat 

Jalani hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan

Hari ini ngomong A, lalu besok bilang B. Ah, itu bukan berarti kita plin-plan. Bisa aja hari ini kita menemukan fakta baru yang membuat kita mengubah pendapat kan? 
Nggak masalah kok. Jangan bohongi diri sendiri, dan nggak perlu malu mengubah pendapat hanya karena takut dibilang plin-plan. Selama punya argumen untuk menguatkan alasan kita mengubah pendapat, hal itu sah sah saja. 

4. Nggak usah membandingkan diri sendiri dengan orang lain 

Saya bukan kamu, kamu bukan saya. Nggak ada orang yang sama di dunia ini, makanya jangan selalu membandingkan dirimu dengan orang lain. Alih-alih menghabiskan waktu membandingkan diri dengan orang lain lebih baik menggali potensi diri deh. Lagian ya, kita juga belum tentu bisa sukses kalau hanya mengikuti “jejak” orang. Ayo temukan “jalanmu” sendiri. 

5. Jangan remehkan kemampuan diri sendiri 

Nggak berani mencoba sesuatu karena takut gagal? Ya ampun jangan remehkan kemampuanmu sendiri dong. Darimana tahu bakal gagal kalau nggak berani mencoba? Berdasarkan pengalaman saya sih, memang tidak ada yang bisa langsung berhasil di percobaan pertama. Tapi percobaan pertama seringkali membuat kita jadi percaya diri dan bisa belajar hal baru. Dan itu seru banget lho! 

6. Belajar kenali diri sendiri. Cintai dan hargai diri sendiri 

Tidak ada yang lebih pantas dicintai selain dirimu sendiri. Seringkali kita sibuk mikirin apa kata orang, sampai lupa mendengarkan kata hati sendiri. Coba sesekali berdiam dan dengarkan kata hatimu sendiri deh. Apa yang kamu mau, apa yang kamu suka. Jangan biarkan kata hatimu sendiri terus menerus terabaikan. 

7. Ekspresikan diri apa adanya 

Jalani hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan

Poin yang ini berkaitan erat dengan poin ke-4. Capek nggak sih kalau terus menerus mencoba jadi orang lain? Saya pernah menjalani hidup seperti orang lain selama 28 tahun, dan saya capek banget lho. Menjalani hidup dengan mengikuti standar yang dibuat orang lain itu melelahkan. Butuh waktu 10 tahun, hingga kini saya bisa mengekspresikan diri apa adanya, tanpa basa-basi

Jadi coba deh, berkomunikasi dan tampilkanlah dirimu apa adanya. Mungkin nanti ada yang bakal nyinyir, tapi nggak apa. Jangan dimasukin ke hati. Orang yang nyinyir itu biasanya karena nggak tahu cara mengeksresikan diri apa adanya kok. Makanya jadi frustasi, lalu nyinyirin orang lain. Coba share artikel ini ke dia, siapa tahu dia jadi sedikit tercerahkan. 

Ngomong-ngomong soal menampilkan diri apa adanya di media sosial. Menurut saya, memilih layanan provider yang bisa mendukung kita tampil apa adanya tuh juga penting banget. Ya seperti layanan IM3 Ooredoo yang juga mengusung nilai yang sama dengan kita gini, hidup apa adanya tanpa syarat ketentuan

Kok bisa gitu? 

Iya, soalnya IM3 Ooredoo ini punya paket Freedom Internet yang transparan menyediakan 100% kuota utama tanpa syarat dan ketentuan tersembunyi. Jadi nggak ada tuh namanya kuota malam yang cuma bisa buat internet-an menjelang subuh atau kuota yang bisa dipakai di daerah tertentu aja. Dengan paket Freedom Internet kita bisa bebas internetan dimana saja, kapan saja. 

Jadi, nggak ada alasan lagi kan buat terus hidup dalam kepura-puraan. Jangan seperti saya yang butuh 37 tahun untuk hidup bahagia apa adanya deh. Kalian bisa mulai hidup bahagia dari sekarang. Yuk jalani hidup apa adanya, tanpa syarat ketentuan

Semoga jadi tambah tahu dan selalu bahagia ya...

27 comments

  1. Wahhh jadi ini rahasianyaa..
    terima kasih lho sudah bagi-bagi rahasia bahagianya..
    semoga bahagia dan sukses selalu ya mbak..

    ReplyDelete
  2. Poin 1 sampai 7 itu memang membuat kita berpikir untuk lebih menjadi milenial yang cerdas, tidak perlu modus dalam menjalani kehidupan karena jalani hidup apa adanya lebih bahagia

    ReplyDelete
  3. hahahaha.. toss kita, Mba. Saya pun ga pernah yang namanya nyontek. Udah gemeteran duluan kalau nyontek. Tapi kasih contekan ke temen sih sering... hahaha.. yang penting jangan saya yang nyontek. memang jadi diri sendiri itu sebenrnya mudah, tapi banyak orang mempersulitnya hanya karena mau ikutan jadi orang yang terkenal dan hits. Akhirnya menyiksa diri deh.

    ReplyDelete
  4. Setuju banget dengan point2nya di atas Wid.
    Tapi kalo emang pekerjaan di Sosmed, harus rajin apdet ya pinter2 kita aja yang terpenting tetep jadi diri sendiri, fokus berkarya di bidangnya masing2 .

    ReplyDelete
  5. Wah, iya ya sebel juga kalau dengerin kata orang. Apalagi pas mbak ga masuk PTN karena sakit :( Ya memang lidah tidak bertulang. Kita mesti belajar bodo amat sama orang hhihihihi.. Aku pun termasuk tipe perfeksionis jadi maunya oke semua. Dikit2 jalani hidup apa adanya yang penting udah berusaha keras dan berdoa.

    ReplyDelete
  6. sakit bgt ya jadi orang yg dianggap sempurna, tp pas sekalinya gagal langsung dijudge gak enak. :(

    ReplyDelete
  7. Saya juga anak sulung Mba, emang berat tanggungan anak sulung ya, tuntutan sosialnya suka bikin gak kuat

    ReplyDelete
  8. Paling enak memang menjadi diri kita sendiri, mau ngapain juga lebih happy. Jadi gak punya ketakutan memaksakan diri jadi orang lain. Aku dari awal bikin medsos emang dijadikan journal untuk rekam jejakku dan memang sesuai dengan apa adanya aku saja.

    ReplyDelete
  9. Lelah ya mba kalau kita menerapkan standar hidup kita dengan pakai standar hidup orang lain. Toh kita yang menjalani hidup kita. Kita yang paling tahu dengan kondisi hidup kita. Yang terpenting standar hidup kita selalu berlandaskan pada aturanNya biar kita tidak salah membuat standar hidup kita sendiri semangat kita mba 😘😘

    ReplyDelete
  10. ke semua poin yang mba share buat jalani hidup bahagia tanpa syarat ketentuan bisa banget diterapin ya mba... mesti konsisten punya sikap atas diri sendiri

    ReplyDelete
  11. Hidup memang seringkali complicated. Tetapi, memang ada beberapa kerumitan yang kita bikin sendiri. Makanya berusaha apa adanya aja, deh

    ReplyDelete
  12. Wah, 37 tahun yang terasa melelahkan ya, tapi pasti ada hikmahnya... Yang penting sekarang bahagia apa adanya tanpa harus memenuhi standar orang lain ;)

    ReplyDelete
  13. Poin-poinnya jelas. Tapi buat saya, nggak selalu mudah dipraktikkan sih hahahah (jujurrrrr). Tapi sering-sering membaca advice kayak begini jadi reminder. Menerima diri memang butuh prosesss

    ReplyDelete
  14. Jalani hidup tanpa syarat dan ketentuan dengan apa adanya. Menarik. Pembelajaran hidup ditulis jujur, apa adanya ini akan membuat yang membacanya juga belajar.

    ReplyDelete
  15. Bener ya bahagia apa adanya tanpa syarat dam ketentuan yang berlaku, malah bikin hidup bebas tak ada beban. Nah untuk sosmed juga gitu aja, asiknya kalo didukung provider yang kasih bebas internet kalo yang utama udah abis kuotanya

    ReplyDelete
  16. Setuju pakai banget pas di bagian ini:

    "... bahagia itu sederhana. Mulailah dengan mencintai dirimu dan jalani hidup apa adanya!”

    Yep. Mencintai diri sendiri dulu barulah kemudian bisa mencintai orang lain, menurutku.

    Caranya, Hayati?
    Menerima segala kekurangan dan kelebihan diri dan menghormati pilihan orang lain.

    ReplyDelete
  17. Sebagian cerita Mbak juga aku rasain. Akhirnya aku meledak dan memilih jalani hidup versi diri sendiri dan apa adanya. Lebih beruntung karena gak sampai nunggu 37 tahun

    ReplyDelete
  18. Dulu, aku juga terlalu sibuk mikirin pendapat orang lain. Karena yang namanya orangtua, pasti ingin membanggakan anak-anaknya di depan saudara dan teman. Sungguh sulit bisa menjadi diri sendiri.

    Sejak menikah, alhamdulillah...
    Makin bisa bereskpresi dan menjadi diri sendiri.

    ReplyDelete
  19. Self-love tuh pentiiing pake banget ya Mba
    Wis, biarkan aja kometar orang2 terkait diri kita
    Yg penting kita bahagia dgn diri kita, apa adanya :)

    ReplyDelete
  20. Soal mencontek itu makanya saya palig gak suka sama ujian pilihan ganda haha, lbh suka ujian lisan atau isian jd bisa mengutarakan isi kepala gtu mbak :D
    Anti nyontek2 klub jua walau dapat nilai jelek gk masalah asal hasil karya sendiri hehe

    ReplyDelete
  21. Sepakat aku Mbak cintai diri sendiri maka kita akan bisa mencintai orang lain setelah proses ini berjalan dengan baik aku yakin kita akan ketemu dengan orang-orang yang saling mencintai dan berkasih sayang termasuk kalau si jomblo ketemu pasangannya

    ReplyDelete
  22. Yuhuuu...Mbak Wied sama persis nih dengan saya nggak berani nyontek sewaktu sekolah. Alasannya ya sama kurang lebih begitu. Selain itu aku malu sama Allah hehe. Jadi nggak berani ajah sih.

    ReplyDelete
  23. emang lidah tak bertulang, gampang banget temannya ngejudge begitu. emang lulus UGM juga segampang balik telapak tangan, apa

    ReplyDelete
  24. Memang melelahkan kalau mendapat tuntutan harus selalu keliatan sempurna. Semua yang kita lakukan berdasarkan pada pendapat orang. Memang lebih baik kita hidup apa adanya aja, dan banyak bersyukur ya...

    ReplyDelete
  25. Bahagia dengan standar orang lain itu bikin lelah ya Mbk enggak jadi diri sendiri dan makin sedih kalau enggak berhasil, semangat selalu Mbk! Ikut belajar menjadi orang bahagia tanpa pura-pura dari sharingnya.

    ReplyDelete
  26. Aku setuju mba sama semua point nya, jadi diri sendiri, bebas mengekspersikan diri tanpa kepura-puraan memang perlu ciupayakan di jaman ini.

    ReplyDelete
  27. Mencintai diri sendiri kunci jujurnya ya mbak, dan jadi teringat kalau dulu mau nyontek itu gemetaran masak aku, fuuuuh nggak bisa kayak gitu.

    ReplyDelete