-->

Kenapa Kereta Api Hanya Ada di Jawa?

November 12, 2019

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi
“Kenapa kereta api hanya ada di Jawa?” 
Pertanyaan itu kerap kali melintas di kepala saya 30 tahun silam. Sebagai anak Indonesia yang lahir dan tumbuh besar di pesisir Kalimantan Timur, kereta api ibarat moda transportasi eksklusif yang hanya bisa dinikmati oleh penduduk Jawa saja. Sangat disayangkan.

Sekitar tahun 1990-an, di Bontang Kalimantan Timur, tempat saya menghabiskan masa kecil, kami lebih terbiasa menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian ke kota tetangga seperti Samarinda atau Balikpapan. Bukan karena banyak uang dan mampu membeli mobil. Tapi karena hanya itu pilihan utama transportasi yang paling nyaman. Bus antar kota yang tersedia jumlahnya sangat terbatas, sementara pilihan lain ada pesawat terbang perintis yang hanya bisa digunakan oleh kalangan terbatas. Jadi pilihan utama untuk bisa bepergian keluar kota, tentu saja dengan mobil pribadi.

Ketika itu saya kerap berangan, andai saja ada kereta api di Kalimantan. Ah bepergian ke Samarinda atau Balikpapan tentu bakal lebih menyenangkan.

Kali pertama naik kereta api 

Pengalaman pertama saya naik kereta api terjadi di tahun 2001. Saya baru mulai berkuliah saat itu, dan beberapa teman sekolah menyarankan untuk berangkat ke Yogyakarta dari Madiun dengan menggunakan kereta api.

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi

Wah, sungguh tak terbayangkan perasaan saya saat itu. Antusias sekali. Ini sejarah besar dalam hidup saya. Setelah 18 tahun hanya membayangkan kereta api dari lagu “Naik Kereta Api” yang digubah Ibu Sud, akhirnya saya bisa merasakan benar rasanya naik kereta api sungguhan.

Tapi waktu itu Bapak mengingatkan, “Jangan terlalu senang. Naik kereta api nggak seenak itu lho, apalagi kalau naik ekonomi.” 

Ucapan Bapak ternyata tidak meleset. Saya sampai tercengang menghadapi kondisi riil stasiun dan kereta api yang saya naiki waktu itu. Bayangkanlah, sesampai di Stasiun Madiun, saya dan tiga orang rekan lain langsung dicegat oleh beberapa pria setengah baya. Mereka menanyakan tujuan keberangkatan kami.

“Mau ke Yogya,Pak,” jawab teman saya saat itu.

“Tiket ke Yogya habis semua. Kalian belum pesan kan? Saya bisa bantu sih, tapi harganya beda dengan di loket,” pria itu menjawab tanpa basa basi.

Nadanya memang ramah tapi terasa sedikit mengintimidasi. Setelah berunding alot, salah seorang teman saya lainnya, akhirnya memutuskan untuk langsung bertanya ke loket. Tiket kereta masih bisa dibeli, dan kami hampir saja jadi korban calo.

Apakah drama saya dan kereta api selesai sampai disitu? Tentu tidak.

Kami duduk di kelas ekonomi. Gerbong itu penuh dengan penumpang dan kami terpaksa duduk ngemper di lorong gerbong. Udara di dalam gerbong panas, bau pesing kamar mandi bahkan sesekali menyapa hidung saat ada yang membuka pintu kamar mandi.

Namun, yang lebih membuat saya takjub saat itu adalah kehadiran “penumpang gelap” di sana, seekor ayam. Ya ada penumpang yang membawa seekor ayam yang ditempatkan di sebuah tas anyaman. Situasinya persis dengan yang penah saya lihat di film Warkop DKI, hanya saja ini kejadian nyata yang terjadi di depan mata saya sendiri.

Buyar sudah angan indah tentang kereta api. Sejak itu saya kapok menggunakan kereta api. Saya pilih naik bus saja untuk bolak balik, meski sama-sama tak nyaman tapi lebih murah.

Sekitar tahun 2010, saya mulai rajin lagi naik kereta api. Kali ini kereta jarak pendek tujuan Solo-Yogya. Kereta Prambanan Ekspres (Prameks) yang saya tumpangi kali ini kondisinya sangat berbeda dengan kereta pertama yang saya naiki. Kali ini jauh lebih nyaman, mungkin karena Prameks hanya kereta jarak pendek sehingga kenyamanan gerbongnya juga lebih terjaga. Entahlah.

Bepergian dari Solo ke Yogya dan sebaliknya jadi jauh lebih mudah saat itu. Biaya tiketnya sangat murah hanya Rp 7.000 saat itu dan durasi perjalanan juga jadi lebih singkat. Trauma dengan kereta api mulai memudar, kini saya bisa sedikit menikmati enaknya naik kereta.

Kereta api masa kini

Melompat ke waktu 2019, setelah beberapa tahun tidak menggunakan kereta api. Kali ini karena berbagai kesibukan menulis blog, saya mulai rajin bolak balik Yogya-Solo lagi. Tentu saja kereta api jadi pilihan moda transportasi.

Namun lebih dari lima tahun tidak menggunakan kereta api membuat saya tergagap dan ternganga melihat kondisi stasiun dan kereta api masa kini. Bukan karena kondisinya mengingatkan pada trauma 19 tahun lalu ya. Justru sebaliknya, kereta api zaman sekarang terasa jauh lebih nyaman dan aman ketimbang kali terakhir saya naik kereta.

Yuk coba kita jabarkan apa saja yang berbeda dari kereta api zaman sekarang.

1. Modernisasi dan peremajaan stasiun 
Stasiun zaman sekarang jauh tampil jauh lebih modern. Stasiun Balapan dan Puwosari di Solo sudah direnovasi jadi lebih menarik. Ada sentuhan arsitektur Jawa di bangunan asli yang bergaya kolonial. Di Stasiun Balapan bahkan sudah dibangun skybridge yang terhubung langsung dengan Terminal Tirtonadi. Penumpang tidak perlu repot lagi keluar stasiun, menyeberang rel dan berebut jalur dengan mobil dan motor seperti yang terjadi 5 tahun silam.

Pedagang asongan yang sempat saya temui di stasiun beberapa tahun lalu juga sudah tidak ada. Sebagai gantinya, ada banyak stand dan booth makanan dan minuman enak di dalam stasiun. Malah ada minimarket juga.

2. Ruang tunggu stasiun yang nyaman dan manusiawi 
Kenapa saya harus menyebut manusiawi? Ya karena saya pernah mengalami sendiri ruang tunggu stasiun kacau balau yang membuat saya kurang dimanusiakan. Tempat duduk ruang tunggu yang bolong hingga ceceran sampah di ruang tunggu. Haduuh

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi

Tapi ruang tunggu stasiun zaman sekarang, tidak begitu. Tempat duduknya nyaman, dengan bantalan empuk yang melapisi tiap tempat duduk dan pengisi daya di kursi. Ditambah lagi, ruang tunggu stasiun kini lebih bersih. Keranjang sampah ditempatkan dibanyak titik. Sungkan rasanya kalau kita masih membuang sampah sembarangan sementara tempat sampah hanya berjarak dua meter dari tempat kita duduk.

3. Serba online (KAI Access) 
Ini yang paling saya apresiasi dari transformasi kereta api, adaptasi kemajuan teknologi.

Dulu saya harus membeli tiket dengan mengantre lama di loket. Meski belum pernah punya pengalaman kehabisan tiket, tapi tetap saja melelahkan. Sekarang saya bisa memesan tiket kereta api dimana saja kapan saja melalui KAI Access atau aplikasi pemesanan tiket online lainnya. Nggak perlu lagi capek-capek buang waktu dengan mengantre lama. Mulai dari pemesanan hingga pembayaran sudah langsung bisa dilakukan melalui KAI Access dan aplikasi pembayaran LinkAja. Praktis.
keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi

Nanti, sesampai di stasiun tinggal cetak boarding pass di mesin cetak yang tersedia didekat peron atau loket. Tapi saya sendiri sih lebih suka menggunakan e-boarding pass. Tidak perlu cetak tiket, cukup scan QR Code saat masuk peron dan pengecekan tiket di dalam kereta, lebih hemat kertas. 

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi

Pembelian tiket online seperti ini juga secara alami menghilangkan praktik percaloan seperti yang saya alami belasan tahun silam. Rasanya jadi lebih aman dan nyaman.

4. Banyak pilihan kereta 
Sekarang saya tidak pernah khawatir saat kehabisan tiket Prameks, karena ada banyak pilihan kereta untuk bepergian dari Solo ke Yogya dan sebaliknya. Pada Mei 2018, Kereta Solo Ekspres yang melayani rute Solo-Yogya-Kutoarjo mulai resmi beroperasi. Kereta ini memiliki fasilitas yang jauh lebih nyaman dari Prameks. Kursi penumpang yang nyaman, pendingin udara dan pengisi daya di tiap tempat duduk. Cukup sepadan dengan harga tiketnya Rp 30.000. Dalam waktu dekat, pemerintah bahkan juga akan meluncurkan KA Bandara di Solo.

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi
Interior Solo Ekspress. Sangat nyaman dengan harga tiket yang murah yaitu Rp 30.000

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi
kereta api sekarang cukup nyaman untuk mengajak anak bepergian.

5. Interkoneksi dengan moda transportasi lain 
Stasiun zaman sekarang terkoneksi dengan moda transportasi lain. Sebut saja seperti Stasiun Balapan yang terhubung dengan Terminal Tirtonadi melalui skybridge, atau Stasiun Maguwo yang lokasi berada di area Bandara Adi Sucipto Yogya. Bahkan konon dalam waktu tak terlalu lama lagi, pemerintah juga akan meresmikan KA Bandara untuk Bandara Adi Soemarmo, Solo dan Bandara Udara Internasional Yogyakarta.

Ya, walaupun kedua bandara itu lokasinya jauh dari kota, namun kita nanti tidak perlu kesulitan lagi mengaksesnya. Jadi nanti nggak perlu lagi ada drama mengeluhkan taksi bandara yang tarifnya selangit. Iya kan?

Oke, untuk urusan interkoneksi dengan transportasi publik lainnya ini memang belum sepenuhnya terealisasi, namun setidaknya kesadaran itu sudah ada. Rencana sudah disiapkan tinggal menunggu realisasinya. Jadi boleh dibilang pemerintah kini sudah mulai “waras” dan sadar dengan kebutuhan rakyat terhadap transportasi publik yang mudah, murah, nyaman dan aman.

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi

Transportasi Unggul, Indonesia Maju

Sebagai pengguna transportasi publik, saya mengapresiasi kinerja Kementerian Perhubungan selama 5 tahun terakhir. Terutama dalam kerja kerasnya membenahi transportasi publik yang “salah urus” selama 15 tahun sebelumnya, serta keaktifannya dalam mengedukasi publik melalui website dan instagram resmi kementerian perhubungan (@kemenhub151).

Seperti yang saya bilang sebelumnya, setidaknya saya mulai bisa berlega hati lah karena pemerintahan Jokowi saat ini mulai memperhatikan pembangunan dan pengembangan transportasi publik di luar Jawa, sambil terus membenahi transportasi publik di Jawa.

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi

Pembangunan dan pengembangan jalur kereta api mulai dilakukan di pulau-pulau lain di luar Jawa. Beberapa tahun lagi, saudara-saudara saya di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera juga bisa menikmati nyamannya bepergian dengan Kereta Api, dan mereka tidak akan lagi berpikir “Kereta api hanya untuk orang Jawa.”

Kendati begitu, ada banyak pekerjaan rumah lain yang perlu segera dikerjakan, tidak hanya oleh Kementerian Perhubungan sebagai operator dan pemangku kebijakan tetapi juga kita, para pengguna transportasi publik

1. KAI Access masih suka error 
Aplikasi KAI Access ini saya cintai tapi juga sering saya maki-maki. Bagaimana tidak? Setidaknya bulan lalu, dua kali saya nyaris gagal pergi karena tidak bisa mengakses KAI Access. Kali lainnya tiket KAI Access yang saya pesan hilang dari aplikasi. Untung masih bisa kembali setelah dibantu oleh customer service.


Jadi, please lah KAI. Tolong benahi lagi aplikasi KAI Access supaya terbebas dari gangguan-gangguan semacam itu. Jujur saja, saya sangat terbantu sejak ada aplikasi ini tapi hati saya tak tenang rasanya kalau KAI Access tetiba error.

2. Budaya tidak tertib
Kalau untuk urusan ketertiban ini penekanannya jelas kepada para pengguna. Ya saya sendiri, ya kalian-kalian juga, para pengguna transportasi publik khususnya kereta api.

Sampai sekarang, saya masih sering loh menjumpai pengguna kereta yang tidak tahu aturan dan seenaknya sendiri. Misalnya membuang sampah sembarangan di stasiun dan kereta. Iya sih, tenaga kebersihan yang dikerahkan di kereta dan stasiun kini lebih banyak, jadi kalau ada yang nyampah nggak sampai bikin kotor banget. Tapi kan tetap aja menyebalkan. Wong tempat sampah juga tersedia banyak kok di area stasiun.

keamanan, kenyamanan dan keselamatan transportasi

Lalu ada juga yang sering memotong antrean saat mau naik kereta. Saat kereta belum lagi berhenti, mereka sudah mendesak-desak ini berada di barisan terdepan supaya bisa langsung masuk ke kereta. Kadang sampai melanggar marka kuning, batas aman kereta. Ya ampuuun, mbak mas nggak usah sampai segitunya juga kali. Coba sabar sedikit, tunggu sampai kereta berhenti. Selain bahaya, kasihan juga petugas stasiun yang kerepotan mengatur sambil meniup peluit. Kan kalau ada apa-apa mereka yang disalahkan. Padahal penumpangnya juga nggak tertib.

Menurut saya, slogan Transportasi Unggul, Indonesia Maju tidak hanya bisa tercapai dari usaha keras pemerintah dalam perbaikan fasilitas dan pembangunan infrastruktur saja. Mimpi transportasi unggul yang membawa Indonesia maju ini juga baru bisa tercapai kalau kita sebagai masyarakat ikut memberi dukungan.

Caranya bagaimana?

Sederhana saja, mulailah dengan menghargai dan menjaga fasilitas transportasi publik yang sudah ada saat ini. Ingat pembangunan ini juga dibiayai oleh pajak kita lho. Jadi, rugi dong kalau kita rusak sendiri. Selanjutnya, mulailah dengan menggunakan fasilitas transportasi dengan lebih beretika.

Perhatikan dan hargai juga kebutuhan pengguna lainnya. Jangan seenaknya sendiri. Mulai dengan antre dengan rapi, jangan saling serobot. Jaga kebersihan fasilitas publik. Bagaimanapun ini untuk kepentingan kita bersama bukan?

Semoga jadi tambah tahu ya

Sumber foto : 

  • dokumen pribadi
  • @kemenhub151
  • www. kai.id

You Might Also Like

15 comments

  1. KA masa kini enjoooyy banget! bersih, petugasnya cekatan, ramah, pokoke top markotop!
    Aduuh, aku jadi pengin traveling naik KA nih

    BalasHapus
  2. Aku belum pernah merasakan kereta jaman dulu sih mak, jadi nggak bisa membandingkan langsung. Dengernya cuma dari papa aja, kalo dulu kereta itu riweuh.
    Seneng bisa naik kereta yang sekarang karena lebih rapi dan nyaman. masalah kai acces itu aku baru pernah nyoba beli sekali dan frustasi karena ngepasin error. coba ada cara pembayaran lain dan bisa beli KA lokal nggak pake kai, atau aplikasinya diperbarui terus biar oke.
    pasti lebih menyenangkan lagi

    BalasHapus
  3. Kalau dibandingkan duluuuu pelayanan kereta api jauh lebih baik yaa... Daerah di Indonesia makin terhubung dengan pembangunan jalur-jalur baru dan rehabilitasi jalur kereta. Sebagai warga yang menikmati pelayanan publik memang harus menjaga fasilitas yang telah dibangun negara.

    BalasHapus
  4. Aku belum pernah naik kereta saat kacau balaunya dulu. Tapi tahun 2015 dan 2019 tetap merasakan perubahannya. Terutama saat membeli tiket karena bisa onlinr tanpa perlu mengantre. Semoga transportasi Indonesia semakin maju.

    BalasHapus
  5. Iya, aku juga ngrasain beda banget kereta api di masa lalu sama naik kereta api jaman xekarang. Pernah ngrasain duduk di lantai KA ekonomi yang over load, trus diinjek2 bakul minuman

    untungnya sekarang naik kereta api, meski ekonomi tetep nyaman. Bersih dan ga pake acara diinjak2 pedagang asongan...karena semua duduk di kursi masing2

    BalasHapus
  6. Kereta api tahun jadul memang begitu. Bikin greget dan ngelus dada. Pertama kali naik kereta api dulu Jakarta - Bogor. Meski sebentar, saya rasanya mual dan enggak karuan.

    Tapi pas tahun 2012 ke sini, saya naik kereta api Purwokerto - Yogyakarta sudah tertib. Tidak ada pedagang asongan yang suka 'menyelinap' begitu saja.

    Melihat perubahan yang sekarang, jauh lebih keren. Tapi ya itu, kadang KAI access kadang eror. Terus ada juga yang merusak fasilitas umum dari KAI. Kan sayang banget.

    BalasHapus
  7. Kualitas pelayanan kai sekarang sudah semakin baik ya... Jadi pengen jalan-jalan naik kereta nih...

    BalasHapus
  8. Wah ternyata banyak calo yah jadi better langsung ke konter tiket atau pakai aplikasi online ya kak

    BalasHapus
  9. Aku ngrasain naik kereta dari umur 1 tahun, Mbak. Dan bener banget, dulu tuh nyiksa banget kalau naik kereta.Tahun 2013 aja masih nyiksa. Masih ada calo.Alhamdulillah, skrg sudah sangat oke ya

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah pelayanan KAI makin hari makin oke, baca artikel ini aku jadi flashback ketika dulu susah banget yang namanya nyari tiket kereta api, bisa beli hanya dengan calo. Kalau sekarang karena semakin ketat peraturan, semoga gak ada calo nya

    BalasHapus
  11. Kereta Api salah satu favorite ku bngt mba hmpir setiap Hari ini aktivitas selalu Naik kereta Api smoga saja tersebar smp luar Pulau jawa biar aksesnya semakin mudah Dan cepat

    BalasHapus
  12. aku sekarang kalau ke Jakarta untuk urusan keluarga lebih prefer naik kereta api. rasanya lebih nyantai aja, turun dari kereta jalan dikit udah nyampe mobil jemputan sodara. kalau naik pesawat kayanya capek gitu...hehehe

    BalasHapus
  13. hihi pengalaman pertama malah berebut tempat dg penumpang gelap donk ya. gak seru karena kok jd aneh. hihi. saya jg pertama kali naik yg ekonomi lama2 bs milih yg nyaman

    BalasHapus
  14. Yaaa...setuju pake banget.
    Kalau kita harus saling menjaga fasilitas umum layaknya milik sendiri.
    karena itu bagian dari adab.

    BalasHapus
  15. Akupun turut merasakan perubahan wajah kereta api Indonesia. Waktu kecil naik kereta api dari Garut ke Bandung, pulang dari rumah kakek. Waduh itu sesaknya ampun deh, cerita mbak sampe ngampar di bawah itu bener banget. Sekarang kereta sudah banyak mengalami perubahan. Saya jadi lebih senang naik kereta api kemana2. Tinggal perilaku masyarakat nya saja yang dijaga agar lebih disiplin.

    BalasHapus