Belajar Menulis Esai Bersama Gol A Gong

2:38 PM


Remaja generasi 90-an macam saya, manalah mungkin tidak mengenal Gol A Gong. Penulis “Balada Si Roy” ini pernah sangat populer di kalangan remaja saat itu, ya kira-kira sekitar dekade 80-an sampai dekade 90-an.

Saya memang tidak pernah utuh membaca Balada Si Roy, tapi beberapa cerpen dan artikel yang ditulis Gol A Gong di sejumlah majalah remaja yang beken saat itu, kerap jadi “camilan bacaan” yang mengisi masa remaja saya. Jadi, nama Gol A Gong, buat saya ibarat seperti jaminan mutu suatu cerpen atau artikel. Pokoknya, kalau Gol A Gong yang nulis, dijamin asyik lah.

Nama pena Gol A Gong itu, nama yang tidak biasa. Aneh. Tapi justru karena aneh malah jadi mudah diingat.

“Gol A Gong itu nama apa? Masa nama aslinya begitu?” penasaran saya dibuatnya.

“Nama aslinya Heri. Kalau Gol A Gong sih nama pena. Tapi nggak tahu juga artinya apa.” Jawab suami, dia juga penggemar karya-karya Gol A Gong.

credit foto: Fuji Rachman Nugroho

Rasa penasaran saya sedikit terjawab saat akhirnya berkesempatan berjumpa langsung dengan Gol A Gong dalam Workshop Content Creator Sapa Sahabat Keluarga yang diadakan oleh Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di Hotel Jayakarta Yogyakarta, 18-20 Desember lalu. Salah satu kelas workshop yang diikuti sekitar 30 blogger/vlogger Yogya dan Jawa Tengah ini menghadirkan Gol A Gong sebagai pematerinya.

Jadi apa arti Gol A Gong? Nah ini agak rumit kalau mau dijelaskan. Singkatnya begini, Gol itu dimaknai seperti kesuksesan. Sama seperti gol dalam sepak bola. Lalu Gong, terinspirasi dari alat musik gong yang suaranya bergema jauh. Sementara A, dimaknai sebagai alif atau simbol Tuhan. Jadi, Gol A Gong itu dimaknai sebagai kesuksesan yang berasal dari Tuhan.

Agak berbeda dari bayangan saya tentang sosok Gol A Gong, penulis Balada Si Roy ini yang saya temui sebagai pemateri di kelas Penulisan Esai ini adalah seorang lelaki paruh baya, berambut gondrong dengan gaya berpakaian yang unik. Pakai sarung, baju kedombrongan, dan bertopi, Eh di hari sebelumnya saya malah melihat beliau memakai udheng (ikat kepala tradisional). Nyentrik deh!

Tapi, satu hal yang bikin saya sedikit terkesima adalah kenyataan bahwa Gol A Gong ini bertangan satu, seperti YoKo. Iya Yoko, pendekar rajawali penguasa dunia persilatan yang bertangan satu itu. Dan seperti Yoko pula, Gol A Gong tidak menyerah dengan keterbatasan fisiknya itu. Saluut!

Menulis Esai
Materi yang disampaikan Gol A Gong adalah penulisan Esai. Jujur saja, meski kerap mendengar tentang Esai, saya masih belum paham benar apa yang dimaksud dengan Esai. Makanya, saat Gol A Gong membuka kelas dengan bertanya apa Esai menurut Anda, saya cuma bisa melongo sambil garuk kepala dan lanjut googling. Hehehe.

Apa arti Esai menurut Wikipedia, bisa langsung di-googling sendiri ya. Maaf saya males ngutip. Tapi menurut Gol A Gong, Esai adalah opini yang dituliskan dengan gaya sastra. Sebuah Esai berisi pendapat pribadi, gagasan dan subyektivitas penulisnya. Tentu saja harus ada muatan fakta yang dijadikan argumen agar sebuah Esai bisa sah dikatakan sebagai karya jurnalistik. Menurut Gol A Gong, Esai adalah sebuah produk jurnalistik, seperti layaknya straight news, feature dan opini. Karena itulah, muatan unsur 5 W + 1 H, wajib hukumnya termuat dalam Esai.

Lantas apa yang yang membedakan Esai dengan karya jurnalistik lainnya?

Begini penjelasan panjangnya. Katakanlah ada sebuah peristiwa kecelakaan yang melibatkan pengendara motor dan pejalan kaki. Hal pertama yang biasanya akan dilakukan wartawan adalah membuat berita langsung (straight news) dengan mengabarkan ada kecelakaan yang terjadi di jalan A, melibatkan pemotor bernama B dengan pejalan kaki bernama C. Si C mengalami luka serius dan dilarikan ke RS sebelum akhirnya meninggal dunia. Lalu dilanjut dengan kronologis singkat kejadian. Straight news yang mengutamakan keaktualan biasanya akan memberitakan sebatas itu.

Untuk kelanjutan ceritanya, wartawan biasanya akan mengangkat sisi humanis dari kejadian ini. Boleh jadi dengan mengangkat kondisi si pejalan kaki yang ternyata orang tua tunggal dan kini anak-anaknya terpaksa berjuang sebatang kara tanpa asuhan. Kelanjutan pemberitaan ini disebut feature. Gaya bahasa penulisannya bisa lebih casual dan deskriptif karena tidak terpaku pada kecepatan penayangan berita, namun menyentuh sisi emosional pembaca atau pemirsa.

Dua jenis berita tersebut, baik straight news maupun feature mensyaratkan objektivitas. Untuk itulah dalam penulisannya, wartawan harus mampu mengambil jarak dari objek berita.

Peristiwa ini lantas bisa dipotret lagi dalam cakupan pembahasan yang lebih luas dengan melibatkan subjektivitas wartawan melalui karya jurnalistik yang disebut Esai.

Dengan menggunakan cantelan peristiwa kecelakaan itu, wartawan dapat membuat sebuah tesis, bahwa kecelakaan tragis yang mengakibatkan korban seorang orang tua tunggal adalah akibat egoism dan ketidak dewasaan pengguna jalan dalam berkendara. Tesis ini bisa ditampilkan dengan menggunakan gaya sastra yang puitis namun dilengkapi dengan argumen faktual seperti yang termuat dalam straight news dan feature peristiwa itu sebelumnya.

Dalam menulis Esai, seorang penulis tidak lagi perlu berjarak dengan objeknya. Justru, Esai mengakomodir subjektivitas penulis dengan dukungan argumen yang faktual. Lebih jauh lagi, melalui Esai, penulis juga perlu memberi kesimpulan dan menambahkan solusi yang terbaik menurut versinya. Pada media mainstream, Esai ini biasanya berbentuk tajuk atau catatan redaksi yang ditulis oleh wartawan atau redaktur senior.

Kenapa Blogger Belajar Menulis Esai?
Penulisan Esai merupakan produk jurnalistik yang sesuai untuk diadopsi untuk penulisan di blog. Sebagai media personal, blog memberi keleluasaan bagi kita untuk berkeluh kesah. Menumpahkan berbagai keresahan tentang berbagai situasi yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Namun, tanpa kaidah penulisan yang tepat, keluh kesah kita itu bisa saja disalahartikan sebagai bentuk adu domba, penistaan atau pencemaran nama baik.

Nah, dengan mengadopsi gaya penulisan Esai yang terstruktur dan menampilkan argumen yang kuat dan faktual, tulisan keresahan kita itu bisa lebih diterima dan diapresiasi sebagai sebuah karya jurnalistik. Namun juga tetap nyaman dibaca karena disampaikan dengan gaya sastra sehingga kecil kemungkinan pembaca bakal merasa digurui. Kurang lebih begitulah yang saya tangkap dari penjelasan Gol A Gong.

Buat emak milenial seperti saya, penulisan Esai ini tentu sangat sesuai untuk meluapkan keresahan dan gagasan saya mengenai pendidikan keluarga dan pengasuhan anak.

Mulai Menulis Esai
Sebuah tulisan Esai diawali dari ide. Lalu dimana mencari ide penulisan? Menurut Gol A Gong, ide bisa ditemukan dimana-mana. Namun langkah termudah adalah dengan menggali dan mengamati fenomena dan kejadian yang ada di sekitar kita. “Tuliskan saja apa yang menjadi keresahan kalian. Awali dari sana,” begitu kata Gol A Gong.

Sekadar contoh saja, apapun yang terjadi di keluarga kita bisa jadi ide penulisan. Seperti perbedaan pola asuh Kakek-Nenek dan Orangtua, atau tentang anak dan suami yang ketagihan main game online. Bisa juga tentang si Emak yang keranjingan drama korea sampai lupa masak. Semua bisa jadi ide tulisan.

Setelah menemukan ide, buat tesis dan cari argument yang mendukung tesis itu dengan mengembangkan 5W + 1H. Menurut Gol A Gong, setidaknya sebuah tesis harus didukung sedikitnya 3 argumen. Untuk itu, sebelum menulis penting sekali untuk kita melakukan riset.

Riset bisa dilakukan dengan teknik wawancara, observasi atau riset pustaka dengan mencari referensi buku atau kutipan artikel.

Langkah kedua adalah mulai menulis sesuai dengan angle dan kerangka tesis. Ingat, kata Gol A Gong, kita tidak bisa memotret seluruh peristiwa. Maka, agar tulisan tetap fokus ada baiknya bila kita membuat angle penulisan sejak awal.

Langkah ketiga adalah revisi. Tidak ada karya sukses tanpa melewati revisi. Karena itu baca ulang tulisan kita. Kalau perlu minta orang-orang terdekat untuk membaca dan memberikan masukan. 

Jangan lupa juga untuk membuat judul yang menarik. Judul yang menarik untuk Esai itu bagaimana? Kata Gol A Gong, judul adalah daya tarik pertama, karena itu buatlah judul yang memancing imajinasi dan rasa penasaran pembaca. “Tidak perlu judul yang panjang. Seperti esai saya yang dimuat di koran lokal dan nasional, biasanya hanya terdiri dari 2 kata, atau maksimal 4 kata.”

Kalau dengar penjelasan Gol A Gong, sepertinya menulis esai tidak terlalu rumit kan?

Oh iya, dalam kesempatan Workshop Content Creator itu sebenarnya ada juga kelas membuat film bersama M.Iqbal dari Film Maker Muslim. Tapi cerita lengkapnya di postingan selanjutnya aja deh. 

Semoga jadi tambah tahu ya

You Might Also Like

19 comments

  1. hallo anaknya pak Sosro, bingung mau belanja di mana nih? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bingung ngabisin duit pak Sosro, Mak. hahaha

      Hapus
  2. Salut sama gimana ortu Gol A Gong memberikan semangat lewat buku dan olahraga

    BalasHapus
  3. Kemaren sempet nanya nggak mbak arti nama Gol A Gong?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belom sempet tanya udah dijelasin sendiri ama Kang Gol A Gong-nya.

      Hapus
  4. Menulis esai. Dapat ilmu baru dr Kang Gol A Gong. Lebih praktis beliau menjelaskannya. Tidak bertele-tele dan praktis. Kuncinya sih tetap 5W + 1H. Tinggal meramunya saja.

    Dan...emak² bloger Solo raya itu berisik jg ternyata ya? Ehh. Hahaha...

    Salam
    @nuzululpunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Gol A Gong menjelaskan dengan cara sederhana dan lugas. Jadi lebih mudah dipahami ya.

      Eh, emak blogger mana yang berisik?? aq pendiam dan pemalu lho

      Hapus
  5. Jadi paham beda features dan esai. Untung ikut workshopnya, ketemu penulis hebat dan video maker keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jelasinnya enak sih ya mak? Udah langsung praktikin ilmunya?

      Hapus
  6. Jelas, gamblang dan mudah dipahami Mak penjelasan tentang esainya. Ga sia sia jadi anak pak Sosro. eh,

    Salam dari pembantu kesayangan keluarga. :))

    BalasHapus
  7. Siap menunggu esai-esai dari Mbak Wiwid di tahun depan dech. Tenan lho...

    BalasHapus
  8. Yoko.... ternyata kita satu aliran, penggemar silat cina :D

    BalasHapus
  9. Senangnya bisa ketemu salah satu keluarga Sosrokartono yg syantik

    BalasHapus
  10. aku ngiri..pengen ketemu Gol A Gong juga..sudah lama aku nggak nulis esai, jadi pengen kapan2 ikutan lomba esai agar kepekaan menulisnya lebih tinggi

    BalasHapus
  11. Waaahhh sesama penggemar Yoko ternyata kita 😄😄😍

    BalasHapus
  12. Kangen dengan ditiru kk gahoool di keluarga pak Sosro.

    Yang pasti bersyukur banget bisa nimba ilmu langsung dari kan Gong ya, selain materi essai ada beberapa hal kecil dan penting soal gaya parenting di keluarga kang Gong (baik dari orang tua pun dari beliau) yang bisa kita petik.

    BalasHapus
  13. Bagus, tuh, tulisan Mbak Wied di atas. Apalagi bahas Kang Gol A Gong. Saya suka isi tulisan Mbak, jadi nambah tahu tentang esai. Lah, saya bikin esai tanpa peduli apakah sudah tepat sebagai esai, hi hi.
    Saya juga penggemar BALADA SI ROY, malah tulisan saya masuk dalam buku "ODE TO ROY, Kisah para Pembaca Balada Si Roy". Alhamdulillah, bisa kenal Kang Gol A Gong lewat dunia maya. Ada juga buku karyanya yang bagus, "Pasukan Matahari". Mbak sudah baca? Saya suka. Memang benar nama Kang Gol A Gong adalah mutu bagi tulisannya. Itu disebut penjenamaan diri (personal branding). Demikianlah. :) Salam kenal, ya. Makasih sebelumnya sudah singgah di blog saya. Saya jadi tahu ada tulisan bagus Mbak tentang Kang Gol A Gong.

    BalasHapus
  14. Wah, jadi tahu apa arti esai itu anakku haha..*belum bisa move on*

    BalasHapus