Museum Batik Danar Hadi Solo, Merekam Sejarah Batik

1:48 PM


2 Oktober silam, timeline media sosial saya dipenuhi postingan tentang kampanye pelestarian batik. Seperti rutinitas tahunan, di Hari Batik dan sepekan setelahnya selalu ada ajang pamer busana batik di media sosial. Sepertinya usaha para pecinta batik, para budayawan dan pemerintah untuk menaikkan kembali pamor batik, dan membuat batik kembali dicintai masyarakat mulai menampakkan keberhasilan.

Bagaimana dengan saya? Setiap kali Hari Batik, saya malah merasa galau.

Galau, karena sadar ada amanat yang belum tuntas. Amanat untuk melestarikan batik. Dan kali ini saya tidak bicara batik dalam artian selembar kain bermotif, tetapi juga batik sebagai sebuah budaya dan rekaman sejarah. Karena pada hakikatnya, saya percaya, dengan memahami batik sebagai budaya ada banyak makna dan filosofi kehidupan yang berharga yang bisa kita pelajari. Dan tentu saja akan sangat berguna untuk menegaskan identitas kebangsaan kita sebagai orang Indonesia.

(Baca juga : Batik Indonesia, Untuk Siapa, Milik Siapa)

Itu sebabnya, Hari Batik tahun ini saya berketetapan hati untuk belajar lebih banyak apa yang ada di balik “batik”.

Solo memang terkenal sebagai kota penghasil batik. Di Solo, batik sudah menjadi bagian dari hidup kami. Ada banyak perajin batik bertebaran di Solo dan kota-kota sekitarnya. Kalau mau berburu batik, kami punya dua Kampung Batik ada Laweyan dan Kauman. Bahkan ruang-ruang public di Solo, dihiasi dengan ornament bermotif batik. Tapi sekali lagi, bukan kain batiknya yang ingin saya dapatkan saat ini, tetapi cerita di balik batik. Buat apa pula kan, tiap hari melihat beraneka motif batik tapi nggak paham filosofi dibalik itu?

Jadi, Hari Batik kali ini saya dan teman-teman Blogger Solo pun memutuskan untuk bertandang ke Museum Batik Danar Hadi. Lokasinya berada di tengah kota Solo. Di pinggir jalan utama Solo, Jalan Slamet Riyadi. Museum ini merupakan bagian dari Ndalem Wuryoningratan. Dalam kompleks bangunan ini terdapat juga rumah batik Danar Hadi, restoran dan tempat pertemuan.

Ooh, yang tidak familiar dengan Kota Solo atau budaya Jawa mungkin bertanya-tanya, kenapa bangunan itu disebut Ndalem Wuryoningratan. Yup, bangunan berarsitektur Jawa Kolonial ini memang dulunya merukan kediaman seorang bangsawan kraton, Kanjeng Pangeran Haryo Wuryoningrat. Beliau adalah menantu Susuhunan Paku Buwono X. Konon, bangunan ini mulai dibangun tahun 1890-an dan baru ditempati di tahun 1914. Sekitar akhir dekade 1990an, bangunan ini lantas dipugar dan dikelola oleh Danar Hadi dan ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1997.

(Baca juga : Santosa Doellah, Empu Batik Dibalik Nama Besar Danar Hadi)

Selayaknya bangunan bangsawan Jawa di masa Kolonial Belanda, Ndalem Wuyoningratan pun dibangun dengan perpaduan nuansa Jawa Eropa. Bagian mukanya kental dengan ciri khas bangunan Kolonial, namun bagian dalamnya tetap berpegang pada patron bangunan ala Jawa. Ada Pendopo, Gandhok yang biasanya difungsikan sebagai ruang santai, Pringgitan untuk menerima tamu dan Senthong atau kamar. Bangunan ini seketika menyiratkan karakter orang Jawa di masa itu, yang walaupun berpenampilan ala Eropa namun tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidup Jawa.
Foyer Museum Batik Danar Hadi

Ruang Batik Kraton
Nah, Museum Batik Danar Hadi ini berada di sebelah timur bangunan utama. Saat saya datang, seorang petugas museum membukakan pintu geser berukuran sedang. Ia menegur dengan ramah dan mempersilahkan saya masuk.

Ada banyak plakat penghargaan yang terpajang di area foyer museum itu. Sejumlah koleksi batik pun terpajang rapi. Dibentangkan pada perentang-perentang kayu dan diberi papan yang menjelaskan motif batik. Ada pula papan peringatan untuk tidak menyentuh kain juga terpasang disana. “Semua kain yang ada disini kain tua, jadi memang tidak boleh sembarang dipegang,” kata petugas museum itu menjelaskan.

Sambil menunggu teman-teman Blogger Solo lainnya, saya duduk santai di bangku tamu yang ada di area itu. Ada wangi bunga dan rempah yang menguar dan memenuhi ruang itu, ditambah udara sejuk dari pendingin ruangan, rasanya saya kok jadi sedikit mengantuk. Rasanya rileks sekali. Ah, untung saja saya tidak sampai tertidur, karena rekan-rekan keburu datang dan kami pun diajak berkeliling museum oleh Asisten Manajer Museum Batik Danar Hadi, Asti Suryo.

Di museum ini, kain-kain batik dikelompokkan berdasarkan pengaruh zaman dan lingkungan. Ada 12 ruang yang memuat cerita dibalik batik.

Dari foyer, kami beranjak ke ruang pertama, Ruang Batik Kraton. Di sini dipajang koleksi kain-kain batik yang biasa digunakan oleh kalangan bangsawan dan abdi dalem kraton Jawa seperti Kraton Kasunanan Surakarta, Mangkunegaran, Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman. Mayoritas berwarna gelap karena menggunakan pewarna sogan.

Melalui kain-kain batik kraton ini kita bisa belajar banyak sekali tentang sejarah. Batik, dalam kehidupan kraton bukan sekedar kain pembalut tubuh bermotif apik. Di kraton, batik juga jadi penanda status kududukan seseorang di kraton, termasuk juga bentuk curahan hati orang-orang di kalangan kraton.

Motif-motif larangan seperti motif parang misalnya, hanya boleh dipakai oleh para raja dan keturunannya. Beberapa kain seperti Dodot Parang Barong, bahkan hanya digunakan raja dalam acara-acara resmi saja seperti Upacara Pemahkotaan, Upacara Pernikahan dan acara istimewa. Parang Barong, adalah motif yang hanya boleh dipakai oleh Raja. Kain Dodot yang terpajang itu juga dilengkapi dengan Blumbangan, berupa ruang kosong berbentuk segitiga berwarna putih. Blumbangan ini mengandung makna tolak bala, diharapkan pemakainya terjauh dari segala hal-hal yang buruk.
Dodot Parang Barong
Motif lain yang memiliki cerita menarik adalah motif truntum. Alkisah, motif ini diciptakan oleh permaisuri Paku Buwono IV, yang tersingkir dan dikembalikan ke keputren karena tidak kunjung memiliki keturunan laki-laki. Sang Permaisuri mencurahkan isi hatinya dengan membatik. Tak disangka batik yang dikerjakannya itu menggugah hati Sang Raja, PakuBuwono IV, yang tersentuh dengan kesabaran Sang Permaisuri. Permaisuri pun diboyong kembali ke istana, dan motif ciptaannya yang sebelumnya tidak bernama itu lantas disebut Truntum, artinya bersemi kembali, menggambarkan cinta Raja dan Permaisuri yang bersemi dan kembali hidup bersama. Itu sebabnya, Truntum kerap digunakan dalam prosesi Panggih di upacara pernikahan adat Jawa. Dan mengandung harapan agar cinta kedua mempelai bisa terus bersemi.

“Perang dingin” antara Kraton Solo dan Kesultanan Yogyakarta juga tergambar dan terekam dalam batik. Setelah terjadi pembagian wilayah pasca Perjanjian Giyanti, para bangsawan Solo dan Yogya juga berusaha menegaskan identitasnya masing-masing dengan membuat modifikasi dalam penggunaan batik dan atribut budaya lainnya. Seperti halnya bentuk blangkon Yogya yang memiliki mondolan dibelakang, sementara blangkon Solo dibuat gepeng, tanpa tonjolan. Penggunaan kain batik di Kraton Solo dan Yogya juga sangat berbeda.

Salah satu contoh termudah adalah penggunaan motif Kawung. Sekedar informasi, motif Kawung ini disebut sebagai salah satu motif tertua dalam batik. Kawung diperkirakan sudah kerap digunakan sejak era Ken Arok dari Singasari atau mungkin lebih tua lagi. Dalam filosofi Jawa, Kawung adalah belahan buah Atep atau Kolang-kaling yang menggambarkan asal mula kehidupan. Di Solo, motif Kawung digunakan untuk abdi dalem, sementara di Yogya, Kawung lebih banyak dipakai oleh bangsawan.

Bergeser dari Batik Kraton, di Museum Batik Danar Hadi terpajang juga koleksi kain-kain batik pengaruh kraton. Kain-kain batik ini biasanya dikembangkan oleh para bangsawan yang bertempat tinggal di luar kota raja (ibukota). Batik pengaruh kraton biasanya memiliki ciri khas memiliki warna gelap dengan motif-motif yang dipakai dengan bangsawan kraton, namun juga memiliki sentuhan pesisir atau modifikasi budaya lain. Seperti kombinasi warna cerah atau penambahan motif yang tidak lazim dilakukan di batik kraton seperti pemberian motif kupu-kupu.

Belanda juga punya batik! Ah saya juga sempat kaget mendengarnya, khawatir kalau nanti ada orang Belanda yang tiba-tiba mengklaim batik adalah budayanya juga. Hihihihi.

Tapi ternyata tidak, Batik Belanda adalah kain batik dengan pengaruh budaya Belanda. Di era Kolonial dulu, ternyata tidak sedikit pengusaha Belanda yang berkecimpung di bidang batik. Beberapa dari mereka adalah para istri pejabat Belanda yang bertugas di Indonesia, dengan mempekerjakan para pembatik Jawa. Cerita-cerita dongeng Eropa dituangkan dalam motif batik Belanda ini. Kisah-kisah seperti Hansel and Gretel , Putri Salju dan Gadis Bertudung Merah terlukiskan dalam batik pengaruh Belanda ini.

Perang Diponegoro pun sempat jadi inspirasi motif Batik Belanda. Kain batik dengan motif prajurit perang berwarna indigo itu menggambarkan pasukan tentara Belanda yang berperang melawan pasukan Diponegoro. “Judulnya memang Perang Diponegoro, tapi isinya hanya prajurit Belanda, tidak ada prajurit Jawa,” kata Asti.
Batik Belanda dengan motif Perang Diponegoro
Lain batik Belanda, lain pula batik China. Batik dengan pengaruh budaya China ini biasanya memiliki ciri khas mengambil bentuk binatang dari mitos China seperti Naga, Burung Hong dan sebagainya. Warnanya pun lebih didominasi warna cerah dan biasanya banyak berkembang di daerah pesisiran.

Ada juga Batik Jawa Hokokai. Bagi saya, Batik Jawa Hokokai adalah jenis batik yang paling menarik secara visual. Warna-warnanya relatif cerah dan kaya dengan variasi motif. Ada perpaduan motif batik kraton, pengaruh China, tapi juga ada sentuhan motif bunga-bunga.

Konon, Batik Jawa Hokokai ini diproduksi oleh pengusaha batik China di era kependudukan Jepang. Situasi ekonomi yang sulit saat itu membuat bisnis batik juga menghadapi masalah, karena biaya produksi yang meningkat. Para pengusaha batik kesulitan mencari kain, sehingga batik dibuat dengan memadukan dua motif dalam satu kain. Disebut batik pagi sore. “Kalau pagi, motif yang ditunjukkan motif yang kiri, sore hari yang ditampilkan motif yang kanan. Jadi walau hanya satu batik tapi seolah-olah memakai dua batik yang berbeda,” jelas Asti lagi.
Batik Jawa Hokokai
Oia di Museum Batik ini kita juga bisa melihat berbagai bahan dan alat yang digunakan untuk membatik. Ada 7 jenis lilin yang dipakai untuk membatik. Demikian pula jenis pewarna alam yang dipakai. “Itu sebabnya batik ini layak dilestarikan. Selain karena proses pembuatannya yang rumit dan panjang, dari sisi teknologi keterampilan membatik ini memang hanya dimiliki oleh orang Indonesia,” kata Asti. Teknik mewarna kain dengan lilin memang ada banyak di dunia, lanjut dia, namun teknik mewarna dengan menggunakan lilin panas, canting dan cap hanya dimiliki Indonesia. 








Merawat ribuan kain batik koleksi Museum Danar Hadi bukan perkara mudah. Kebanyakan kain dibuat sebelum abad 20 sehingga sudah berusia sangat tua, dan diwarna dengan pewarna alam sehingga agak ringkih dan perlu perlakuan khusus.

Itu sebabnya, dalam tour museum, pengunjung tidak diperkenankan mengambil gambar, apalagi menggunakan lampu flash karena dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas warna kain. Untuk menjaga dari serangga, kain-kain koleksi Museum Batik Danar Hadi biasanya disimpan dengan menyelipkan merica putih. Selain itu koleksi kain juga diberi ratus kain yang terdiri dari campuran berbagai bebungaan dan rempah. Pencucian kain hanya boleh menggunakan lerak dan tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung.



Sungguh pengalaman yang menyenangkan. Bukan hanya karena ada banyak pengetahuan seputar batik tetapi juga karena Museum Batik Danar Hadi ini berbeda dengan kebanyakan museum yang pernah saya sambangi sebelumnya. Tempatnya cukup nyaman, sejuk, wangi dan ditata dengan rapi, sehingga memudahkan pengunjung memahami perjalanan batik dari masa ke masa. Dengan biaya masuk yang hanya Rp 35.000 untuk umum dan Rp 15.000 untuk pelajar, saya rasa ini merupakan cara yang sangat murah bagi mereka yang ingin belajar lebih banyak tentang batik.

Semoga jadi tambah tahu ya….

Museum Batik Danar Hadi
Jalan Slamet Riyadi No 261 Solo Telp 0271-714326 ext.30 
www.houseofdanarhadi.com 
Jam buka: setiap hari 09.00-17.00 
Biaya masuk : Umum 35rb, Mahasiswa/ pelajar : 15rb

You Might Also Like

2 comments

  1. Satu hal yang menggelitik pikiran saya adalah kenapa pihak museum tidak menggunakan kotak kaca untuk menyimpan kain-kain batik tua yang rentan itu, paling nggak terlindungi dari sentuhan tangan yang usil atau tidak sengaja, walaupun sudah ada papan peringatan agar tidak menyentuh kain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahh betul juga y.. Tp mungkin ada pertimbangan karena koleksi kain yg dipajang selalu diganti..jd mungkin kalau pakai kotak kaca bakal lebih menyulitkan..

      Hapus