Review Film Indonesia: Pengabdi Setan (2017)

review-film-pengabdi-setan

Alih-alih dibilang remake Pengabdi Setan (1980), Pengabdi Setan (2017) garapan Joko Anwar sebenarnya lebih cocok kalau disebut terinspirasi dari Pengabdi Setan pendahulunya. 

Joko Anwar sendiri dalam beberapa wawancara pernah menyebut Pengabdi Setan (2017) sebagai reboot dari Pengabdi Setan (1980). Keduanya punya benang merah cerita yang sama, tapi alur cerita dan detail yang sangat berbeda. 

Sebagai penyuka film horror, nggak mungkinlah saya melewatkan kedua film ini. Pengabdi Setan (1980) sudah beberapa kali saya tonton waktu ditayangkan di televisi. Sementara waktu Pengabdi Setan (2017) tayang di bioskop, saya juga nggak mau ketinggalan hype-nya. 

Berangkatlah saya nonton di bioskop, meski akhirnya sedikit menyesal karena terganggu oleh komentar para penonton norak di sana. Berisik banget sih. Heran deh, kenapa ada orang nonton film kok bisa sambil ngoceh gitu. 

Dan akhirnya saya ulang lagi nonton di layanan video streaming, beberapa waktu setelahnya. 

Kalau boleh jujur, Pengabdi Setan (2017) sebenarnya tidak terlalu menyeramkan. Hantu Ibu yang sering muncul tanpa aba-aba memang sedikit memberi kengerian tapi nggak sampai bikin saya menyembunyikan wajah dibalik bantal. 

review-film-pengabdi-setan

Saya malah merasa iba melihat hantu Ibu yang tak tenang selama hidup hingga matinya. Ah, kalau soal ngeri atau nggak ngeri itu relatif ya. Saya percaya banyak orang yang nggak sepakat soal ini. 

Pun begitu, harus diakui, Pengabdi Setan (2017) adalah film kualitas jempolan untuk ukuran standar film horor Indonesia. Film ini ibarat tonggak baru dalam dunia perfilman Indonesia karena menaikkan standar film lokal. 

Istilah kasarnya, kalau mau bikin film bagus, seengaknya pembuat film harus bikin film yang minimal setara kualitasnya dengan Pengabdi Setan (2017). Kalau nggak, ya jangan harap bakal diminati oleh penonton. 

Terbukti kan, beberapa film horror “asal jadi” yang rilis setelahnya meski tetap ada yang nonton, ya lebih banyak dikritisi karena nggak bisa memuaskan selera penonton yang sudah kadung terpukau dengan Pengabdi Setan (2017). 

Nggak perlu disebut ya filmnya apa aja. Pokoknya banyak deh. 

Ya udahlah daripada kepanjangan ngalor ngidulnya, kita masuk ke sinopsis film dulu. 

Sinopsis Pengabdi Setan (2017) 

Ini kisah tentang keluarga yang sedang berada dalam fase keterpurukan finansial. Sang Ibu (Ayu Laksmi) mengalami sakit berkepanjangan. Tak jelas apa penyakitnya. 

Namun yang pasti, keluarga sudah mencoba berbagai macam pengobatan dan menghabiskan biaya besar untuk mengobati Ibu. Tapi tetap saja kondisinya nggak membaik. 

Kebutuhan biaya pengobatan yang besar membuat keluarga ini bangkrut, hingga terpaksa menggadaikan rumah di kota. Mereka pun pindah ke rumah Sang Nenek (Elly D. Luthan) yang berada di di wilayah terpencil di pinggiran kota. 

review-film-pengabdi-setan

Sang Ibu yang bernama Mawarni, sebelumnya adalah seorang penyanyi yang sukses. Lagu hits-nya bertajuk “Kelam Malam” sempat laris manis dan menghasilkan royalty yang banyak. 

Tapi sejak 3 tahun lalu, Mawarni sakit. Ia hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Bahkan untuk makan dan bicara pun dia nggak sanggup. Kalau butuh sesuatu, ia memanggil anak-anaknya dengan membunyikan lonceng. 

Sejak ibu sakit, segala urusan rumah tangga dikerjakan oleh anak perempuan tertua keluarga ini, Rini (Tara Basro). Mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga mengurus keperluan Bapak (Bront Palarae), Nenek dan ketiga adiknya, semua dikerjakan oleh Rini. 

review-film-pengabdi-setan

Rini memiliki tiga orang adik lelaki. Adik tertua bernama Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Annuz), dan si bungsu, Ian (Muhammad Adhiyat) yang bisu tuli. 

Singkat cerita, Ibu akhirnya meninggal. 

Dan selayaknya kebiasaan di negara kita, tak lama digelarlah acara doa bersama untuk mendoakan arwah sang ibu. 

Berhubung keluarga Rini digambarkan sebagai keluarga yang tak religius, keluarga ini dibantu oleh seorang ustadz (Arswendi Nasution) dan anaknya, Hendra (Dimas Aditya) untuk mengurus seluruh urusan pemakaman dan acara doa. 

review-film-pengabdi-setan

Beralasan ingin memulihkan kondisi ekonomi, Bapak pamit ke kota selama beberapa hari. Meninggalkan Rini dan adik-adiknya di rumah Sang Nenek. 

Dan teror pada keluarga ini pun dimulai… 

Rini dan adik-adiknya secara bergantian mulai mengalami berbagai kejadian ganjil. Sosok Ibu berkali-kali muncul menghantui mereka. 

Rini yang tidak percaya pada hal-hal klenik mencoba menenangkan adik-adiknya yang ketakutan dengan hantu Ibu. Rini nggak percaya ada orang mati yang bisa bangkit dan menghantui orang lain. 

Tapi, instingnya meyakini ada sesuatu yang tidak beres. 

Puncaknya, sang Nenek meninggal karena tenggelam di sumur rumah mereka. Sang Nenek meninggalkan surat yang seyogianya akan dikirimkan untuk sahabatnya, Budiman Syailendra (Egi Fedly)

review-film-pengabdi-setan

Budiman merupakan seorang kolumnis untuk majalah klenik. Ia meneliti dan menuliskan beberapa ritual praktik pemujaan setan. 

Dari keterangan Budiman, Rini mengetahui bahwa Sang Ibu adalah pengikut sekte Pengabdi Setan. Hal ini dilakukan sang Ibu demi mendapatkan keturunan dan pengakuan dari ibu mertuanya, Sang Nenek. Nenek Rini sebelumnya menentang pernikahan Ibu dan Bapak Rini. 

Teror yang dialami Rini dan adik-adiknya kian menjadi. Tony yang juga membaca artikel yang ditulis Budiman, lantas mengambil kesimpulan bahwa teror hantu yang mereka alami adalah upaya para anggota sekte pengabdi setan yang ingin mengambil adik bungsu mereka, Ian, sebagai tumbal.

Teror sekte ini makin mengganas. Bahkan Pak Ustadz dan anaknya, Hendra ikut jadi korban dalam teror ini. Keduanya mati. Dan berakhir menjadi mayat hidup bersama dengan ratusan mayat hidup lain yang bangkit dari kuburan di dekat rumah Rini. 

Saat teror makin menggila, Bapak pulang dan memutuskan untuk memindahkan seluruh keluarganya ke kota. Menjauh dari rumah Nenek yang penuh teror. 

Tapi pada akhirnya mereka terpaksa membuat keputusan sulit, yaitu meninggalkan Ian sendirian bersama para pengabdi setan. Kenapa? 

Horor Indonesia di Level yang Berbeda 

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Pengabdi Setan (2017) menawarkan level horor yang berbeda dari film horror Indonesia yang banyak beredar sebelumnya. 

Meski masih memasukkan unsur jumpscare dalam filmnya, Joko berhasil menyusun adegan dengan rapi dan presisi. Ia tahu persis kapan waktunya jumpscare, dan melakukan hal tepat untuk membangun emosi dan ketakutan penonton. 

review-film-pengabdi-setan

Jadi, meski hantu Ibu, buat saya pribadi, nggak terlalu menyeramkan. Maksudnya masih terlihat rapi, dengan baju putih, muka pucat dan rambut lurus panjang. Tapi elemen-elemen yang dihadirkan mengiringi kehadiran hantu Ibu berhasil menanamkan semacam teror di dalam otak. 

Suara lonceng dan iringan lagu Kelam Malam itulah yang bikin bergidik. 

Rasanya sama seperti yang saya alami setelah nonton Sadako. Tiap kali mendengar suara TV rusak, pikiran saya langsung kasih kode akan kemunculan hantu Sadako yang keluar dari TV. Persis seperti itu. 

Satu hal lagi yang saya suka dari Pengabdi Setan karya Joko Anwar adalah karena ia mendobrak pakem horor kuno yang ada di Pengabdi Setan versi terdahulu. 

Itu lho pakem horor, yang menggambarkan setan selalu kalah dengan ustadz. Pokoknya film horor tahun-tahun segitu, polanya ketebak banget. Kalau ada pemuka agama yang datang dan membaca ayat suci, setannya langsung terbakar lalu pergi. 

Ya nggak salah sih, buat orang-orang yang meyakininya. Tapi terasa nggak masuk akal dan nggak relevan lagi aja. 

Di Pengabdi Setan (2017) berkali-kali ditekankan dalam dialog bahwa orang yang sudah mati nggak mungkin menghantui orang yang hidup. Justru orang yang masih hidup lebih menakutkan daripada setan. 

Kalimat ini, saya yakini sebagai cara Joko Anwar untuk memberitahu bahwa ia nggak meyakini klenik meski sangat menyukai horor. Ya sama seperti saya. Hahaha

Pengabdi Setan (2017) memang masih memiliki plot hole dan beberapa hal ganjil yang nggak terjawab hingga akhir film. Namun saya cukup apresiasi dengan detail setting film ini. 

Film ini mengambil setting timeline awal tahun 1980-an, itu sebabnya cara berbicara para tokohnya kerap menggunakan bahasa Indonesia baku, yang jarang dipakai orang zaman sekarang. 

Detail pakaian, perabotan hingga majalah Bobo yang ditampilkan pun cukup membuat kita percaya bahwa teror ini terjadi dimasa hampir 40 tahun lalu. 

 
review-film-pengabdi-setan

Akting castnya pun sangat memuaskan. Terutama untuk akting tokoh Rini dan ketiga adiknya. Sangat natural dan meyakinkan. 

Walau jujur saya sedikit terganggu dengan akting Bapak, yang bicara terbata-bata dan akting Hendra yang kurang natural, ditambah lagi rambut palsunya yang nggak kece. Untung porsi kedua tokoh itu nggak terlalu banyak, jadi masih termaafkan. 

Sebenarnya kalau boleh jujur, Pengabdi Setan bukan karya Joko Anwar yang saya favoritkan. Perempuan Tanah Jahanam jauh lebih bagus dan lebih ngeri ketimbang Pengabdi Setan. 

Tapi, sekali lagi, bagaimanapun Pengabdi Setan (2017) memang layak mendapat apresiasi luar biasa karena berhasil mencapai level yang tak terbayangkan sebelumnya. Ada plot twist yang mencengangkan dan film ini berhasil  menanamkan teror di kepala penontonnya. 

Hayooo siapa yang masih suka bergidik kalau mendengar suara lonceng Ibu dan iringan lagu Kelam Malam? 

Oh iya, buat kalian sesama penikmat film, bisa juga tuh mampir ke bacaterus.com untuk baca berbagai review film dari berbagai negara dan berbagai genre.

Semoga jadi tambah tahu ya.

sumber foto : imdb.com

Tidak ada komentar