-->

Ayo Kembali Menjadi Manusia Pancasila

Juni 01, 2019

kita indonesia, kita pancasila
Mungkinkah kita tetap menjadi Indonesia bila kita tidak lagi menghargai perbedaan?

Mungkinkah kita tetap layak disebut orang Indonesia, bila kita tidak lagi terdiri dari 1.340 suku bangsa yang berbicara dalam ribuan bahasa daerah dan menganut berbagai macam agama dan aliran kepercayaan?

Saya sungguh tidak mampu membayangkan andai semua keberagaman itu hilang musnah dari Bumi Pertiwi. Bagaimana cara kita mempertanggungjawabkan hal itu kepada leluhur dan anak cucu kita nanti? Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita harus mengakui bahwa Indonesia dibangun dengan dasar keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu. Hal itu sudah bagai suratan takdir Tuhan. Kebhinnekaan adalah kita. Kebhinnekaan ini adalah identitas kita sebagai seorang Indonesia.

Saya percaya, jauh di lubuk hati kita semua, rakyat Indonesia, tentu menyadari bahwa keberagaman ini sesungguhnya adalah modal utama kita sebagai bangsa. Lebih jauh lagi, inilah kekayaan kita. Bisa diibaratkan, Indonesia adalah sebuah supermarket yang super lengkap. Setiap pengunjung yang masuk akan terpuaskan dengan variasi barang dagangan yang luar biasa lengkap dan jumlahnya berlimpah. Lengkap dengan pelayananan yang super ramah dan harga yang murah.

Karena keberagaman ini, kita dikenal dunia sebagai bangsa yang kaya. Para leluhur kita, nenek moyang kita di masa lampau agaknya sadar betul tentang hal ini. Alih-alih melihat kebhinnekaan sebagai sebuah ancaman, mereka malah melihatnya sebagai karunia Tuhan yang patut disyukuri dan harus dirawat. Perbedaan bukan alasan untuk saling menyakiti, bahkan mereka mampu berdamai dengan segala bentuk perbedaan. Hingga merumuskan sebuah tata nilai dan sistem hidup agar bisa hidup berdampingan dalam damai. Tata nilai itu adalah Pancasila.

Nilai-nilai inilah yang membuat bangsa ini terkenal sangat toleran. Kita begitu ramah, terbuka kepada para pendatang namun tetap dihormati. Kita terbuka menerima hal-hal baru tanpa prasangka. Para leluhur kita menjalin hubungan yang sangat baik dengan Negara-negara asing seperti Cina, India, hingga bangsa-bangsa Arab. Mereka menyebut bangsa ini, Negeri Timur Jauh.

Mengapa leluhur kita bisa seluwes itu dalam pergaulan internasional? Itu karena mereka, sebagai bangsa, telah merasa aman sebagai pribadi. Sebagai bangsa, orang-orang Nusantara telah mantap dengan jati dirinya. Ibaratnya seperti seorang dewasa yang sudah mapan, sudah paham mengenai baik buruk dan mengerti tujuan hidupnya. Maka kejadian apapun yang dialaminya sudah pasti bisa disikapi secara bijak. Begitulah leluhur kita saat itu, mereka sudah begitu mantap dengan jati diri mereka sebagai bangsa, karenanya pengaruh apapun yang datang dari luar tidak akan serta merta mampu menggoyahkan pribadinya apalagi sampai melunturkan harga diri.

Bandingkanlah dengan keadaan bangsa ini sekarang. Kita sekarang hidup dalam dunia penuh prasangka buruk. Kita menyikapi perbedaan dengan emosi dan kemarahan. Saling menebar kebencian satu sama lain. Kadang malah kebencian tanpa dasar. Apa yang terjadi dengan bangsa ini? Orang-orang Indonesia masa kini, tidak ubahnya seperti remaja galau yang mudah terprovokasi, gampang terpengaruh oleh hasutan orang dan bertindak tanpa pertimbangan.

Kita kehilangan identitas. Orang Indonesia nyaris tercerabut dari akarnya. Kita sudah melupakan nilai-nilai luhur dan jati diri kita sebagai bangsa. Kita melupakan Pancasila!

Sang Proklamator, pencetus Pancasila, Soekarno pernah menyebut bahwa ia tidak menciptakan Pancasila. Pancasila adalah intisari dari nilai-nilai leluhur yang dirangkumnya dalam lima poin sakti.

Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa 

sila ke1 pancasila
Silahkan saja andai ada yang tidak sepakat, namun menurut pendapat saya sila pertama dalam Pancasila ini tidak bicara tentang agama. Sila ini berbicara mengenai spiritualisme. Sebuah istilah, yang menurut saya, sama sekali berbeda dengan agama.

Begini jelasnya, agama bisa kita anggap sebagai “cara” insan menggapai nilai spiritualisme. Ibarat jalan untuk memahami hidup dan menemukan Tuhan. Caranya bisa berbeda-beda, tergantung bagaimana kecenderungan karakter masing-masing. Tapi tujuan utamanya tetap satu yaitu Ketuhanan.

Sementara itu, spiritualisme adalah pemahaman mengenai Tuhan itu sendiri. Dalam kutipan Kitab Sutasoma disebutkan “Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. Terjemahan bebasnya berarti berbeda-beda tetapi satu, tidak ada dharma (kebenaran) yang mendua. Kata Dharma inilah yang saya pahami dalam Pancasila sebagai nilai spritualisme itu.

Itu pulalah sebabnya, ada banyak agama yang bisa diakui di Indonesia. Dan karena itu pulalah Negara menghargai dan mengayomi para penghayat kepercayaan dan agama leluhur di seluruh Indonesia. Karena tujuan dan maksud utama dari sila pertama ini bukan semata tentang “cara menyembah” namun tentang menghayati nilai Ketuhanan. 

Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab 

sila ke 2 Pancasila
Sila Kedua berbicara tentang nilai humanisme. Sila ini menunjukkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang memanusiakan manusia. Memperlakukan manusia selayaknya seorang manusia, secara adil dan beradab.

Saat bicara tentang manusia dan kemanusiaan, kita tidak akan mempermasalahkan apapun atribut yang tersandang. Apa agamanya, apa sukunya, apa jenis kelaminnya, itu tidak lagi jadi perhatian utama. Sila kedua, mengajarkan kita untuk memandang semua manusia dengan setara.

Tidak ada warga kelas dua. Tidak ada istilah perbudakan, dan tidak ada orang yang lebih rendah dari orang lainnya. Satu-satunya orang yang rendah adalah orang yang tidak memiliki rasa kemanusiaan itu sendiri. Orang-orang yang tidak memperlakukan manusia selayaknya manusia.

Setiap orang berhak diperlakukan secara layak dan adil tanpa memandang atribut yang melekat padanya. Sila ini membuat saya tersadar, bahwa kita tidak bisa memperlakukan atau menilai orang lain berdasarkan prasangka.

Coba pikir, apa hak saya untuk menghakimi seseorang itu pelit hanya karena dia berasal dari suku Minang atau Cina? Prasangka? Lalu apa pula hak saya mengganggap orang Jawa selalu lamban dalam bertindak? Tidak semua orang Minang pelit dan tidak semua orang Jawa lamban. Itu hanya prasangka yang tumbuh di kepala kita, dan mungkin saja tertanam karena hasil didikan dan pengaruh yang keliru.

Ada banyak faktor yang membuat kita membuat prasangka buruk pada orang lain, salah satunya adalah keengganan kita untuk memahami, kemalasan kita untuk membuka ruang dialog dengan orang lain. Jadi, solusi untuk mempersempit jurang pemisah bernama prasangka itu adalah dengan membuka ruang dialog seluas-luasnya dengan antar agama, antar suku, dan antar kelompok.

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia 

sila ke 3 pancasila
Sila Ketiga berbicara tentang nasionalisme. Sila ini mengamanatkan pentingnya untuk menjaga Persatuan Indonesia. Persatuan adalah prasyarat bila Indonesia ingin jadi bangsa yang kuat dan berdikari. Kalau kita benar-benar ingin hidup sebagai bangsa yang maju, penting sekali untuk menjaga dan merawat terus persatuan.

Lebih jauh, sila ini seperti menggambarkan keadaan bangsa ini di masa lalu yang guyub, rukun, penuh semangat gotong royong. Selayaknya seperti sebuah keluarga besar, dimana tiap anggota keluarganya memiliki karakter yang berbeda dengan keinginan dan kepentingan yang berbeda pula.

Sebagai keluarga besar, adakalanya ada konflik diantara anggota keluarga. Kadang saking marahnya, kita bisa saja ingin saling menyakiti. Namun satu hal yang perlu disadari, bahwa pertikaian tidak akan membuat kita menjadi hebat, justru sebaliknya malah bisa merugikan diri sendiri.

Sila Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan 

sila ke 4 pancasila
Karena bangsa ini dibangun diatas perbedaan, maka perlu ada jalan tengah untuk menyelesaikan persoalan atau saat memutuskan sesuatu.

Sebuah solusi yang dapat diterima dan memuaskan semua pihak. Sebuah cara membuat keputusan yang dapat mengakomodasi semua kepentingan kelompok yang ada. Atas dasar itulah leluhur kita mengembangkan sebuah sistem pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat.

Dalam musyawarah, setiap kelompok atau perwakilannya memiliki kebebasan untuk menyampaikan usul, saran, sanggahan dan pertimbangan untuk menyelesaikan persoalan. Menurut saya, cara ini adalah cara cerdas yang sangat demokratis untuk memutuskan sesuatu. Dalam musyawarah, kita tidak hanya dilatih untuk mencari solusi, tetapi juga dilatih untuk tidak egois.

Musyawarah mendidik kita untuk menomorsatukan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi atau kelompok. Dalam musyawarah, kita diajarkan untuk mengendalikan diri, dan belajar untuk mempertimbangkan serta berempati pada kebutuhan orang lain. Sungguh sebuah cara yang dewasa dalam berdemokrasi.

Sila Kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia 

sila ke 5 pancasila
Leluhur bangsa ini pasti telah menyadari bahwa akar dari konflik adalah ketidakadilan.

Karena itu, salah satu prasyarat untuk menciptakan kehidupan bernegara yang aman, damai adalah dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa kecuali. Keadilan sosial bukan berarti bahwa setiap daerah atau setiap orang harus memiliki jumlah harta yang sama, atau bentuk rumah yang sama.

Keadilan yang dimaksud dalam sila ini adalah kesempatan yang sama bagi seluruh rakyat untuk mendapat penghidupan yang layak. Mengacu pada sila ini, keadilan sosial dapat dicapai bila setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan, dalam berpolitik, begitupun kesempatan yang sama dalam bekerja.

Dalam usaha mewujudkan keadilan inilah peran dan kuasa Negara dibutuhkan. Itu sebabnya negeri ini tidak merestui praktik monopoli. Itu pula yang menjadi dasar, mengapa sektor-sektor strategis seperti air dan sumber energi dikuasai oleh Negara. Semuanya harus digunakan semata dengan pemerataan. Haram bagi Negara bila ia berpihak pada satu kelompok saja.

 ---------

Ancaman perpecahan yang sedang kita hadapi sekarang, sebenarnya sudah ada jalan keluarnya. Leluhur kita sudah merumuskan tata nilai itu sejak dulu. Nilai-nilai moral yang terangkum dalam dasar Negara, Pancasila.

Sungguh, kita sebenarnya sangat beruntung karena memiliki kearifan lokal yang begitu luar biasa. Kita hanya lupa telah memilikinya. Jadi mari kita mulai menjadi manusia Pancasila lagi, meresapi dan menerapkannya dalam kehidupan berbangsa agar kita kembali menjadi bangsa yang tegak dan hidup damai dalam keberagaman. Perbedaan bukan momok. Itu adalah bagian dari diri kita.

Bhinneka adalah Kita! Karena Kita Indonesia, Kita Pancasila!

You Might Also Like

22 comments

  1. Harusnya kita menjadikan Pancasila sebagai salah satu pegangan kita selain kitab suci. Dengan begitu tak ada lagi hal yang menjadi pemicu perselisihan.

    BalasHapus
  2. Baru aja tadi menonton video sambutan dari Pak Anies Baswedan tentang memperingati Kesaktian Pancasila. Dan Masya Allah pidatonya luar biasa. Terutama mengusung Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Adil dulu baru akan berabad dan bersatu.

    BalasHapus
  3. alhamdulillah di pelajaran sekolahan anaku masih diajarkan nilai2 pancasila. semoga kita dan generasi mendatang tetap berjiwa pancasila demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa :)

    BalasHapus
  4. Yess. .Mari kita rawat keberagaman Indonesia.. demi masa depan anak2 kita ya..

    BalasHapus
  5. Mba, menurutku penting banget untuk kembali mengingatkan kita untuk Indonesia. Biar sama-sama kita tetap cita Indonesia dan menjaga keutuhan bangsa ini :)

    BalasHapus
  6. Waaahh aku jadi banggaaaa banget jadi orang Indonesiaaa! Pancasila memang luar biasa ya
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  7. Bener bngt ya mba wid selama Kita berpedoman sama dila yg Ada d pancasila pasti damai ya hidupnya saling toleransi dan mnghargai perbedaan

    BalasHapus
  8. Seakan di ingatkan pada jiwa nasionalisme yang harusnya tertanam pada setiap warga negara indonesia. Berjiwa pancasila adalah keharusan karena itu adalah asas negara ya

    BalasHapus
  9. Miris emang lihat fenomena sekarang, beda pendapat sedikit bisa dihujat abis-abisan. Kadang suka ngiri sama Negara-negara tetangga yang mana ada waktu buat mikirin ginian. Semoga masyarakat Indonesia masih bisa menjaga nilai-nilai pancasila, karena belajar pancasila bukan hanya di sekolah aja, tapi dipraktekan di kehidupan masyarakat.

    BalasHapus
  10. Padahal sudah tertuang ya dalam Pancasila, berbeda kita satu. Kadang kita itu suka melupakan nilai-nilai Pancasila.

    BalasHapus
  11. Setelahgak sekolah, aku tuh agak masa bodo ya sama Pancasila. Habis itu akhirnya belajar lagi sama ponakanku yang kelas 1 SD tentang Pancasila dan juga lambangnya. Kita kudu menghidupkan nilai2 pancasila di hati kita

    BalasHapus
  12. Semoga bangsa Indonesia terus bergerak menuju arah yg lebih baik lagi dari hari ke hari.

    BalasHapus
  13. Indonesia dengan keberagamannya, aku rasa sudah cukup baik hidup berdampingan dengan tepa sliranya yang tinggi.
    Masalah zaman sekarang banyak yang mudah tersulut emosi, coba kita kembalikan ke diri sendiri lagi...sudahkah para orangtua ini menjadi contoh yang baik bagi anak-anak dalam hal pengendalian emosi?

    Karena emosi ini erat kaitannya dengan pemahaman agama.

    BalasHapus
  14. Semoga bangsa Indonesia bisa memaknai arti sesungguhnya dari nilai-nilai Pancasila ya. Supaya negeri ini selalu aman sentosa.

    BalasHapus
  15. Pancasila dengan segala silanya bisa membantu kita menjalani hidup yang lebih baik

    BalasHapus
  16. Nah, ini yang harus menjadi reminder masyarakat INdonesia ya. Kembali mengingat bahwa ada Pancasila yang menjadi perekat hubungan agar tidak terpecah belah gara-gara beda pilihan presiden

    BalasHapus
  17. Aku kok jd merasa yang namanya penataran P4 kyk zaman kita (KITA) sekolah dulu penting. Gtu jg hafalan butir2 Pancasila, biar pd inget betapa kita ini beragam lho orgnya, itu yg bikin bangsa ini kaya huhuhu...

    BalasHapus
  18. Apa yg ada dalam Pancasila juga sebenarnya sudah terangkum dalam Al-Qur'an mulai dr sila 1 sampai 5. Jadi kalo orang (muslim) bener2 mengamalkan Al-Quran, ia juga sudah mengamalkan Pancasila.

    BalasHapus
  19. Nilai-nilai luhur yang termaktub dalam kelima sila Pancasila, yang semestinya tercermin pada diri setiap warga negara Indonesia. Semoga damai dan jaya selalu Indonesia

    BalasHapus
  20. Sepakat mb... Hidup di Indonesia harus siap dengan keberagaman. Yang justru membuat kita kaya. Kalau seragam bukan Indonesia namanya. Yang penting bagaimana menjaga rasa toleransi itu tetap ada... Tfs mb...

    BalasHapus
  21. Banyak yang mau meruntuhkan Pancasila ya, kita sebagai bangsa Indonesia wajib menjaganya hingga keutuhan Indonesia terjaga pula

    BalasHapus
  22. Nilai2 Pancasila ini harus diajarkan ke anak2 sesuai umurnya. Karena, ngeri klo ngeliat kelakuan anak2 jaman now yg jauh dari nilai2 Pancasila.

    BalasHapus