Kenapa Mau Jadi Blogger?

Januari 25, 2019


Śreyān sva-dharmo vigunah Para-dharmāt svanusthitāt Sva-dharme nidhanaḿ śreyānh Paradharmo bhayāvahah (Bhagawadgita : Bab 3 Sloka 35) 

Terjemahan : 

Lebih baik menjalankan dharma (kewajiban) untuk diri kita sendiri meskipun tidak sempurna, daripada menjalankan kewajiban orang lain dengan sempurna. Lebih baik mati ketika menjalankan dharma sendiri, karena menjalankan kewajiban (mengikuti jalan) orang lain itu berbahaya. 

Saya percaya setiap makhluk yang terlahir di dunia ini memiliki peran masing-masing. Tidak selalu peran yang menonjol, tapi percayalah setiap peran yang diemban masing-masing makhluk itu penting untuk menjaga keseimbangan dunia.

Kedengaran sangat naif bukan? Tapi petuah Sri Krisna kepada Arjuna yang termaktub dalam salah satu sloka Bhagawadgita itulah yang memberi saya semangat baru setiap kali merasa kecewa dengan hidup.

Seringkali kehidupan berjalan tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Seringkali apa yang telah saya usahakan mati-matian, malah tidak memberi hasil sesuai yang diharapkan. Tapi, bukankah hidup akan selalu begitu? Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita berada di luar kendali. Mungkin hanya pikiran kitalah yang sebenarnya paling bisa kita kendalikan.

Dalam menjalankan “peran” seringkali kita dihadapkan pada dilema, kejenuhan, bahkan konflik. Tapi apa itu berarti kita harus berhenti menjalankan kewajiban? Apakah sebuah kerikil lantas bisa dijadikan alasan kita untuk menantang dharma yang ditentukan semesta buat kita?

Dharma Si Pewarta 

Sekitar 13 tahun yang lalu, berbekal gelar sarjana komunikasi di bidang jurnalistik , saya mulai perjalanan sebagai seorang wartawan. Memang bukan wartawan di media besar nasional. Hanya media lokal di Solo, yang wilayah distribusinya mencakup kabupaten/kota di eks Karesidenan Surakarta. Tapi saya cukup bangga bisa memulai perjalanan kewartawanan saya dari sana. Karena di sana saya belajar banyak.

Di bulan kedua bekerja, redaktur meminta saya untuk meliput isu menarik tentang pendidikan. Biasanya untuk tema pendidikan ini, redaksi menerima banyak undangan event dan seminar pendidikan yang perlu diliput. Namun, sebagai wartawan baru, saya diwajibkan untuk berlatih menggali isu sendiri.
Saat masih aktif sebagai wartawan

Jelas bukan perkara sepele. Sebagai orang rantau, saya bahkan tidak hapal jalan-jalan di Solo. Saya juga tidak punya koneksi apapun. Yang bisa saya lakukan hanya berjalan mengunjungi satu sekolah ke sekolah lain. Yah, hitung-hitung menjalin silaturahmi lah.

Sampai di sebuah sekolah kompleks yang lokasinya tidak terlampau jauh dari kantor. Seorang kepala sekolah berkeluh kesah mengenai tidak meratanya bantuan rehabilitasi bangunan sekolah. Sudah bertahun-tahun ia mengajukan rehabilitasi untuk ruang kelas sekolahnya yang sangat bobrok, namun tidak ada tanggapan dari dinas terkait saat itu. Tanpa banyak pertimbangan, saya pun melaporkan kondisi tersebut dalam artikel yang lalu menjadi headline Halaman Pendidikan saat itu.

Esoknya, persis di hari berita itu tayang, Kepala Dinas Pendidikan saat itu menghubungi kantor. Mereka meminta hak jawab atas berita yang saya tulis sebelumnya.

“Kemarin saya sudah menghubungi bapak untuk meminta konfirmasi lho, Pak,” jawab saya saat Bapak Kepala Dinas menanyakan berita yang saya tulis.

“Iya, tapi sekarang saya ingin menjelaskan lebih detail soal itu ya. Intinya, saya mau meluruskan saja bahwa tidak betul Dinas pilih kasih soal bantuan rehabilitasi gedung sekolah.”

“Ah, berita saya kan juga tidak menyebut Dinas pilih kasih. Hanya belum merespon permohonan sampai bertahun-tahun.”

“Ya sama saja. Orang-orang kan bisa berasumsi Dinas pilih kasih,” kata dia.

Singkat cerita, jawaban versi pemerintah pun akhirnya saya tuliskan. Dan isu itu pun mulai tenggelam teralihkan dengan isu pendidikan lain yang lebih penting untuk diberitakan. Sampai seminggu kemudian, Ibu kepala Sekolah yang saya temui sebelumnya menghubungi. Ia meminta bertemu.

Sesampainya di sekolah itu, saya mendapat sambutan bak tamu istimewa, diberi suguhan jajan pasar yang enak pula. Dan beliau mengucapkan terima kasih teramat sangat atas berita yang saya tulis. “Dinas sudah menyetujui bantuan untuk rehabilitasi ruang kelas yang hampir roboh itu loh, Mbak. Terima kasih banyak sudah mau menyuarakan kebutuhan kami. Saya nggak tahu harus berterima kasih bagaimana lagi.”

Di ruang itu pula, saya juga melihat potongan berita yang saya tulis dibingkai dan dipajang.

Haru rasanya. Itu hanya rangkaian kata yang saya tulis untuk memenuhi kewajiban saya sebagai wartawan pemula. Tapi dampaknya ternyata bisa teramat berarti bagi orang lain. Sejak saat itu, saya seperti tersadar dharma saya di dunia ini adalah sebagai perpanjangan lidah untuk orang-orang yang tak mampu bersuara lantang. Mungkin bukan peran besar, dan mungkin juga nama saya tidak bakal tercatat dalam sejarah. Tapi siapa yang tahu kata-kata yang saya tuliskan nanti bisa menguban sejarah bukan? Siapa tahu.

Lalu, kenapa mau jadi blogger? 

Tahukah kalian bahwa jadi wartawan sesungguhnya tidak sekeren yang dibayangkan? 

Tahukah kalian bahwa wartawan tidak selalu bisa menjadi independen saat memberitakan?
Atau, tahukah kalian bahwa jam kerja wartawan tidak ada bedanya dengan dokter yang harus siaga 24 jam setiap kali ditugaskan?
Tahukah kalian, ada banyak wartawan yang menerima ancaman baik fisik maupun verbal?

Wartawan seringkali bertaruh nyawa saat bekerja. Ada kalanya mereka harus meliput kejadian-kejadian yang membahayakan keselamatan dirinya. Bagaimanapun sebagai bagian dari industri media, ada banyak hal yang memerlukan kompromi. Ada keterbatasan ruang bagi wartawan untuk berekspresi.

Saya akhirnya sampai di satu titik kejenuhan yang membuat saya ingin berhenti. Dan saya benar-benar berhenti jadi wartawan!

Lepas dari dunia jurnalistik dan menulis, saya mencoba peruntungan di bidang-bidang lain. Saya mencoba berjualan online, belajar menekuni craft dan masih banyak lagi. Tapi tetap tak ada yang memuaskan hati.

Sampai akhirnya, artikel di sebuah blog membuat saya tergelitik untuk ikut membuat blog juga. Bukan.....bukan karena artikel itu menginspirasi. Tapi karena sebagian artikel tersebut mengutip artikel yang saya tulis dulu. Persis sama kata per kata, kalimat per kalimat. Kenyataan itu membuat saya dongkol, dan mulai tergerak untuk menulis lagi.

Belajar Jadi Narablog 

Membuat blog itu bukan perkara sulit. Tapi mulai konsisten mengisi dan mengembangkan blog itulah yang menjadi tantangan terberat untuk saya. Bahkan sampai saat ini, selang 5 tahun sejak saya pertama kali memposting tulisan.

Dibanding jadi wartawan, menjadi narablog, padanan kata dalam bahasa indonesia untuk menyebut blogger, menurut saya jauh lebih sulit dan melelahkan. Bayangkan sajalah, sebagai wartawan dulu saya nyaris tidak pernah pusing memikirkan ilustrasi, infografis untuk penunjang artikel. Saya juga nggak perlu repot cari angle bagus buat mengambil gambar.

Sebagai wartawan, saya juga nggak dipusingkan oleh distribusi. Saya nggak pernah ikut ngurus apakah tulisan ini bakal dibaca banyak orang atau tidak. Apalagi kalau sampai memikirkan uang iklan yang masuk supaya koran bisa terus hidup. Sebagai wartawan, saya cuma perlu fokus menggali data dan jeli terhadap fakta lapangan, lalu menuliskannya secara runut.

Bandingkan dengan narablog. Selain harus menulis sendiri, saya juga harus mau repot mencari ilustrasi penunjang. Sebagai narablog, saya juga kudu memikirkan apakah tulisan ini akan menarik banyak pembaca atau tidak. Singkatnya, narablog itu ibarat one man show. Dan butuh waktu lama bagi saya untuk beradaptasi.

Pun begitu, ada banyak kepuasan yang saya dapat selama menjadi narablog beberapa tahun terakhir ini.

1. Kepuasan finansial 

Suka tidak suka, saya harus jujur mengakui bahwa iming-iming uang adalah salah satu faktor yang membuat saya bertahan menulis blog sampai sekarang. Bukan hal yang direncanakan memang, tapi saat pertama kali saya mendapat hadiah uang tunai dari salah satu lomba blog (Baca : Andai Gus Dur Punya Twitter), saya jadi penasaran untuk mencoba peruntungan serupa. Tidak hanya dari lomba blog, penghasilan lain juga bisa didapatkan saat kita mengikuti campaign atau event kerjasama dengan brand atau lembaga negara. Nah, yang seperti ini tidak mungkin bisa terjadi kalau saya jadi wartawan. Karena menerima “goodie bag” saat peliputan sama artinya dengan menerima uang amplop. Itu haram hukumnya buat wartawan.


2. Kepuasan menulis 

Sebagai narablog, saya nyaris tidak pernah dipusingkan dengan batasan dan aturan orang lain. Saya bebas menuliskan apa yang saya ingin tulis. Saya juga bebas menuliskan seberapa panjang tulisan di blog. Saya memang tidak lagi menjadi wartawan, tapi sebagai narablog, saya merasa lebih independen daripada saat jadi wartawan.Satu-satunya yang membatasi saya adalah diri saya sendiri.
Etika jurnalistik, itulah yang membuat saya seringkali membatasi diri saat menulis atau melakukan peliputan. Meski ibusegalatau.com ini merupakan blog pribadi, namun blog ini berada di ruang publik. Siapapun bisa mengakses. Dan saat masuk ke ruang publik, semua butuh etika, perlu sopan santun dan tata krama. Menurut saya, etika membuat kita lebih profesional dan beradab. Ya bagaimanapun seorang narablog juga harus tetap profesional bukan?

3. Kepuasan aktualisasi diri 

Sebagai manusia, saya butuh eksis. Bukan berarti saya menuntut tampang saya harus muncul dimana-mana tiap hari, kalau mau begitu sih mending jadi selebritis pembuat sensasi aja. Hahaha, kayak bakal laku aja ya. Nah, menurut Ahli Jiwa, Abraham Maslow, aktualisasi diri sebagai puncak hierarki kebutuhan manusia. Kebutuhan ini meliputi pemenuhan diri, realisasi potensi serta kebutuhan untuk menjadi kreatif. Hal-hal yang rasanya bisa saya capai saat saya menulis di blog.

4. Friendship 

Harus diakui blog membuat jaringan pertemanan saya makin luas. Terutama sejak bergabung dengan beberapa komunitas blog. Blog ini menjadi media untuk saya mulai berkenalan dan bertemu dengan para narablog keren dari berbagai latar belakang. Dunia tanpa batas yang dulu sempat diramalkan para ahli itu kini benar-benar saya rasakan.

Ah, tentu masih ada banyak hal yang perlu saya benahi dan perlu saya capai sebagai seorang narablog. Setidaknya tahun 2019 ini, saya harus lebih aktif dan konsisten menulis. Saya tidak mau lagi mengingkari dharma saya di dunia, untuk menulis, dan mewartakan suara-suara lirih. Kalaupun tidak bisa mencatatkan diri di sejarah, paling nggak saya bisa ikut menuliskan sejarah.

Ya, siapa tahu..

You Might Also Like

17 comments

  1. Mak Wied tulisannya selalu oke ih. Aku suka. Enak banget dibaca dari awal sampai akhir.

    Betewe, itu ada aku.. Yeaaayyyy...

    BalasHapus
  2. Aku bacanya ikut terharu, karena satu tulisan malah bisa membantu oranglain dalam hal ini pihal sekolah yang harus direnovasi ruang kelasnya. Semangat teru smenulisny ambak, jadi blogger andal:) Aku maulah diajari menulis mbak

    BalasHapus
  3. Membaca artikel ini saya jadi flashback ke satu dekade yang lalu. Bermula dari pekerja media yang nyambi ngeblog, lantas benar-benar fokus menjadi blogger dan penulis lepas. Rasanya memang beda ya menulis untuk tempat bekerja dan untuk diri sendiri. Sepakat dgn yang dibilang, bahwa batasan saat ini adl diri sendiri. Dan ya, satu yg saya suka dr blogger, nggak perlu merasa bersalah saat menerima goodie bag dan amplop saat melakukan peliputan hehehehe.

    BalasHapus
  4. banyak ya manfaat dari ngeblog.. dan bisa diandalkan jadi sumber income utama kalo diseriusin hehhe.. happy blogging kakak...

    BalasHapus
  5. Suka banget dengan tulisannya 💖 Keep writing, suatu hari nanti akan bertemu jalannya sendiri ..

    BalasHapus
  6. Bagus bangeet~
    Aku suka sama point Dharma yang dijelaskan.
    Relatable banget sama kesudahannya.

    Sukses selalu menjadi narablog yang handal dan profesional.

    BalasHapus
  7. betul mba, dengan ngeblog jadi banyak teman, bisa aktualisasi diri dan dpat rejeki...tapi kalau saya sih blm apa2..jd narablog aja blm pede :D

    BalasHapus
  8. aaah mbaak..saya sukaaa tulisan ini.. sukanya serieessss

    BalasHapus
  9. Ikut haru pas membaca diundang kembali ke sekolah Mbak. Masya Allah, keren banget itu.

    BalasHapus
  10. Wartawan itu tantangannya berat ya.. Ya gitu deh.. Karena membawa sebuah nama label tertentu jadi enggak bebas. Bener, hampir 24 jam mirip dokter yg harus selalu siap siaga.


    Sedangkan blogger kita bisa nyantai namun konsisten. Rajin merawat blog tentu pundi-pundi uang akan terkumpul. Hihihihihi

    Selain itu bisa mengenal banyak orang terutama sesama blogger.

    BalasHapus
  11. Paragraf terakhirnya saya suka banget. Tulisan memang adalag goresan sejarah. Sebagai bukti bAhwa kita pernah ada dan menulis.

    BalasHapus
  12. Mbaaaak, asyik banget baca cerita Mbak yang banting stir jadi blogger. Daku terharu dan jadi ikut bersyukur atas pilihan ini.

    BalasHapus
  13. Wah pantesan keren tulisannya, mantan wartawan sih. Aku setuju, pusing jadi blogger wkwkwkwk. Aku ngeblog dulu cuma lantaran kesepian di luar Jawa. Dengan ngeblog, temanku banyak. Eh, makin kesini kalau nggak bisa foto, infografik, seo, edebre2 dinyinyirin, dihinadina, medioker bla bla bla wkwkwkwk. Ampon dah. Semoga betah ya jadi blogger.

    BalasHapus
  14. selain menyalurkan hobi, dapat teman-teman baru yang memiliki hobi yang sama..sungguh menyenangkan..hehe

    BalasHapus
  15. Keren tulisannya, Mbak. Saya jadi semangat lagi buat rajin ngeblog. Terima kasih atas tulisannya.

    BalasHapus
  16. Aku juga lulusan komunikasi jurusan jurnalistik, pernah jadi reporter malah terakhir sebelum pensiun dini, ku kerja selama 10 tahun di indosiar :)
    Ngeblog dan jadi blogger karena ingin dokumentasiin hasil kerja, liputan semasa jadi reporter.

    BalasHapus
  17. Suka banget sama tulisan ini. So... inspiring.
    Aku percaya, minimal satu orang bisa terinspirasi dari tulisan kita.

    Itulah kenapa aku sering banget berbagi sama sahabat blogger atau blogger wanna be yang masih belum yakin untuk menuliskan kisah hidupnya di blog, baik suka maupun duka agar mau berbagi, karena kita takkan pernah tahu dampak tulisan kita itu bahkan bisa mengubah seseorang.

    Tentu saja dalam hal ini menuju kebaikan ya...

    Jadi,
    Tetaplah menulis...


    BalasHapus