Asian Games, Titik Tolak Menuju Indonesia Maju

9:22 PM

foto : kompas.com
Dulu, saat terdengar kabar Indonesia akan mengajukan diri sebagai tuan rumah Asian Games XVIII, saya sempat mendengar suara-suara bernada pesimis. Dibilang Indonesia nggak bakal siap melakukan persiapan karena waktunya terlalu mepet lah. Takut menghabiskan anggaran lah.

Yah, memang suara nyinyir ini nggak se-santer sekarang. Mungkin karena waktu itu situasi politik belum seriuh sekarang. Mungkin saat itu, mereka yang nyinyir masih kehabisan energi karena berlaga di ajang pemilihan umum yang digelar ditahun yang sama. Bisa jadi kan?

Saat pemerintah mengumumkan target peraihan 16 medali emas di Asian Games, suara-suara pesimis itu terdengar lagi. Katanya target pemerintah tidak realistis, terlalu muluk. Kondisi atlet dibilang tidak siap. Dan banyak lagi argumen lainnya. Seharusnya kritik seperti itu datang bersamaan dengan tawaran solusi. Tapi seperti yang kerap terjadi di negara ini, mereka yang mengkritik juga kerap lupa menawarkan solusi. Saya maklum kok.

Saya bersyukur, kritikan yang datang bertubi-tubi dan silih berganti itu tidak menyurutkan semangat pemerintah dan sebagian besar orang-orang hebat yang dilibatkan dalam pelaksanaan Asian Games XVIII Jakarta-Palembang ini. Para atlet tetap giat berlatih dan mempersiapkan stamina, infrastruktur pendukung terus ditata, dibangun dan digenjot pengerjaannya. Sejumlah fasilitas umum dibenahi dan dipercantik. Semua seolah acuh dengan suara pesimis yang masuk.

Akhirnya, di hari H, setelah seluruh tahap persiapan usai dilakukan , Indonesia berhasil menggelar sebuah pesta olahraga yang tidak hanya luar biasa, lebih tepat kalau dibilang spektakuler!! Ini bukan kata saya sendiri lho. Ini juga kata media-media asing dan juga perawakilan negara peserta Asian Games dan undangan yang ikut meliput dan menyaksiakan keriaan Asian Games yang berakhir 2 September 2018 lalu. Seperti yang dikatakan Perdana Menteri Korea Selatan kepada Presiden Jokowi, sebagaimana yang dikutip melalui laman setkab.go.id

Pesta olahraga akbar se-Asia ini dibuka dengan Opening Ceremony yang memukau. Out of the box! Terasa sangat milenial, menunjukkan gairah muda yang luar biasa tapi juga sangat “Indonesia”. Konon ada 4000-an penari yang terlibat dalam gelaran Opening Ceremony yang kental dengan tradisi itu. Bagi saya pribadi, itu adalah pertunjukkan keren yang membangunkan kesadaran bahwa saya adalah Indonesia!

Sampai sekarang saya bahkan masih merinding saat menyaksikan rekaman Opening Ceremony Asian Games. Rasanya haru tapi juga kagum. Bagaimana mungkin saya bisa nggak sadar bahwa orang Indonesia ternyata bisa membuat pertunjukkan yang semegah itu. Buyar sudah rasa minder karena jadi orang Indonesia yang sering pesimis, suka nyinyir dan pengeluh ulung. Gelaran Opening Ceremony itu membuktikan bahwa orang Indonesia juga mampu membuat karya yang mengesankan. Angkat topi yang setinggi-tingginya buat semua pihak yang terlibat. Termasuk juga kepada relawan, dan mereka yang tidak tersorot kamera, seperti para tenaga pembersih di area pelaksanaan, para petugas tiket, serta petugas-petugas keamanan dan kesehatan yang selalu siaga.

Salut pula untuk Presiden Jokowi yang sudah mau berpartisipasi dengan menampilkan aksi motor di Opening Ceremony tersebut. Kapan lagi kan kita punya Presiden sekeren itu! Saya bangga! Sekali lagi saya harus katakan, ini adalah pertunjukkan yang spektakuler.

sumber foto : setkab,go.id

Rasanya sudah berpuluh tahun saya tidak menyaksikan tontonan yang nasionalis begini. Biasanya saya tidak pernah seantusias ini mengikuti dan menyaksikan atlet Indonesia berlaga. “Ah, paling juga kalah lah!” begitu pikir saya dulu.

Tapi kemarin, setelah mood kebangsaan saya dipompa oleh gencarnya promosi untuk dukung Asian Games, dan setelah menyaksikan Opening Ceremony yang membanggakan itu, saya kok jadi semangat menyaksikan dan membicarakan semua hal tentang Asian Games. Nggak peduli lah apa atlet kita mau menang atau tidak. Saya hanya suka menyemangati mereka saja. Saya terbawa euphoria Asian Games.

Kegembiraan ini makin membuncah setelah kita sukses menduduki peringkat 4 peraihan medali, dibawah China, Jepang dan Korea Selatan. Pencapaian ini jauh melampaui target awal yaitu masuk jadi 10 besar dan menggondol 16 medali emas. Para atlet itu membuktikan dimana ada kemauan pasti ada jalan, setiap kerja keras pada akhirnya akan berbuah manis.

Lalu kemana suara-suara pesimis yang muncul kemarin? Ah, sebagian yang nyinyir kemarin sepertinya agak kehilangan minat buat nyinyir. Entah mereka kekurangan bahan nyinyir atau lelah karena diabaikan. Tapi sebagian lagi, masih ada juga yang nekad terus-terusan mengkritik. Kurang inilah, kurang itulah. Terlalu beginilah, terlalu begitulah. Ya sudah biarkan lah!

Dari kacamata saya sebagai orang awam, Indonesia masa depan seolah tergambar jelas dari perhelatan olahraga akbar itu. Indonesia maju di masa depan akan diisi oleh generasi yang tahu bagaimana caranya menghargai kebudayaan asli nusantara yang beragam. Orang Indonesia di masa mendatang akan seperti pertunjukkan Opening Ceremony Asian Games XVIII, mereka bangga tampil dengan identitas kedaerahannya masing-masing. Tapi alih-alih memperdebatkan budaya mana yang paling bagus, mereka justru menari dan bernyanyi bersama. Saling berangkulan dan mendukung satu sama lain dalam sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seperti gelaran Opening Ceremony Asian Games itu, Indonesia maju di masa depan, akan diisi oleh orang-orang yang inovatif, bertumbuh dengan mengikuti perkembangan global. Bayangin dong presidennya aja berani nge-trail! Apalagi masyarakatnya.

 Melihat sambutan dan antusiasme rakyat Indonesia selama Asian Games ini, saya percaya Indonesia maju di masa depan akan menjadi bangsa yang selalu ingat beramah tamah dengan tamu-tamunya. Mereka ramah dan santun, membuat bangsa-bangsa lain jatuh cinta sekaligus iri dengan senyuman orang-orang Indonesia.

Oh iya, jangan lupakan juga dong momentum langka saat dua calon presiden yang akan berlaga pada Pilpres 2019, dirangkul bersama oleh atlet pencak silat peraih emas dalam kibaran bendera merah putih. Itu momentum yang sangat epic sekaligus penuh makna simbolik. Sebagai manusia yang gemar memberi tafsir ini itu, izinkanlah saya memaknai momentum rangkulan dua calon presiden oleh atlet pencak silat itu sebagai simbol kerukunan. Seberapa sengitnya kita bertarung, pada akhirnya kita harus berangkulan dan berjuang bersama di bawah naungan Merah Putih. Ya Tuhan, sungguh mengharukan!
sumber foto :  Instagram/hanifan_yk
Dan satu lagi yang pelajaran yang harus kita ingat setelah melihat perjuangan para atlet Indonesia yang berlaga di Asian Games kali ini adalah kenyataan bahwa kita adalah bangsa pejuang. Kita memiliki genetik sebagai pejuang yang tidak menyerah apapun tantangan yang menghadang. Ya, kita mungkin sekarang sedang merasa berada dalam masa sulit. Kita dalam rongrongan disintegrasi, saling adu nyinyir di media sosial. Yang minoritas merasa tak dihargai, yang mayoritas merasa difitnah dan sebagainya. Saya juga ngeri dan khawatir dengan keberlangsungan negara ini.

Tapi melihat semangat juang para atlet yang berlaga kemarin, semangat saya jadi tumbuh lagi. Saya lihat bagaimana seorang atlet, Anthony Sinisuka Ginting yang mengalami kejang otot kakinya terus berjuang hingga titik darah penghabisan. Dia jatuh, lalu bangkit lagi, jatuh lagi, bangkit lagi. Saya jadi percaya, mungkin ada banyak anak muda Indonesia yang optimis dan tahan banting diluar sana. Anak-anak muda dengan semangat juang seperti Ginting, yang jatuh lalu bangkit lagi, jatuh lagi tapi terus bangkit lagi. Generasi inilah yang nanti akan mengantar bangsa ini menjadi Indonesia maju. Saya percaya!
Anthony Ginting mengalami cedera di pertandingan Asian Games. sumber foto : Tribunnews.com
Melihat prestasi para atlet di Asian Games, dan keberhasilan kita sebagai tuan rumah Asian Games, saya berpikir apa mungkin ini bentuk proses revolusi mental yang digembar-gemborkan Jokowi sejak awal kepemimpinannya?

Revolusi mental sering disebut program yang abstrak. Beberapa orang yang pesimis mengatakan revolusi mental adalah program nggak jelas yang cuma bisa buang-buang uang. Tunggu dulu, kalau kita membahas tentang mental tentu kita akan membicarakan sesuatu yang abstrak, tidak jelas wujudnya. Tapi yang abstrak ini membuahkan hasil yang konkrit. Orang-orang dengan mental juara, mental pejuang akan selalu menghasilkan prestasi dan pencapaian yang membanggakan. Orang-orang dengan mental yang sehat, akan menghasilkan sebuah peradaban maju yang mengangkat harga diri bangsa. Bukankah demikian?

Jadi, kalau dibilang revolusi mental adalah program abstrak, mungkin tidak sepenuhnya salah. Revolusi mental adalah sebuah program abstrak yang memberi hasil yang konkrit. Prestasi Asian Games adalah salah satunya.

Sekali lagi, saya optimis Asian Games kali ini akan menjadi semacam titik tolak kita sebagai bangsa menuju pencapaian yang jauh lebih baik. Dari titik ini kita berangkat menuju bangsa yang maju, bangsa yang tercerahkan. Menjadi Indonesia Maju!

Referensi :
http://setkab.go.id/asian-games-2018-itu-indah/
http://setkab.go.id/dibuka-presiden-jokowi-asian-games-2018-diharapkan-jadi-kebangkitan-olahraga-indonesia/
http://setkab.go.id/asian-games-2018-sukses-presiden-jokowi-sampaikan-apresiasi-kepada-semua-pihak-terkait/
http://setkab.go.id/16-000-atlet-ikuti-asian-games-2018-presiden-jokowi-tampilkan-wajah-ramah-bangsa-kita/

You Might Also Like

2 comments

  1. Semoga ke depan prestasi olahraga Indonesia tambah maju. Fasilitasnya kan banyak yang direhab jadi bagus. Semoga nggak ada tangan-tangan jahil yang merusaknya kek kejadian di stadion jakabaring tempo hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga menular ke bidang2 yg lain juga y, bukan hanya olahraga. Ini jadi permulaan yang bagus buat membangun optimisme dan rasa nasionalis lagi..

      Hapus