(Resensi) RANGGALAWE : Sang Penakluk Mongol

1:39 AM

Tepat setahun berselang saya membaca dan menulis resensi novel karya Makinuddin Samin, Ahangkara (Baca reviewnya disini). Kali ini, setelah membaca karya terbaru dari penulis ini, Ranggalawe: Sang Penakluk Mongol, rasanya saya jadi gregetan sendiri ingin segera membuat resensi. Yah, sekedar catatan kecil tentang hal-hal yang menarik dari novel ini.

Ranggalawe sendiri tokoh yang menarik. Ia dicap pemberontak, sekaligus pahlawan. Tokoh yang berperan penting dalam sejarah pendirian Majapahit, namun sosoknya sendiri tenggelam diantara kisah kehebatan Majapahit. Nama Ranggalawe nyaris tidak disebut dalam sejarah, kecuali sambil lalu saja sebagai pemberontak di awal perjalanan Majapahit.

Tapi secara samar, sebagian kalangan terutama masyarakat Tuban yang masih bangga dengan adat dan leluhurnya, mengagungkan tokoh ini. Ranggalawe adalah pahlawan Tuban. Namanya memberi kebanggaan bagi orang Tuban. Bagaimana kisah Ranggalawe hingga bisa diberi stempel “pemberontak” namun juga dipuja sebagai pahlawan? Kamu harus baca novel ini!

Judul : Ranggalawe (Sang Penakluk Mongol) 
Penulis : Makinuddin Samin 
Penerbit : Javanica 
Penyunting : Shalahuddin Gh 
Pemindai Aksara : Jenny M Indarto 
Penggambar Sampul : Imam Buncah 

Sinopsis 

Singasari runtuh setelah digempur pasukan Jayakatwang, penguasa Kediri. Raja Singasari, Kertanegara dan sebagian besar pengikut setianya, gugur. Keempat putri Kertanegara tercerai berai dalam pelarian. Salah satu menantu Kertanegara, Nararya Wijaya melarikan diri dan meminta perlindungan dari Adipati Sumenep, Arya Wiraraja.

Pilihan Wijaya tidak salah. Dengan dukungan Adipati Tuban, Ranggalawe, yang juga merupakan putra Arya Wiraraja, mereka mengatur siasat untuk merebut kembali takhta Jawa. Di bawah kendali Ranggalawe, rencana pemberontakan pun disusun. Dengan memanfaatkan kedatangan tentara Mongol yang datang untuk menaklukan Jawa, Jayakatwang berhasil didongkel dari singgasananya. 

Bahkan dengan siasat yang rumit, pasukan Mongol yang digdaya pun berhasil dipukul mundur, dipaksa pulang kembali ke kampung halamannya. Kubilai Khan, Kaisar Mongol yang memimpin langsung pasukannya untuk menggempur kerajaan Jawa, terbunuh dalam peristiwa itu.

Nararya Wijaya lantas menjadi penguasa dari kerajaan baru, Majapahit. Ia melanjutkan takdir leluhurnya, trah Ken Angrok, untuk menguasai Nusantara. Namun, ini tidak berarti darah tak lagi tertumpah di tanah Jawa. Sekutu lantas menjadi musuh. Perseteruan tidak serta merta berhenti. Wijaya enggan melepaskan Lumajang dan Tigang Juru kepada Arya Wiraraja, ayah Ranggalawe, sebagaimana perjanjian Sumenep sebelum pemberontakan dilakukan. Bahkan, janjinya untuk mengangkat Ranggalawe sebagai Mahapatih pun urung ditepati.

Perbawa Ranggalawe terlalu besar. Putra kedua Arya Wiraraja itu terlalu bersinar untuk menjadi pejabat Majapahit. Dan tidak boleh ada dua “matahari” dalam satu kerajaan. Wijaya merasa tidak memiliki pilihan lain, ia harus melumpuhkan Ranggalawe, membuatnya redup sebelum akhirnya menenggelamkannya.

Melalui serangkaian kejadian dan tragedi peristiwa yang terjadi akibat operasi telik sandi yang rumit, Wijaya pun menemukan alasan untuk menyerang Tuban. Namun toh, tidak semua pejabat Majapahit mendukung rencana Sang Raja. Pejabat Majapahit terbelah.

Tuban tak tinggal diam menghadapi Majapahit. Mereka bersekutu dengan orang-orang Kendeng Utara untuk meredam gempuran. Tapi perang sudah tak mungkin lagi dihindarkan. Dan sebagaimana tercatat dalam buku-buku sejarah, Tuban harus bertekuk lutut dibawah kekuasaan Majapahit. Ranggalawe gugur, namun alih-alih tercatat sebagai pemberontak, ia justru dipuja sebagai pahlawan. Kematiannya ditangisi oleh kawan dan lawan.


Kesan Saya 

Kisah kepahlawanan yang mengharukan dengan akhir cerita yang tragis. Ah, sebenarnya dari judulnya saja kita seharusnya tahu bahwa ini bukan kisah yang bakal happy ending. Cerita tentang tokoh kharismatik yang dituding melawan raja Majapahit, manalah mungkin berakhir bahagia.

Pun begitu, kelihaian penulis menggiring emosi pembaca hingga terhanyut dalam pergulatan emosi tokoh-tokoh dalam novel ini memang layak diacungi empat jempol. Jadi, meski saya tahu ending cerita ini akan menyedihkan, tetap saja emosi saya terbawa masuk ke dalam perjuangan Ranggalawe dan pergulatan batin tokoh-tokoh lain.

Ranggalawe memang jarang disebut dalam sejarah Majapahit. Setidaknya ia tidak sepopuler Wijaya, Hayam Wuruk atau Gajah Mada. Namanya tenggelam dalam kisah-kisah kepahlawanan dan kejayaan Majapahit. Secara gamblang, novel ini rasanya memang ingin mengatakan bahwa kedigdayaan Majapahit bukan sesuatu yang diperoleh dalam sekejap mata. Ada banyak pengorbanan, banyak darah dan air mata yang tertumpah sebagai tumbal sekaligus saksi mata berdirinya kerajaan digdaya bernama Majapahit.

Sepanjang pengetahuan saya, pemberontakan Ranggalawe baru disebutkan dalam Pararaton. Dalam Negarakertagama, sebagai referensi sejarah yang lebih tua, konon tidak menempatkan Ranggalawe sebagai pemberontak. Itu mungkin bisa diartikan, meski dinilai membangkang kepada raja berkuasa, Nararya Wijaya, raja pertama Majapahit itu sebenarnya tetap menaruh hormat kepada Sang Adipati Tuban.

Sekali lagi, saya perlu angkat topi untuk penulis yang mampu menuliskan kisah Ranggalawe dengan sangat detail dan dramatis. Sungguh, emosi saya diajak naik turun selama membaca novel ini. Sebentar saya terhanyut dalam romansa percintaan yang dilematis, tapi lalu di halaman berikutnya tiba-tiba saja saya jadi tegang lantaran merasa terlibat dalam operasi telik sandi yang disusun Ranggalawe dan pengikut setianya, Jaran Pikatan.

Oh iya, selain Ranggalawe, tokoh Jaran Pikatan, pemimpin kelompok telik sandi Bajing Nila, juga cukup mencuri perhatian. Bukan hanya karena kisah percintaannya dengan putri bungsu Kertanegara, Gayatri, tapi  karena karakternya memikat. Ia memiliki kemampuan telik sandi yang sangat mumpuni. Belum lagi kesetiaan yang luar biasa kepada junjungannya dan ilmu kanuragan yang memukau. Sungguh laki-laki yang ideal menurut versi saya. Andai saja dia ada di kehidupan nyata saat ini.

Kembali ke kisah “pemberontakan” Ranggalawe. Melalui novel ini, kita akan diberikan paparan sejarah lain dengan versi Ranggalawe. Bila dalam Pararaton disebutkan bahwa motif pemberontakan Ranggalawe adalah kekecewaannya lantaran batal diangkat sebagai patih, maka buku menyuguhi kisah yang berbeda.

Bukan ambisi politik yang membuat Tuban membangkang pada Majapahit. Perlawanan terpaksa terjadi karena Nararya Wijaya mulai merasa terancam dengan popularitas dan kecemerlangan Ranggalawe.

Saya sendiri, sedikit terkejut dengan penggambaran Wijaya disini. Raja pertama Majapahit itu digambarkan sebagai lelaki yang tidak cukup percaya dengan kemampuannya sendiri. Seperti lelaki impoten yang mencari pelampiasan dengan menyalahkan atau menyerang siapa saja yang dirasa mengusik kejantanannya. Ini hanya perumpamaan. 

"Tidak boleh ada 2 matahari dalam satu langit" 

Seperti itulah agaknya cara pikir Wijaya yang bisa saya tangkap dalam novel ini. Maka diaturlah siasat dan dihembuskan kabar tentang ketidakpuasan Ranggalawe atas pengangkatan Nambi sebagai Mahapatih. Ini menjadi legitimasi Majapahit untuk menggempur Tuban. Sebenarnya langkah itupun merupakan siasat yang bagus.

Sungguh, saya mengagumi cara penulis berkisah tentang berbagai seluk beluk dalam dunia telik sandi ini. Sangat rinci, masuk akal dan mudah dipahami. Aneh ya, mengingat operasi telik sandi sebenarnya adalah hal yang sulit dipahami. Tapi penulis bisa membuatnya menjadi lebih sederhana tanpa kehilangan greget. Kalau boleh jujur, sebenarnya saya agak sedikit terganggu dengan typo di beberapa kalimat. Tapi masih cukup termaafkanlah. Toh, tidak sampai menyulitkan untuk memahami kalimat.

Ah, andai saja buku-buku sejarah ketika saya sekolah dulu bisa menampilkan kisah sejarah seapik novel ini, tentunya pelajaran sejarah tidak akan pernah membosankan. Dan kalaulah karya ini belum bisa dikategorikan sebagai referensi sejarah, setidaknya buku ini bisa membangkitkan kebanggaan terhadap para leluhur kita.

Bagaimanapun memukul mundur Mongol adalah prestasi yang luar biasa. Pada masanya, Dinasti Yuan merupakan imperial adidaya dengan wilayah kekuasaan yang luas. Sungguh kemampuan yang luar biasa bukan? Apalagi saat itu, di Jawa sebenarnya tidak ada kerajaan yang berkuasa penuh. Karena Singasari baru saja runtuh, Kediri pun tak mendapat dukungan penuh dari wilayah eks Singasari. Sementara kekuatan Nararya Wijaya tidaklah sebanding dengan pasukan Mongol.

Dan semoga tidak terlalu lancang. Tapi setelah membaca Ranggalawe rasanya saya melihat sedikit persamaan antara tokoh ini dengan peranan Sri Krisna dalam epic Mahabharata.

Dalam pertempuran, keduanya memang tidak pernah disebut sebagai tokoh sentral, tapi harus diakui bahwa Sri Khrisna lah “otak” dari kemenangan Pandawa di Kurusetra. Tanpa siasat Krisna, saya ragu Pandawa bisa memenangkan perang besar Bharatayuda. Persis seperti itu pula peran Ranggalawe dalam kisah pendirian Majapahit. Tanpa siasat dan operasi intelijen yang dilakukan Ranggalawe, saya ragu Wijaya dapat mengalahkan Jayakatwang sekaligus memukul balik tentara Mongol.

Setelah melalui petualangan sepanjang 500 halaman, seolah-olah saya jadi mengenal langsung sosok Ranggalawe. Makanya, di bagian kematian Ranggalawe emosi ini rasanya campur aduk. Ingin rasanya saya ikut berteriak, “Duuuhh Kangmas Lawe!” 

Mengharukan sekali. Kematiannya tragis, karena ia meregang nyawa setelah melawan kawan-kawannya sendiri. Untungnya, penulis masih cukup berbaik hati menggambarkan akhir hayat Ranggalawe dengan indah. Karena meskipun ia terbunuh secara tragis, atma-nya meninggalkan dunia fana dengan penuh kerelaan dan kedamaian. Tidak ada dendam dan kelekatan, mungkin karena ia tahu bahwa ia telah memenuhi dharmanya.

Duuh, jadi sedih lagi. Ah Kangmas Lawe…… 

Tapi, kematian Ranggalawe bukan akhir cerita. Bersiaplah untuk kejutan terbaiknya di bagian akhir. Ini bagian yang paling saya suka. Novel ini mengungkap versi lain dari asal usul Gajah Mada. Bahwa kelahiran Gajah Mada sebagai Penakluk Nusantara sudah diramalkan sebelumnya dan bahwa ia bukanlah keturunan dari “orang biasa”

Terlepas bahwa novel ini sebagai sebuah karya fiksi. Saya sungguh menyukai kisah asal usul Gajah Mada versi Makinuddin Samin ini. Dibanding cerita-cerita lainnya, ini adalah kisah yang paling masuk akal dan menjelaskan banyak hal misterius seputar riwayat Gajah Mada. Anda mungkin akan terkejut, karena saya juga sangat terkejut, saat disebut bahwa Gajah Mada, yang memiliki nama lain Gajah Dipta, sebenarnya adalah keturunan Ranggalawe dan Tribuwaneswari, puteri sulung raja Singasari terakhir, Kertanegara.

Spekulasi bahwa Gajah Mada adalah keturunan Kertanegara sebenarnya sudah kerap muncul. Terutama bila didasarkan dengan fakta sejarah yang tertulis dalam Prasasti Singhasari bertarikh tahun 1351. Prasasti ini menyebutkan pembangunan caitya atau candi pemakaman untuk Prabu Kertanegara oleh Mahapatih Gajah Mada.

Lumrahnya, pembangunan caitya hanya dilakukan oleh keturunannya. Maka fakta bahwa pembangunan caitya dilakukan oleh Gajah Mada memunculkan kecurigaan bahwa Gajah Mada adalah keturunan dari Kertanegara. Ada versi yang menyebut, Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon, pendamping Nararya Wijaya. Gajah Pagon sendiri disebut sebagai anak dari selir Kertanegara.

Tapi buat saya, versi Makinuddin Samin ini, sekali lagi, lebih masuk akal. Apalagi dengan kecakapan dan intelegensi yang luar biasa seperti Gajah Mada, rasanya kok sulit membayangkan bahwa dia adalah keturunan “orang biasa”. Atau setidaknya dia pasti dididik oleh orang yang tidak biasa.

Nah, silahkan saja baca bukunya supaya lebih paham apa yang saya maksud. Yang pasti buku ini sudah langsung masuk dalam deretan buku favorit saya. Dan bakal jadi novel yang saya rekomendasikan ke orang-orang.

Semoga jadi tambah tahu y.

You Might Also Like

2 comments

  1. Mak Wiiiiid, aku bacanya harus pelan kalau soal sejarah mah, karena aku masih harus menyatukan garis-garis di otak..hihi..

    Jadi Ranggalawe itu orang yang terkhianati juga ya.. Nyesek ih..

    BalasHapus
  2. Keserakahan selalu membawa kehancuran ya.

    Mempertahankan kekuasaan, selalu ada yang dikorbankan. Hari ini sekutu, besok jadi musuh bebuyutan.

    Tapi negeri ini nggak bisa belajar dari masa lalu. Padahal sejarah selalu berulang.

    Thanks untuk berbagi kisah Ronggolawe. Sebersit kenangan kala belajar ips, muncul perlahan.

    BalasHapus