Mengenang Gesang, Sang Legenda

12:29 AM


Saya merasa beruntung. Karena pekerjaan saya dulu, sebagai jurnalis di media lokal, memberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi. Salah satunya adalah Gesang, maestro keroncong yang kondang itu.

Kalau tidak salah, September 2009, saat saya bertandang ke rumah Gesang untuk mewawancara dan menuliskan profil dirinya untuk Harian Umum SOLOPOS. Itu berarti kurang dari setahun sebelum Gesang meninggal. Umurnya menjelang 92 tahun waktu itu. Cukup tua, namun ia masih sangat fasih bercerita. Dan juga semangat menanggapi berbagai pertanyaan. Apalagi kalau itu berkaitan dengan musik keroncong. Dan sekedar wujud apresiasi saya kepada Gesang, sekaligus untuk memperingati wafatnya sang maestro pada 20 Mei, saya tulisan lagi kenangan saat berbincang dengan Gesang.

Tulisan ini pernah dimuat di SOLOPOS pada tahun 2009. Ditambah dengan beberapa catatan tambahan, yang karena keterbatasan halaman tidak ikut ditampilkan pada waktu itu.
(photo: hendz-jr.blogspot.co.id)

Gesang, seperti namanya, yang berarti hidup. Semangat pencipta lagu Bengawan Solo yang memukau dunia ini seolah memang tak pernah mati. Bahkan di umurnya yang hampir 92 tahun, musik masih tetap membuatnya bergairah. Tubuhnya boleh jadi sudah renta, berjalannya pun tampak tertatih-tatih, tapi saat berbicara tentang keroncong dan sejarah hidupnya, Gesang dengan semangat pemuda terlihat penuh gairah hidup. Ya, dialah Gesang dengan semangat yang tak mau kalah dengan namanya.

Barangkali, bila Gesang kecil yang waktu itu diberi nama Sutadi tak mengalami sakit parah, hari ini kita tidak akan mengenal legenda keroncong dunia. Nama kecilnya, Sutadi. Ayahnya, Martodihardjo adalah seorang pengrajin batik asal Boyolali dan ibunya, Sumidah, berasal dari Klaten. “Waktu kecil saya sakit parah, dan hampir tak tertolong,” tutur Gesang.

Tapi nasib masih berpihak pada Sutadi kecil, ia sembuh meski akibat panas tinggi itu, telinga kirinya tak lagi berfungsi normal. Sebagai ucapan syukur, Sutadi kecil pun berganti nama menjadi Gesang, sebuah bentuk harapan yang mengantarkannya hingga ke usia 92 tahun. Dunia Gesang tidak pernah jauh dari seni. Sejak umurnya masih belia, Gesang sangat gemar melukis. Satu dari sekian banyak lukisan karyanya masih terpampang di salah satu sudut ruang tamu di rumahnya di Jalan Bedoyo, Kemlayan, Solo yang dipenuhi memoribilianya. Lukisan seorang perempuan asing yang cantik. Berhidung mancung dan rambut ikal. Kata Gesang, lukisan itu adalah lukisan gambar aktris film bisu yang terkenal saat Gesang masih muda. “Namanya Janeette,” katanya soal sosok wanita cantik dalam lukisan sketsa tersebut.

Lama menekuni dunia lukis, hasil keringat Gesang mulai membuahkan hasil. Beberapa orang memintanya untuk membuat lukisan wajah para aktris dan tokoh terkenal untuk dijual. Satu lukisan saat itu, dihargai Rp 5,-.

Namun hal itu tak berlangsung lama. Alur kehidupan mengenalkan Gesang pada musik keroncong, dan langsung membuatnya jatuh cinta. Ia tiba-tiba berhasrat untuk menjadi penyanyi keroncong. Nasihat orang tuanya agar ia terus menekuni dunia lukis pun tak digubris. “Saya ingin menjadi penyanyi keroncong,” kata Gesang mengenang tekadnya saat muda.

Tampaknya Gesang muda begitu tergila-gila pada musik keroncong. Ia bahkan betah nongkrong berlama-lama di Pendapa tempat radio Solo masa itu melakukan siaran, hanya untuk mendengarkan keroncong secara langsung. Lantaran sering “setor muka”, lama-kelamaan ia pun diajak bergabung. “Yah, waktu itu saya tidak bisa langsung menyanyi, selama dua hingga tiga bulan tidak ada lagu karya saya yang bisa diterima. Katanya lagu ciptaan saya masih kurang baik, harus belajar lagi.”

Sadar bahwa ia masih perlu banyak belajar, Gesang lantas bergabung dengan grup-grup keroncong yang banyak bermunculan pada masa itu. Bagai kepompong, selama tergabung dalam grup keroncong, Gesang bermetamorfosis dari ulat menjadi kupu-kupu. Di sini pulalah, insting musiknya terasah. Hingga akhirnya, Radio Republik Indonesia (RRI), meminta grup keroncong Gesang siaran di RRI. “Bayarannya saat itu lumayan, mulanya Rp 2,5 lantas naik menjadi Rp 6,- sekali siaran.”

Selama era itu, terciptalah karya perdana Gesang, Si Piatu, yang terinspirasi oleh kisah hidupnya sendiri dan Roda Dunia yang terinspirasi dari peristiwa Perang Dunia. Lagu Bengawan Solo sendiri baru diciptakan Gesang sekitar tahun 1940, saat sedang menghabiskan waktu di pinggir Bengawan Solo yang tengah susut airnya lantaran musim kemarau.
(not-lagu.blogspot.co.id)

Lagu ini lantas cukup sering diperdengarkan di radio pada masa-masa perang. Terutama di era penjajahan Jepang. Makanya, jangan heran kalau banyak tentara Jepang yang sangat familiar dengan lagu Bengawan Solo. Saking terkesannya dengan lagu Bengawan Solo, lagu ciptaan Gesang ini pun jadi sering dimainkan pula di Negeri Sakura sana. Mungkin sebagai pelepas rindu para tentara Jepang. Dan konon, sampai sekitar akhir tahun 1970-an, orang Jepang masih tidak mengenal siapa pencipta lagu Bengawan Solo. Menurut musisi keroncong, Nuning Darmono, nama Gesang sebagai pencipta lagu Bengawan Solo baru dikenal lantaran proyek pembangunan Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri.

Dalam proyek pembangunan tersebut, Pemerintah Indonesia melibatkan perusahaan Jepang sebagai partner. Dan tentu saja, karena itu banyak ahli Jepang yang datang kesana. Salah satu kakak Nuning, kebetulan juga terlibat dalam proyek tersebut. “Insinyur-insinyur Jepang itu ada yang sempat bertanya siapa pencipta lagu Bengawan Solo,” kata Nuning.

Merasa kenal dengan si pencipta lagu Bengawan Solo, kakak Nuning lantas mengenalkan rekan-rekan Jepangnya itu pada Gesang. Dari situlah nama Gesang akhirnya dikenal luas di Jepang. Ia bahkan seringkali diundang untuk bernyanyi di Negeri Sakura itu. Musik Gesang memang easy listening. Liriknya pun tak terlampau rumit. “Kalau di seni lukis, saya ini boleh dibilang termasuk aliran naturalisme. Lagu ciptaan saya terinspirasi oleh hal-hal sekitar yang saya alami sendiri,” jelasnya.

Hal itu menjelaskan, mengapa lagu-lagu ciptaan Gesang selalu berlirik sederhana, dan menyentuh emosi. Tapi sederhana bukan berarti mudah. Diakuinya, untuk menciptakan sebuah lagu, Gesang membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Seperti lagu Bengawan Solo yang ia ciptakan dalam waktu sekitar enam bulan. “Mencipta lagu itu bukan masalah sepele, harus ada persatuan antara akal dan rasa,” ucap dia sembari menunjuk kepala dan dadanya.

Alhasil, selama 64 tahun berkarya, tak banyak lagu yang berhasil ia ciptakan. Ia memang bukan musisi yang produktif. Barangkali itu pula sebabnya, mengapa Gesang memperlakukan lagu-lagunya dengan sangat istimewa, seperti anak-anaknya sendiri. “Buat saya, semua lagu ciptaan saya sama, tidak ada satu lagu yang lebih saya cintai daripada lainnya. Seperti orang tua pada anaknya, saya ini punya 25 anak (lagu ciptaannya), lalu ditanya paling sayang dengan yang mana? Tentu saja saya akan bilang sayang semuanya.”

Sebagai seniman musik, wajar kiranya bila Gesang selalu bercita-cita menapak jenjang karir yang lebih tinggi. Sayangnya, keberuntungan itu tak pernah berpihak padanya, Sepanjang karir bermusiknya di RRI, Gesang mengaku sudah berkali-kali mengikuti lomba bintang radio yang diadakan RRI. “Paling mentok juara kelima, padahal yang dikirim ke Jakarta kan juara pertama.”

Bagaimanapun, Gesang tetap manusia biasa, kegagalan bukannya tak pernah menghinggapinya. Sebaliknya, kegagalan dan kesuksesan, bagi Gesang merupakan satu paket yang harus diterima. Di masa perjuangan kemerdekaan, saat agresi militer Belanda I, Gesang juga pernah ditolak saat mendaftar menjadi prajurit perang. “Menurut mereka saya tidak punya tampang pejuang, jadi disuruh kembali dan berjuang di kampung saja,” kenangnya sembari terkekeh.

Tapi waktu itu ia sempat nekad berangkat berperang. Dan kalau ada yang pernah mendengar lagu Jembatan Merah karya Gesang. Lagu itu ia ciptakan ditengah masa perang. Lagu yang bercerita tentang kisah kekasih yang berpisah karena perang dan berjanji untuk setia.

Sebagai seniman, saya pikir wajar kalau Gesang melahirkan karya karena terinspirasi dengan urusan percintaan. Tapi, tidak begitu menurut pengakuan dia. Gesang sendiri mengaku pernah sekali menikah. Tidak terlalu lama, hingga akhirnya ia bercerai. Dan tak pernah menikah lagi hingga akhir hidupnya. Ia tidak memiliki anak, hanya ada keponakan yang tinggal bersama dan mengurus dirinya.

Melajang hingga usia lanjut bukan beban buat Gesang. Ia tipe orang yang melihat hidup dengan sederhana. Bahkan untuk urusan selera makan pun nggak neko-neko. Berkali-kali bertandang ke luar negeri tetap saja selera makannya masih sangat “Indonesia”. Martabak telor, acar bawang dan yangko adalah makanan-makanan yang kerap dirindukan Gesang tatkala ia ke luar negeri. Ada kebiasaan unik yang dilakukannya tiap kali menyantap martabak. Gesang paling suka makan martabak dengan nasi hangat dan kecap. Jadi alih-alih sebagai kudapan, martabak malah dianggapnya sebagai lauk. Selain itu, dia juga suka sop buntut. Ini jadi menu andalan yang selalu ia pesan setiap kali makan di restoran.

Itulah Gesang, sosok legenda musik yang gesang (hidup) ini adalah sosok yang penuh kesederhanaan. Asam garam yang telah direguk selama hampir 92 tahun umurnya dijalani dengan keikhlasan. “Sekarang saya hanya berharap untuk bisa terus sehat. Itu saja,” ujarnya menutup cerita. Samar-samar, dalam kesendiriannya, Gesang kembali bersenandung. Ah Gesang, musik memang sudah jadi bagian dari hidupnya, apalah artinya Gesang tanpa musik.
Patung Gesang di Taman Gesang, Kawasan Taman Satwa Taru Jurug Solo Jawa Tengah (credit photo : tribunnews.com)

******Selang beberapa bulan setelah itu, tepatnya 20 Mei 2010, Gesang berpulang. Saya tidak ikut meliput ataupun melayat saat itu. Tapi ada doa yang saya panjatkan buat Pak Gesang. Semoga ia bisa terus menyanyi di dunianya yang baru. Musiknya yang indah itu, akan terus saya banggakan dan saya jaga selayaknya warisan.

You Might Also Like

14 comments

  1. Balasan
    1. sedari dulu jadi perhatian insani. Dulu bawa berkah, sekarang dianggap bawa banjir. hehehe

      Hapus
  2. Sang maestro keroncong ya Mbak. Beliau hits banget di Solo. Sampai2 bengawan solo jadi iconnya Solo gara2 lagu itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hits di Solo dan di Indonesia sih mbak. Sayangnya aku waktu itu nggak tanya dia dapet royalti nggak ya

      Hapus
  3. Salah satu sosok kebanggaan dari Solo �� Suka deh bacanya mak. Thumbs up

    BalasHapus
  4. Suka baca artikel nya, jadi lebih serasa mengenal Pak Gesang lbh akrab.

    BalasHapus
  5. Terjawab sudah pertanyaan yg kupendam. Bagaimana caranya orang jepang bisa kenal bengawan solo

    BalasHapus
  6. Legend y mba aku baru tahu kisahnya selama ini ga terlalu fokus untuk mengenal lebih dalm
    sang pencipta Bengawan Solo 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooh Legend banget. sangat dihargai di Jepang. Konon, Taman Gesang juga yang biayai pembangunannya oleh pemerintah Jepang. Sayang kalau kenangan Gesang berlalu gitu aja

      Hapus
  7. Gesang sang legendaris, icon Solo ya, selalu suka dengan Bengawan SOlo dan Jembatan Merah apa mungkin karena yang sering sy dengar ya.

    martabak, nasi hangat dan kecap..saya juga suka bangeeet hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagunya Gesang emang easy listening banget sih mbak. Aq juga suka.

      Makan martabak pake nasi hangat dan kecap? wahahaha satu selera ama Mbah Gesang

      Hapus