Tidak Ada Roro Jonggrang di Prambanan?!

2:08 AM

Rasanya mustahil membicarakan Candi Prambanan tanpa menyinggung kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Sebuah kisah epik, yang harus diakui jadi salah satu daya pikat candi Hindu ini. Tapi, saat saya akhirnya kembali mengunjungi Candi Prambanan akhir 2016 silam, setelah belasan tahun lamanya, saya menyadari satu hal bahwa tidak ada arca Roro Jonggrang disana. 

Seingat saya, kunjungan terakhir ke Candi Prambanan itu adalah saat saya mengikuti study tour SMP. Itu berarti sudah 20 tahun lalu, kurang lebih. Dan tidak banyak yang saya pahami atau saya ingat pada kunjungan saat itu. Maklum lah ya, anak SMP main ke candi, tujuan utama nya yang paling foto-foto sambil cuci mata lihat turis bule yang kebetulan plesiran ke sana. Nggak kepikir sama sekali untuk mengamati secara teliti apa yang ada di Candi Prambanan. Penjelasan tour guide saat itu bagai angin lalu saja, terdengar samar dan nggak nyantol blas di kepala. 

Lalu, selama empat tahun kuliah di Yogya dan lebih dari lima tahun bekerja di Solo, candi ini sudah bolak balik saya lewati karena terletak di jalur rutin saya. Toh sama sekali tidak terlintas untuk mampir lagi kesana. Buat saya waktu itu, Candi Prambanan hanya sekedar penanda bahwa sebentar lagi saya sampai ke Yogya. Tapi akhir 2016, ketika kami sekeluarga berkunjung ke Yogya, saya putuskan untuk mampir ke Candi Prambanan. 

Candi itu kelihatan lebih terawat dan cantik di banding 20 tahun lalu, tentu ini didasarkan pada ingatan saya saat terakhir kali berkunjung kesana sebagai siswi SMP. Toko-toko souvenir di area candi kelihatan lebih tertata. Cukup rapi. Dan yang paling penting tidak ada lagi penjual souvenir yang berkeliaran dan memaksa membeli dagangan. Sungguh situasi yang nyaman untuk turis seperti saya. 

Area loket pembelian tiket masuk terbagi dua, untuk turis asing dan wisatawan lokal. Hal yang umum terjadi di lokasi wisata di Indonesia. Tapi sebenarnya sampai sekarang saya masih nggak paham kenapa harus dibedakan begitu. Kebijakan yang agak rasis rasanya. Ah, sudahlah. 

Tiket masuk ke kompleks candi sangat terjangkau. Wisatawan bisa memilih, mau membeli tiket masuk Prambanan senilai 30.000 atau tiket paket Prambanan dan Boko seharga Rp 50.000. Di dalam kompleks Candi Prambanan sendiri ada tiga candi lain yang bisa dikunjung yaitu Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu, ketiganya merupakan candi Buddha. Karena sudah terlalu siang, saya memilih untuk membeli tiket non paket. Cukup dua tiket saja, karena untuk balita seperti Narend ternyata nggak diwajibkan membeli tiket. 

Jalan masuk ke Candi Prambanan cukup rapi, bersih dan lapang. Penataan pepohonan dan tanaman bunga sepertinya memang dirancang untuk merekonstruksi suasana Candi Prambanan di masa lalu. Dan cukup sukses membuat saya merasakan suasana penuh aura era kejayaan Kerajaan Medang. 

Di areal halaman pusat Candi Prambanan ada 16 candi, yaitu 
1. Candi Siwa 
2. Candi Brahma 
3. Candi Wisnu 
4. Sandi Nandi 
5. Candi Angsa 
6. Candi Garuda 
7. Candi Apit, 2 buah 
8. Candi Kelir, 4 buah 
9. Candi Sudut, 4 buah 

Di bagian tengah, tentu saja, candi yang terbesar adalah Candi Siwa yang memiliki 4 bilik. Tiap bilik berisi satu arca. Arca Siwa Mahadewa, Arca Rsi Agastya sebagai Siwa Mahaguru, Arca Durga Mahisasuramardini dan Arca Ganesha

Candi Siwa ini diapit dua candi yang ukurannya lebih kecil yaitu Candi Brahma dan Candi Wisnu. Di dalam masing-masing candi terdapat Arca Brahma dan Wisnu. Dalam kepercayaan Hindu ketiganya dikenal sebagai Trimurti. Saya sendiri, memahami trimurti sebagai tiga simbol yang mewakili peran dan kekuatan Tuhan. Sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur. Seperti sebuah siklus kehidupan yang dialami semua makhluk, yaitu terlahir, hidup dan melebur kembali dengan alam (mati). 

Tiga candi yang lain yaitu Nandi, Angsa dan Garuda mewakili hewan-hewan tunggangan para dewa tertinggi ini. Nandi, berwujud sapi, sebagai tunggangan Siwa. Angsa sebagai tunggangan Brahma dan Garuda sebagai tunggangan Wisnu. 

Dari posisi dan ukuran Candi Siwa, saya hampir bisa memastikan bahwa Candi Prambanan adalah sebuah situs pemujaan Dewa Siwa. Duh, apalah saya ini, tetiba berlagak seperti ahli sejarah begini. Apalagi, di dalam Candi tersebut terdapat arca-arca yang mewakili “kekuatan” Siwa dalam berbagai wujudnya. Diantaranya Siwa dalam perwujudannya sebagai Mahadewa. Konon, asal muasal sebutan itu disematkan pada Siwa, lantaran pada suatu waktu muncul sosok makhluk yang mengganggu kehidupan para dewa. Para dewa lantas meminta Siwa untuk melenyapkan makhluk tersebut. Dan untuk kepentingan itu, Siwa diberi setengah dari kekuatan masing-masing dewa. Karena itulah ia dianggap sebagai dewa tertinggi. 

Arca Rsi Agastya, sebagai perwujudan Siwa Mahaguru. Menurut riwayat kuno yang terdapat pada kitab-kitab Hindu, Ia adalah seorang penganut Siwa yang taat. Rsi Agastya adalah maharesi yang berasal dari wilayah Jambudwipa (India) yang mengajarkan dharma di Nusantara. Tidak heran kalau sosoknya sangat dihormati dan diagungkan di Nusantara. Rsi Agastya digambarkan sebagai seorang brahmana bertubuh tambun dan perut buncit. Mirip dengan penggambaran Semar dalam kisah pewayangan. Dialah yang dikenal sebagai pamomong Pandawa. Sebagian kalangan juga berkeyakinan bahwa Semar sebagai pamomong raja-raja Nusantara. Perwujudannya sebagai manusia terakhir diyakini sebagai Sabdo Palon yang mendamping Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Dan mokhsa setelah Brawijaya beralih keyakinan. 


Arca ketiga dalam Candi Siwa adalah Ganesha, dikenal juga sebagai dewa ilmu pengetahuan, dewa pelindung, penolak bala dan kebijaksanaan. Anak dari Siwa dan Parvati. Ganesha digambarkan berbadan manusia tapi berkepala gajah. Berperut buncit dan memiliki empat tangan. 

Arca terakhir dalam Candi Siwa adalah Durga Mahisasura Mardini yang berarti Dewi Penakluk Asura. Dalam mitologi Hindu, bangsa Asura sebagai anti tesis dari Dewa kerap kali membuat ulah dan mengacaukan kahyangan. Bangsa Asura ini dipimpin oleh makhluk berwujud banteng (mahisa). Durga sendiri adalah dewi bertangan delapan dan perwujudan dari Parwati, istri Siwa. Ia ditugaskan untuk menumpas para Asura ini. Untuk keperluan itu para dewa membekalinya dengan sejumlah senjata. Arca Durga Mahisa sura Mardini ini digambarkan Sang Dewi menaiki banteng. Rupanya inilah yang dianggap sebagai arca Roro Jonggrang, putri cantik yang konon berhasil memperdaya Bandung Bondowoso lantas dikutuk menjadi arca. 


Dulu sekali, saat saya masih sangat buta mengenai ajaran Hindu dan Buddha. Saya dengan mudah mengamini kisah tutur tentang Roro Jonggrang da Bandung Bondowoso ini. Ditambah lagi dalam kompleks itu juga terdapat Candi Sewu, yang bakal dengan mudah disangka sebagai bangunan candi yang dibuat Bandung Bondowoso dengan bantuan makhluk halus. Dan tidak jauh dari Candi Prambanan juga bisa terdapat situs Istana Ratu Boko. Dalam kisah Roro Jonggrang, Ratu Boko ini disebut sebagai istana milik Raja Boko, ayah Roro Jonggrang yang ditumpas mati oleh Bandung Bondowoso. 

Candi Prambanan adalah Rumah Siwa 

Bangunan Candi Prambanan sebenarnya bernama Sivagraha. Berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Rumah Siwa. Hal ini tertulis dalam Prasasti Sivagraha yang berasal dari Kerajaan Medang, juga dikenal sebagai kerajaan Mataram Kuno. Dalam prasasti berangka tahun 778 Saka (856 Masehi) itu menyebutkan tentang sebuah candi agung yang dipersembahkan untuk Siwa. Menilik ciri-cirinya, candi yang digambarkan dalam prasasti itu identik dengan Candi Prambanan. 
Prasasti Sivagraha
credit photo : wikipedia,com

Masih dari prasasti yang sama dituliskan pula bahwa Candi Sivagraha ini dibangun pada masa Rakai Pikatan. Mengacu pada sumber sejarah itu pula, disebutkan juga adanya perebutan kekuasaan antara Balaputeradewa yang berasal dari wangsa Syailendra dengan Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya. Singkat cerita, Rakai Pikatan berhasil memenangkan pertarungan setelah menggempur pertahanan Balaputeradewa di bukit Boko. Balaputeradewa lantas menyingkir ke Sriwijaya. 

Karena penasaran, saya coba mencari informasi dan merekonstruksi kejadian itu, serta mencari tahu bagaimana kaitan kisah tersebut dengan legenda Bandung Bondowoso. Nah, begini pendapat saya sebagai orang awam. Di masa Kerajaan Medang, terdapat dua wangsa besar yang berkuasa. Yaitu wangsa Sanjaya yang menganut Hindu Siwa dan wangsa Syailendra yang menganut Buddha Mahayana. Bisa jadi, kedua wangsa ini memerintah Medang secara bergantian. Salah satu raja terbesar dari wangsa Syailendra, Samaratungga memiliki putri bernama Pramodhawardhani yang dinikahi oleh Rakai Pikatan, dari wangsa Sanjaya. Saya melihat ini sebagai pernikahan politik untuk menyatukan dua wangsa besar itu. Karena dengan pernikahan itu, sama artinya Rakai Pikatan juga memiliki hak atas tahta Samaratungga. Hal ini kemudian ditentang oleh Balaputeradewa yang juga dari wangsa Syailendra. Perebutan kekuasaan terjadi, dan kemenangan berpihak pada Rakai Pikatan. 

Lalu bagaimana kaitannya dengan cerita Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang? Tentu saja, tokoh-tokoh legenda itu besar kemungkinan dibuat dengan mengacu pada tokoh-tokoh nyata masa lalu. Bandung Bondowoso sebagai tokoh fiksi untuk menggambarkan Rakai Pikatan, Roro Jonggrang untuk menggambarkan Permaisuri Pramodhawardhani dan Balaputeradewa sebagai Ratu Boko. Candi Sewu, yang sebenarnya jumlahnya hanya sekitar 249 candi digambarkan sebagai bangunan candi yang tidak selesai dibangun Bandung Bondowoso. 

Pertanyaan berikutnya, kenapa kisah perebutan kekuasaan ini harus dituturkan dengan penggambaran tokoh yang berbeda? Saya punya beberapa pemikiran. Pertama, kisah ini dituturkan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi hingga berkembang sedemikian luas dikalangan masayarakat biasa. Sungguh tidak elok rasanya menuturkan pertikaian kalangan kerajaan secara terbuka. Demi alasan keamanan, keselamatan dan kenyamanan akan lebih baik bila tokoh-tokoh dalam kisah itu disamarkan dengan nama lain. 

Kedua, kita tentu tidak dapat mengeyampingkan kenyataan bahwa bangunan candi ini baru ditemukan kembali oleh pemerintah kolonial. Di masa itu, zaman sudah berganti. Hindu dan Buddha bukan lagi keyakinan yang dianut mayoritas masyarakat. Bahkan kerajaan yang berkuasa saat itu tidak lagi bercorak Hindu Buddha, melainkan Islam. Bisa saja ada upaya untuk menyamarkan asal usul candi pemujaan Siwa ini dalam bentuk cerita tutur lama tentang Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Usaha ini bisa dimaklumi karena kegunaan asli bangunan ini tidak sesuai dengan keyakinan pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Maka ingatan samar tentang perebutan kekuasaan antara wangsa Syailendra dan Sanjaya berpadu dengan kepentingan kekuasaan saat itu jadilah legenda Roro Jonggrang.  

Lalu kenapa Pramodhawardhani digambarkan sebagai Durga Mahisasura Mardini? Entahlah, saya juga tidak yakin sebab sebenarnya. Tapi sudah menjadi kewajaran dalam masyarakat Jawa tempo dulu untuk mengarcakan tokoh tertentu sebagai bentuk penghormatan. Maka mengingat Rakai Pikatan seorang penganut Hindu Siwa, mungkin saja penghormatan terhadap permaisurinya diwujudkan dalam bentuk arca Durga Mahisasura Mardini. Bathari Durga sendiri banyak dipuja sebagai dewi perlindungan. 

Sudah pasti, ini bukan teori yang valid. Teori ini hanya ide yang berputar-putar di kepala saya saat coba merangkai berbagai informasi mengenai Candi Prambanan. Terlalu jauh jeda waktu kita dengan pembangunan Sivagraha ini, dan terlalu minim pula sumber sejarah yang bisa menceritakan kisah sebenarnya. Mungkin seharusnya kita punya lebih banyak sejarahwan atau arkeolog yang bisa meneliti lebih dalam supaya kita tahu seperti apa leluhur kita di masa lalu. Supaya kita nggak kehilangan arah, lebih mengenal tokoh-tokoh asing ketimbang tokoh-tokoh dari Nusantara. Lebih paham sejarah perang di negeri antah berantah yang kita sendiri bahkan nggak ikut terlibat, ketimbang memahami konflik yang pernah terjadi di tanah kita sendiri. Saya percaya mempelajari sejarah negeri sendiri itu penting, semata supaya bisa lebih mengenal jati diri kita sebagai bangsa. 

Halaah, cukuplah sudah teori tentang Roro Jonggrang ya. Secara keseluruhan kawasan wisata ini cukup nyaman dikunjungi lho. Setidaknya fasilitas yang tersedia lumayan komplit. Ada ruang menyusui disana, ada taman bermain untuk anak. Di halaman kompleks candi yang cukup luas, kita juga bisa mendapati ayam yang sepertinya dilepas liar di sana, ada taman rusa juga. Cocok deh kalau ngajak anak-anak kesana. 



Tapi yang bikin saya senang adalah museumnya. Areal museum ini ditata rapi sekali. Bagian tengah ada pendopo. Di pendopo itu, pengunjung bisa memesan jamu semacam beras kencur, kunir asem, atau kalau mau beli jamu godhogan buat dibawa pulang juga ada. Harganya lumayan deh, nggak terlalu jauh kok sama jamu yang dijual di luaran. Cuma buat saya pas aja gitu, sesudah capek keliling candi bisa langsung mampir kesana sambil minum jamu dingin. Nyeesssss enak banget. 


Nah, di halaman museum ini disusun arca-arca. Museumnya sendiri terletak dibagian belakang. Koleksinya lumayan sih, dan ternyata nggak cuma barang-barang kuno yang berasal dari Candi Prambanan saja, tapi juga dari situs-situs lain. Yang sedikit jadi catatan, dan semoga bisa diperbaiki oleh pengelola adalah kondisi kamar mandinya. Eh, sebenarnya nggak parah-parah banget sih. Karena ada hiasan bunga-bungaan juga. Tapi waktu saya kesana kemarin, airnya mati dan saya ketiban apes karena mendapati sisa buangan pengunjung sebelumnya. Hiihhh. Batal deh pakai kamar mandinya. 



Bagian lain yang juga saya sukai dari kompleks wisata ini karena dibangunnya Sanggar Pemujaan bagi para penganut Hindu dan Buddha disana. Dengar-dengar sih bangunan ini belum lama. Tapi bagus deh, seenggaknya ada perhatian buat umat Hindu dan Buddha yang ingin bersembahyang, berziarah disana. Kalau bersembahyang langsung di candinya kan sudah susah ya karena sudah jadi tempat wisata. Nggak khusyuk banget kalau lagi sembahyang ada yang jepret-jepret atau cekikian di belakang gitu. 

Sebenarnya, kami kemarin minat banget sih sekalian melihat tiga candi lainnya. Tapi berhubung kita sampai kesana sudah terlalu siang jadi rasanya nggak memungkinkan. Lain kali kalau kesana mungkin harusnya datang lebih pagi.

You Might Also Like

12 comments

  1. Liputannya komplet ,ba Wied
    Uti suka bisa buat na,bah wawasan untuk yg suka sejarah dan percandian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih Uti..Semoga bermanfaat

      Hapus
  2. Seputar candi sekarang banyak pohon dan taman, jadi lumayan bisa buat berteduh selepas keliling candi.
    Sayang, waktu kesana saya nggak memperhatikan tiap arcanya apalagi sejarahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, jadi nyaman ya mbak. Mungkin memang gitu seharusnya kalau mau jadi tujuan wisata internasional.

      Hapus
  3. Aku belum pernah ke Prambanan hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo dong main ke Prambanan.. kan deket

      Hapus
  4. wah sudah lama gak kemari terakhir lagi masih sekolah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe sama dong. Ayo dong main kesana lagi..

      Hapus
  5. Duh, belum pernah ke candi Prambanan. Semoga bisa ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Kalau ke Candi Prambanan mending pagi2 mbak. Jadi bisa sekalian mampir ke candi lainnya. Disana bisa nyewa sepeda juga kok, jadi nggak gempor jalan kaki

      Hapus
  6. Baca ini jadi ikutan mikir, apa iya ya nggak ada Roro Jonggrang, tapi apa mgkn Durga itu dibilang Roro?
    Aku ke Prambanan gak naik sampai di atas >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang nggak ada mbak. Ya si Arca Durga itu yang selama ini dianggap orang2 sebagai patung Roro Jonggrang. Kalau teori ku sih, cerita itu memang sengaja dikembangkan untuk menyamarkan kegunaan asli candi siwa graha sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa.
      Dan kemungkinan lainnya, Arca Durga dibangun sebagai bentuk penghormatan permaisuri Rakai Pikatan itu..

      Hapus