Jadi Penonton Cerdas : Ayo Sensor Mandiri


Saya adalah generasi televisi dan video. Maksudnya, saya tumbuh kembang di era ketika televisi dan video menjadi hiburan utama dalam keluarga. Moment kumpul keluarga selain makan bersama adalah nonton TV. Memang sih, waktu saya masih kecil kebanyakan hanya bisa nonton TVRI, siaran televisi swasta seperti RCTI dan “adik-adiknya” baru ada ketika saya masuk SD. Begitupula dengan video, kota kelahiran saya bukan kota besar, tidak ada bioskop disana. Tetapi kami bisa selalu update film-film terbaru dan juga serial luar negeri melalui persewaan video. Jadi, sejak kecil saya sudah cukup akrablah dengan film Mandarin, Bollywood, hingga Hollywood. 

Dan begitulah, saya tumbuh besar ditengah euphoria dan geliat pertelevisian nasional. Kalau film sih, lebih banyak nonton film luar negeri. Maklum pada dekade 1990-an, tidak banyak pilihan film Indonesia yang layak ditonton oleh anak seusia saya waktu itu. Kata orangtua saya, “Itu film orang tua. Anak kecil tidak boleh nonton, nanti cepat tua.” Hahahaha…Ada-ada saja. 

Mungkin itu juga yang membuat saya lalu tertarik mengambil studi Komunikasi Massa ketika kuliah. Segala tontonan di televisi, film berbagai genre, saya lahap. Tayangan TV dan film adalah topik pembahasan yang seru , yang sering saya jadikan bahan diskusi dengan teman-teman di kost. Sebuah film, seringkali bisa “bercerita” lebih banyak dari cerita film itu sendiri. Ada makna tersirat dari tiap adegan, dan dari pemilihan kata dalam dialog. 

Kita ambil contoh, dari film-film horror Indonesia sepanjang masa yang dibintangi oleh Sang Ratu Horror, Suzzanna. Sebut saja, Telaga Angker, Malam Jumat Kliwon, dan Malam Satu Suro, ada satu alur yang sama dalam film-film Horror Suzzanna. Perempuan yang teraniaya lantas mati penasaran menjadi demit, arwah penasaran dan membalas dendam pada penjahat yang “merusak” hidupnya. Kurang lebih begitu, namun tentu saja diramu dengan bumbu dan alur yang berbeda di tiap filmnya. Di tiap film, hampir selalu ada seorang pemuka agama, biasanya Ustadz yang menasehati sang demit untuk kembali ke “alam”-nya dan berhenti membalas dendam. Ending cerita yang bahagia sekaligus miris karena meski para penjahat alias tokoh antagonis berhasil dikalahkan, namun sang pemeran utama, yang notabene arwah penasaran pun tetap harus pergi, tidak bisa dibilang bahagia bukan? 
 Pola seperti ini, hampir selalu terjadi dalam film-film horror yang diproduksi pada dekade 1980-an. Sebuah pola cerita yang diminati oleh penonton pada saat itu tampaknya. Lebih dari sekadar adegan-adegan teror oleh si arwah penasaran yang menyeramkan, dan bumbu adegan mesra dan pakaian mini sebagian pemeran wanitanya, film-film ini mungkin ingin menyampaikan bahwa perbuatan jahat pasti akan mendapat balas. 

Sayangnya, menurut kacamata saya, ada penyampaian informasi yang nggak pas. Pernahkah Anda perhatikan, setiap dukun, biasanya suruhan sang tokoh antagonis, selalu berpakaian hitam, menggunakan keris, memakai kemenyan dan kadang mengucapkan mantra jawa. Misalnya saja di film Malam Satu Suro, pada adegan awal tokoh Ki Rengga menaklukan Sundel Bolong, alias Suketi dengan dengan mantra jawa kuno yang kalau saya tidak salah, seyogyanya dipakai untuk memuja Tuhan YME. Pemakaian kemenyan pun, bukankah sebenarnya hal yang wajar dalam pemujaan Tuhan pada agama-agama kuno nusantara. Umat Hindu pun masih memakai wewangian saat bersembahyang. Namun, karena pola berulang yang disajikan pada banyak film Indonesia ini, kebanyakan masyarakat jadi beranggapan bahwa kemenyan dan keris adalah sesuatu yang sesat, buruk. Pemahaman yang lestari di sebagian kalangan sampai sekarang. Hal ini, jelas tidak menguntungkan, kalau tidak mau dibilang sangat merugikan suku dan agama tertentu. 

Saya hanya ingin menunjukkan, sebesar itulah dampak film pada kehidupan masyarakat kita. Sebagian besar masyarakat kita masih belum lihai memilah dunia nyata dan realitas media. Mereka mengganggap apa yang ditampilkan di film, disajikan oleh televisi adalah hal yang benar adanya. Padahal, satu hal yang perlu dipahami, realitas media yaitu realitas yang disajikan oleh media melalui adegan film, tayangan televisi tidak selalu sama dengan kenyataan. Kalau itu disebut sebagai potret kecil realita mungkin masih bisa dibenarkan. Itupun dengan tambahan bumbu dan dramatisasi disana-sini supaya menarik untuk ditonton. Bumbu-bumbu yang muncul dari hasil imajinasi sang pembuat film, yang bodohnya kadang kita amini sebagai kenyataan. Lebih parah lagi, kadang kita duplikasi di kehidupan nyata. Itu sebabnya perlu ada filter dalam diri kita sendiri saat menonton film atau tayangan televisi. Itulah pentingnya mengembangkan budaya sensor mandiri

Kadang, saya merasa heran dengan pendapat yang menyebut maraknya kejahatan dan perilaku menyimpang karena pengaruh film dan tontonan. Andai kita memiliki kemampuan untuk menyensor sendiri tayangan dan film yang kita tonton, seharusnya apapun film yang disaksikan tidak akan sampai merasuk ke kehidupan nyata. Kalau kita punya sensor mandiri, kita tidak akan tergerak melakukan hal yang menyimpang seperti yang terlihat pada adegan film yang kita tonton. Bukankah begitu?

Tentu, hal ini perkecualian bagi anak-anak dan remaja yang belum cukup dewasa. Anak dan remaja, dapat diasumsikan belum mampu memilah mana yang pantas dan mana yang tidak pantas ditiru. Itu jadi pekerjaan rumah tersendiri bagi para pembuat film dan juga bagi kita orangtua. Bertolak dari asumsi itupula, pendampingan anak saat menonton film dan tayangan televisi adalah hal mutlak yang harus dilakukan oleh kita, orangtua. Bahkan pada tayangan atau film yang diklaim untuk anak sekalipun. Apalagi, tayangan sinetron anak yang diproduksi belakangan. Biasanya akan selalu menampilkan anak yang jahat menindas anak lainnya. Menggunakan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh anak-anak. Tayangan macam begitu, meski diklaim sebagai tayangan anak, tetap tidak akan saya biarkan ditonton oleh anak saya. 

Bahkan bila anak saya menyaksikan tayangan kartun anak sejuta umat, seperti Upin & Ipin dan Doraemon pun, saya merasa tetap perlu mendampingi. Saya harus beritahu satu-satu, hal apa yang sepatutnya ditiru, apa yang tidak pantas diikuti. Pelajaran apa yang bisa dipetik dari tontonan itu, dan sebagainya. Bukan apa-apa, beberapa hal yang dilakukan tokoh kartun itu tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai yang ingin saya tanamkan ke anak saya. Selain itu, ini jadi cara saya untuk menanamkan budaya sensor mandiri

Lantas bagaimana cara kita, orang dewasa untuk mulai belajar sensor mandiri? Saran saya adalah cobalah untuk belajar mengambil jarak dengan film atau tayangan televisi yang Anda tonton. Tanamkan kesadaran bahwa apa yang terjadi di film adalah realitas media. Realitas media, adalah hal yang bisa kritisi, bisa kita pertanyakan bahkan bisa kita gugat. Jangan gunakan film sebagai alasan untuk membenarkan perbuatan jahat atau perilaku yang menyimpang. Sudah saatnya kita beranjak dari kebodohan. Alih-alih menelan mentah-mentah apa yang disajikan dalam film, kita seharusnya pandai menarik pelajaran, hikmah dari film yang kita tonton. Itu baru namanya penonton cerdas. #AyoSensorMandiri

2 komentar

  1. Toss dulu Mbak, saya juga generasi 90-an
    Wkwkwkw....

    Tuh gambar SUsannanya bikin ngeri.. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahah suzzanna mah emang jagonya film horror mbak. Dulu kalo ikut ntn mpe tutup muka.serem

      Hapus