Resah

2:27 AM

Belakangan saya sedang bingung menulis. Begitu banyak ide dan kata yang bersliweran di kepala, tapi tidak satupun bisa dituangkan. Jangankan untuk dituliskan, mau diucapkan saja rasanya sulit alang kepalang. Sepertinya ada yang tidak beres dengan kepala saya.

Dulu, menulis bukan hal yang sulit buat saya. Malah, kalau sudah mulai menulis rasanya susah berhenti. Sampai tangan pegal dan ujung pensil harus berkali-kali diraut. Dulu, setiap kata mengalir begitu saja, tertuang dalam selembar, bahkan berlembar-lembar kertas yang sekarang sudah terbang entah kemana. Dulu, rasanya saya menulis tanpa berpikir. Saya memang tidak pernah mengikuti aturan baku seperti yang dituliskan dalam buku-buku kesusastraan atau panduan menulis. Saya tidak mau repot membuat pikiran pokok tiap paragraf. Saya tidak sudi terbebani dengan nilai moral yang harus muncul dan bisa disimpulkan pembaca di akhir cerita. Saya tidak peduli. Saya hanya menulis apa yang sedang saya pikirkan saat itu. Itu saja.

Saya coba pikir-pikir lagi, apa yang salah dengan saya sekarang? Kenapa begitu sulit menumpahkan pikiran dalam tulisan. Apakah saya terlalu lelah dengan peran sebagai ibu rumah tangga? Apa otak saya makin tumpul karena pengaruh usia? Atau karena hari-hari saya tidak lagi dihiasi oleh diskusi-diskusi intelek seperti masa kuliah dulu. Atau saya terlalu terkontaminasi dengan tontonan televisi yang kurang bermutu. Ah, memang ada sejuta hal yang bisa saya salahkan untuk hal ini. Tapi, poin nya adalah saya perlu melatih otak saya lagi untuk berpikir runut dan kritis.

Jadi, dalam posting kali ini, saya tidak berniat untuk berbagi informasi atau pemikiran apapun. Saya hanya mau mengeluarkan uneg-uneg. Saya geram karena sekarang saya merasa tolol sekali. Pantas saja kalau saya sering merasa nggak nyambung saat diajak diskusi oleh suami. Duh maaf ya Romo...

Saya pikir-pikir lagi, apa ibu rumah tangga lain juga mengalami hal yang sama seperti yang saya alami sekarang? Akses pergaulan dan informasi yang jadi terbatas membuat pikir kita juga terbatas. Ah, seharusnya sih tidak begitu. Banyak juga ibu rumah tangga yang tetap cerdas, cergas dalam berpikir dan berpendapat. Tapi, ibu-ibu yang seperti itu selalu punya kehidupan lain diluar lingkaran domestik. Ya misalnya aktif di kegiatan sosial lah, bisnis lah, akademis lah. Pokoknya ibu-ibu itu hidupnya tidak melulu hanya di rumah ngurus cucian dan dapur.

Mungkin sekarang sudah waktunya saya kembali bergaul, keluar rumah. Menemui teman-teman lama, berdiskusi dan berdebat dengan teman-teman. Kembali membaca novel-novel berbobot seperti dulu. Atau saya harus mulai rutin menulis lagi..Kita lihat saja nanti

You Might Also Like

0 comments